Anggota DPRD dan Sekda DKI Cek Proyek MRT Lebak Bulus-Bundaran HI

1030 views

Rombongan anggota DPRD DKI Jakarta bersama Sekda DKI Saefullah meninjau proyek pembangunan MRT Jakarta Fase I Lebak Bulus-Bundaran HI, Senin (10/7/2017). Foto: Hary Lukita Wardani/detikcom

Jakarta – Rombongan anggota DPRD DKI Jakarta bersama Sekda DKI Saefullah meninjau proyek pembangunan MRT Jakarta Fase I Lebak Bulus-Bundaran HI. Mereka ingin mengetahui kemajuan proyek sepanjang 16 km ini.

“Kami datang ke sini untuk tahu implementasi MRT sampai di mana, kapan selesai, dan mengenai tiketnya. Kita nggak bisa memutuskan sendiri, butuh penjelasan simpel, padat, jelas,” ujar Ketua DPRD DKI Prasetyo Edi Marsudi kepada wartawan, Senin (10/7/2017).

Peninjauan proyek MRT dilakukan Wakil Ketua DPRD DKI M Taufik bersama sejumlah anggota DPRD, termasuk jajaran SKPD Pemprov DKI. Mereka tiba sekitar pukul 14.15 WIB di Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Menurut Prasetyo, pihak MRT meminta surat rekomendasi kepada DPRD DKI untuk penambahan dana Rp 2,5 triliun dan Rp 22,5 triliun untuk fase II. Nanti, dari hasil tinjauan lapangan, DPRD akan melakukan kajian untuk mengeluarkan surat rekomendasi kepada pihak MRT.

“Ya setelah kita evaluasi kan melihat apa sih yang dikerjakan dan mereka kan meminta bantuan kepada kita ada dua tahapan itu ya. Kita kan harus tahu juga karena dana yang dikeluarkan nggak kecil juga. Artinya, rekomendasi ini kita keluarkan setelah kita lihat lapangannya. Implementasi dan pembangunannya ada yang berkendala, tapi sudah dibereskan dengan MRT,” ucap Prasetyo.

Dia memastikan, dalam waktu dekat, DPRD dapat memberi rekomendasi penambahan dana untuk MRT.

“Secepatnya nanti kita rapat lagi dengan MRT di DPRD DKI, nanti kita tanyakan dengan detail. Ini kan buat kebaikan masyarakat juga, saya rasa ini kita akan keluarkan rekomendasi,” tutur Prasetyo.

PT MRT Jakarta sebelumnya mengusulkan dana tambahan sebesar Rp 2,5 triliun. Dana ini diperuntukkan bagi peningkatan standar konstruksi tahan gempa.

Perubahan nominal kebutuhan anggaran ini terkait dengan standar nasional yang baru, yakni SNI 2012. Sedangkan saat proyek MRT diteken, SNI yang digunakan masih tahun 2002.
(lkw/fdn)

Bisnis Ekonomi Indonesia Jakarta

Related Post

Leave a reply