Indonesia yang terkoyak, (Aram gara-gara Garam)

420 views

Aram Gara-gara Garam
Oleh Indra Hidayat

Luas perairan Indonesia mencapai 65% dari total semua wilayah yang dimiliki. Persentase itu disimpulkan dari hasil olahan data bahwa luas daratan Indonesia sebesar 1,9 juta kilo meter persegi, sementara luas lautannya mencapai 3,5 juta kilo meter persegi. Itu artinya hanya 35% dari wilayah Indonesia yang terdiri dari daratan sementara sisanya adalah lautan yang terbagi-bagi menjadi laut teritorial, ZEE, dan laut lainnya.

Laut yang segitu luasnya menjanjikan kelimpahan hasil dan potensi energi yang digdaya. Betapa tidak, segala jenis makhluk laut bisa tumbuh kembang di negara Indonesia tanpa harus khawatir akan kehilangan pasokan
makanannya. PLTA-PLTA akan sangat mudah mencari sumber air sebagai pasokan utama untuk pembangkit listrik. Pun demikian air laut yang terkenal akan rasa asinnya menjadi sumber utama untuk pembuatan segala jenis garam.

Melihat potensi Indonesia yang begitu kaya raya, rasanya heran kalau rakyatnya selalu dirundung kemiskinan dan kelaparan. Rakyat bisa bergerak dengan produktif dalam segala bidang kerja. Terlebih lagi pemerintah yang
notabenenya menjadi pengayom, pemelihara dan pengatur jalannya semua roda kehidupan rakyat, semestinya tidak kehilangan akal untuk memberikan pelayanan terbaik. Artinya alangkah lucunya negara menjadi miskin di tengah
kelimpahan sumber daya.

Seisi Nusantara hari ini heboh dengan warta kelangkaan garam. Barang yang seharusnya menjadi komoditas berkualitas Indonesia harus raib dari kebanyakan tempat. Lalu informasi yang berlanjut, harga garam mulai
merangkak naik hingga melambung lebih dari satu kali lipatnya. Berikut diikuti oleh berita susulan wacana impor garam, dari luar negeri tentunya.

Mengapa keadaan Indonesia bisa terkoyak di tengah peradaban yang melejit? Hadirnya teknologi semestinya menambah kemudahan dalam memperoleh dan mengupgrade produktivitas. Toh demikian ketersediaannya malah menunjukkan ketidaksiapan dalam menjawab segala kebutuhan.

Di balik santernya berita kelangkaan garam disertai dengan melambungnya harga di pasar menyimpan rasa kecewa yang mendalam terhadap aparatur negara. Kenyataan yang pahit diterima sebab kita hidup di negara maritim
hebat dan tiada saingannya, juga pada akhirnya harus mengenduskan isu impor garam. Ini pun tidak jauh berbeda ketika Indonesia dikabarkan langka beras lalu harus membeli beras dari luar.

Wajarlah kiranya insan media sosial menanyakan, di peta negara penuh dengan warna biru. Mereka ingin memastikan warna biru di peta itu menunjukkan warna laut atau Padang pasir? Kalau memang iya padang pasir, maka wajarlah kalau kebijakan itu diterapkan.

Tapi meskipun demikian, cukuplah pada saat kelangkaan beras lahir beras plastik. Masa ia garam langka harus hadir yang namanya garam plastik? Apa perlu menghadirkan garam yang kayak ada manis-manisnya juga? Ah, mengapa
Indonesia menjadi aram gara-gara garam?

Indonesia Jaya Merdeka Murung

Related Post

Leave a reply