“Nggusu Ini dalam Harapan” (Sebuah Catatan untuk Pilkades)

349 views

“Nggusu Ini dalam Harapan” (Sebuah Catatan untuk Pilkades)

 

Oleh: Sugerman, S. Pd., M. Pd.
(Dosen STKIP Yapis Dompu)
email: sugerman.erman@gmail.com

Seseorang yang diamanahkan untuk menjadi seorang pemimpin haruslah memiliki kompetensi tertentu dan setelah menjadi pemimpin, dia harus memelihara dan meningkatkan kompetensi tersebut. Kompetensi yang dimaksud menurut Mukhlis (2011) yaitu (1) trilogi ilmu, akal, dan adil; (2) trilogi iman, takwa, dan haya’. Kompetensi tersebut menurut hemat penulis dapat disamakan dengan pernyataannya Ary Ginanjar tentang trilogi kecerdasan yaitu kecerdasan intelegensi, emosional, dan spiritual.

Tiga unsur dalam trilogi pertama dapat dilihat sebagai kompetensi praktis- pragmatis; dan trilogi kedua dapat disebut sebagai kompetensi spiritual (bukan ritual). Tiga unsur dalam masing-masing kompetensi tersebut harus saling terjalin secara integral. Pada tahap selanjutnya antara kedua trilogi tersebut juga harus terjalin secara integral. Ini berarti bahwa, satu kompetensi tidak mempunyai manfaat apa-apa bahkan menyebabkan kemudaratan bila tidak dipadu dengan trilogi lainnya.  Menurut Mukhlis (2011) keterjalinan interen antara dual trilogi dapat diuraikan sebagai berikut.

…. “Dari karena segala raja-raja itu tiada jadi kerajaan melainkan dengan bernaung di bawah hadirat Allah Ta’ala jua dengan sebaik-baik mengejarkan segala amar Allah Ta’ala dan menjauhkan segala maksiat daripada hal kelebihan ilmu, akal, dan adil. Maka jika kurang satu daripada tiga perkara itu, tiada tetap akan mengerjakan amar Allah Ta’ala dan dapat ia  menjauhkan-Nya. Maka di dalam tiga perkara yang telah tersebut itu tiada jadi apabila tiada iman, takwa, dan haya’ artinya percaya, takut, dan malu. Maka apabila tiada ada akan seorang raja atau yang bukan raja itu jika ada akal padanya tiada betul jika tiada imannya. Jika ada ilmu padanya tiada diamalkan, jika tiada takwanya. Jika ada padanya adil apabila tiada haya’-nya maka bukan tempatnya yang ditempatinya artinya bukan ia adil hukum syara’ Allah Ta’ala, dia hanya adil dengan kira-kira sendirinya juga daripada tiada ada haya’ padanya”.

1. Kompetensi Praktis-Pragmatis

Kompetensi praktis-pragmatis dalam tipologi kepemimpinan tersebut merupakan sebuah unsur yang harus menyatu. Ketika pemimpin hanya mempunyai ilmu tanpa akal yang bijak untuk menjadikan jabatan sebagai amanah, maka kepemimpinan tersebut akan dijalankan dengan kekuasaan semata. Namun, ketika pemimpin tersebut dapat menggunakan llmu dan akalnya sebagai landasan dalam setiap kebijakannya, maka kesejahteraan itu akan selalu bersama dengan masyarakat yang dipimpinnya. Kompetensi selanjutnya diharapkan dalam kepemimpinan adalah keadilan. Ditinjau dari secara bahasa, kata keadilan merupakan kata sifat, namun kalau ditinjau dari segi politik kata keadilan merupakan kata kerja. Keadilan memiliki sifat konkret yang harus diemban setiap pemimpin yang ada. Keadilan itu harus ada nilai pemerataan dan nilai proporsional pada yang dipimpinnya baik pemerataan dan proporsional dalam segi pembangunan baik fisik maupun non-fisik. Dengan demikian, keadilan yang diharapkan sesuai amanat Pancasila butir (5) yang berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, tetapi dalam konteks desa, saya plesetkan menjadi “Keadilan lahir batin bagi seluruh warga desa”.

2. Kompetensi Spiritual

Kompetensi spiritual dalam tipologi kepemimpinan kedua merupakan sesuatu yang bersifat ketuhanan. Sebagai masyarakat yang berketuhanan sesuai dengan amanat Pancasila butir (1) “Ketuhanan yang Maha Esa”. Maka segala sesuatu harus dijalankan dengan nilai-nilai ketuhanan. Sebagai pemimpin yang beriman, harus memiliki kepercayaan dan keyakinan kepada tuhan sehingga dapat dimanifestasikan dalam mengemban amanah kepemimpinan. Jika kita percaya bahwa tuhan itu ada, maka kita akan takut dan malu untuk membuat kebijakan yang tidak sesuai dengan kepentingan masyarakat. Prinsip dasar dari trilogi kepemimpinan ini yaitu percaya, takut, dan malu.

3. Kompetensi Praktis-Pragmatis dan Spiritual

Kedua kompetensi tersebut merupakan suatu kompetensi yang harus menyatu. Banyak pemimpin yang berilmu tetapi tidak mempunyai iman, taqwa, dan haya’. Ketika suatu bangsa, daerah, dan desa mempunyai pemimpin yang hanya memiliki kecerdasan intelegensi (kompetensi praktis-pragmatis), tetapi tidak memiliki kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual (kompetensi spiritual) maka pemimpin tersebut akan menjadikan kepemimpinannya sebagai lahan untuk meraih kekuasaan dan uang. Namun, apabila pemimpin suatu daerah memiliki kedua kompetensi tersebut, maka kesejahteraan, keadilan, dan ketenangan lahir batin akan selalu bersama masyarakat.

Bersih Desa Dompu Paragmatis Pemimpin Pilkades Politik Spiritual

Related Post

Leave a reply