Sebuah tulisan berjudul “Warisan” Agustus telah berlalu

426 views

Merah Putih masih dalam kibaran walau agustus telah berlalu

Warisan;

Oleh Indra Hidayat

Aku dilahirkan di Indonesia. Negara yang penuh dengan kekayaan dan keistimewaan. Karena kekayaan itulah banyak orang dari negara lain tergiur dan terbetik untuk melirik. Ah, rupanya bukan sekadar lirikan yang negaraku
rasa, tetapi juga jajahan. Negaraku kemudian menjadi negara terjajah, dan itu menjadi warisan yang berabad lamanya. Rakyatnya porak-poranda, terkoyak-koyak dan tidak mengerti akan nasib di kemudian hari.

Negaraku Indonesia, negara dengan sematan nama sejak 17 Agustus 1945 pukul 10.00. Yang sebelumnya adalah kesatuan Nusantara dengan sistem kesultanan yang berjejer di sepanjang pulau dan daratan. Berabad lamanya Nusantaraku mewariskan nama itu dan kokoh di atas kekuatan kerajaan yang saling terikat
batin satu sama lain.

Negaraku adalah Indonesia, negara yang digadang merdeka namun penuh bubuhan episode kepedihan, kekerasan dan pemaksaan. Sejarah telah bercerita, kedatangan tamu tanpa undangan dengan misi 3G (Gold, Glory, Gospel) telah mampu mewariskan perbudakan dan penghinaan yang tiada tara. Isi alam negaraku direnggut, alat tukar emas dan perak masyarakatku diubah dengan kertas bergambar tokoh sanjungan, kemudian semua itu terwariskan hingga
lama. Setelah itu masyarakatku baru sadar, rupanya mereka menjadi korban pembodohan. Namun negaraku bukanlah negara yang hanya pandai menyesal. Gerakan semangat merdeka yang dipelopori oleh orang-orang berjubah dan berjenggot itu mampu membuncahkan semangat dalam jiwa. Mereka melakukan
perlawanan dengan segala daya upaya yang dimiliki. Kemudian itu terus diwariskan hingga negaraku mampu keluar sebagai pemenang.

Hari ini banyak dari cucu negaraku terlena dengan hal itu semua. Mereka menggambarkan seakan negara ini tidak pernah merasakan peluhan keringat dan darah. Sehingga wajar untuk mereka, segala bentuk kobaran, semangat,
teriakan dan apapun itu akan menjadi kutil yang mengganggu.

Hari ini mereka lantang menyuarakan toleransi dengan meninggalkan asas agama, beragama kasih dengan meninggalkan aturan Tuhan, serta membangun saudara dalam perbedaan dengan melukai hati saudara dalam persamaan.

Mereka mau berkilah dengan kalimat justifikasi untuk menggolkan sebuah konsep, tetapi mereka lupa bahwa sebenarnya konsep yang sudah pernah ada justru lebih berkesan dan hebat.

Kembali kumengorek sejarah, komposisi Nusantara dengan kesultanan besar dan jaya memberi peluang Islam sebagai rahmatan lil alamin hingga menoreh angka sembilan puluh sembilan persen. Satu persen yang tersisa adalah milik mereka yang Hindu, Budha dan animisme. Mereka hidup di atas nilai-nilai toleransi yang sebenarnya. Sebagai mayoritas tidak menggunakan kesewenangan untuk menindas, juga sebagai minoritas tidak menggunakan keterpurukan untuk beranekdot. Damai tiada terkira tentunya tanpa harus mencampur ibadah
antaragama.

Kemudian tamu tidak diundang itu datang dengan sistem pemaksaan, politik licik dan cara-cara aneh dengan membagi sembako gratis dan sejenisnya, mampu menyeret masyarakat paling toleran ke dalam jalan hidup mereka.
Hal-hal semacam itupun masih diwariskan hingga mampu menurunkan populasi Islam hingga delapan puluhan persen.

Tidak kubayangkan, sejak hari ini hingga seterusnya, cara kotor nan jijik ini dibiarkan. Ia akan terus diwariskan hingga tiada lagi ketenangan dalam hidup.

Bukankah Pancasila yang disusun diperbaiki, kemudian diperbaiki dan kemudian diperbaiki lagi itu sudah mengamanahkan akan pentingnya menjaga lima butir isinya? Kadang aku bergumam, sebenarnya siapa yang ‘benar’
menjalankan ‘nilai Pancasila’ dan siapa yang sedang berbangga menjadigolongan ‘hipokriter Pancasila’?

Aku hanya khawatir, ini akan terus menjadi warisan hingga kita tidak tahu mana sebuah kesungguhan dan mana sebuah pembodohan.

Referensi, khutbah Jum’at penuh inspirasi (Ustadz M. Al-Haq)

 

17 Agustus Indonesia Kemerdekaan

Related Post

Leave a reply