Benarkah Kondisi Makro Ekonomi Dompu Positif? (1)

1599 views

Oleh Dodo Kurniawan

(Mahasiswa Program Doktor Univ. Brawijaya/ Dosen STIE-STKIP YAPIS Dompu)

Berbicara kondisi Makro (secara agregat) Ekonomi, maka secara umum terdapat 5 indikator kunci yang menentukan baik atau buruknya kinerja ekonomi suatu  daerah. Adapun lima indikator tersebut terdiri dari Pertumbuhan ekonomi, Penyerapan tenaga kerja, inflasi, kemiskinan dan ketimpangan. Agar kita dapat memahami satu persatu indikator-indikator tesebut, maka saya akan menguraikannya secara rinci sebagai berikut;

Pertumbuhan Ekonomi

Memang pertumbuhan ekonomi hanya mencatat peningkatan produksi barang dan jasa secara nasional, regional dan daerah, sedang pembangunan berdimensi lebih luas dari sekedar peningkatan pertumbuhan ekonomi (Kuncoro, 2009).

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), pada umumnya digunakan sebagai indikator baik buruknya perekonomian suatu daerah  dan sebagai tolak ukur kesejahteraan masyarakat (Kuncoro. 2013).  PDRB memberikan informasi yang mendalam yang dapat digunakan untuk memproyeksi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Seperti informasi tentang kinerja ekonomi dan bagaimana produksi atau pendapatan dihasilkan dan pengeluaran dialokasikan. PDRB ditujukan untuk mengukur kesejahteraan materi namun juga mengukur produktivitas sebuah daerah.

PDRB merupakan nilai moneter dari seluruh produksi barang jadi yang diproduksi dalam suatu daerah pada periode tertentu. Adapun PDRB biasanya dihitung dalam periode tahunan (Investopedia, 2012). Dalam ekonomi makro, pengertian PDRB terbagi menjadi dua (Mankiw, 2007), yaitu: seluruh pengeluaran untuk barang jadi dan jasa yang diproduksi dalam suatu daerah; atau seluruh pendapatan yang dihasilkan oleh seluruh pemilik faktor produksi dalam suatu daerah.

Dalam konteks kondisi makro ekonomi Dompu kita dapat melihat kinerja perekonomiannya melalui data pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang setiap tahunnya dirilis oleh badan pusat statistik (BPS). Disinalah kita bisa melihat bagaimana kondisi makro suatu perekonomian.  Agar kita mengetahui “Apakah Benar Kondisi Makro Ekonomi Kabupaten Dompu Positif?. Mari kita bedah bersama-sama!.

Analisis Perumbuhan Ekonomi dan Pendapatan Per Kapita

Berdasarkan data PDRB kabupaten Dompu dan PDRB Provinsi NTB yang saya olah dengan membandingkan tingkat pertumbuhan ekonomi dan tingkat pendapatan per kapita tahun 2011-2015. Terungkap bahwa  pertumbuhan ekonomi kabupaten Dompu cenderung terus mengalami pertumbuhan yang Negatif, pada tahun 2011 pertumbuhan ekonomi kabupaten Dompu sebesar 7,20 persen, dan pada tahun 2015 petumbuhan ekonomi kabupaten Dompu mengalami penurunan menjadi 5,49 persen (turun  1,71 persen). Namun bila dilihat dari sisi pendapatan perkapita dari tahun ketahun mengalami pertumbuhan positif, tercatat pada tahun 2011 pendapatan perkapita masyarakat kabupaten Dompu hanya sebesar 13,79 juta dan pada tahun 2015 naik menjadi 17,51 juta.

Hal sebaliknya terjadi pada pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB. Dari tahun ke tahun mengalami pertumbuhan yang positif, pada tahun 2011 pertumbuhannya (-3,91) persen namun pada tahun 2015

pertumbuhan meningkat sangat tajam sebesar 21,24 persen. Pada sisi pendapatan perkapitapun Provinsi NTB terus mengalami peningkatan. Tercatat pada tahun 2011 pendapatan perkapita masyarakat NTB hanya 14,80

juta, meningkat tajam pada tahun 2015 menjadi 21,26 juta.

Analisis Tipologi daerah

Bila dilakukan analisis tipologi daerah.  Analisis tipologi dilakukan untuk mengetahui gambaran tentang pola dan struktur pertumbuhan ekonomi di daerah dengan membandingkan tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita antara daerah dengan provinsi. Maka kita dapat melihat berdasarkan data pada grafik di atas, bahwa kabupaten Dompu selama tiga tahun yakni tahun 2011, 2012 dan 2014 berapa pada tipologi Daerah berkembang cepat (dimana kabupaten Dompu memiliki tingkat pertumbuhan tinggi tetapi tingkat pendapatan perkapita relatif rendah dari Provinsi), walaupun pada tahun 2013 sempat berada pada daerah tipologi Daerah maju tapi tertekan (dimana kabupaten Dompu memiliki tingkat pendapatan perkapita tinggi, tetapi tingkat pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari provinsi), namun sangat disayangkan pada tahun 2015 kabupaten Dompu mengalami kemunduran sehinggan berada pada daerah dengan tipologi Daerah relatif tertinggal (dimana tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita lebih rendah dari Provinsi).

 Analisis keterkaitan ekonomi

Analisis ini menggambarkan hubungan antara perekonomian daerah dengan lingkungan sekitarnya dengan menggunakan analisis Shif-Share. Pada dasarnya analisis Shif-Share menggambarkan kinerja dan produktivitas sektor-sektor dalam perekonomian daerah dengan membandingkan kinerja sektor di wilayah yang lebih besar (provinsi).

Berdasarkan hasil olah data menjukkan bahwa (1) dampak pertumbuhan ekonomi (Nij) provinsi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah menunjukan hubungan yang positif dengan kontribusi sebesar Rp. 1, 08 milliar. Disisi pergeseran proporsional (Mij) menunjukkan perekonomian daerah kita terkonsentrasi pada industri-industri yang tumbuh lebih cepat di bandingkan dengan perekonomian yang dijadikan acuan, hal terlihat dari hubungannya yang positif dengan memberikan kontribusi sebesar Rp. 1,08 milliar, sedang dari pergeseran diferensial (Cij) menunjukan hubungan yang negatif dengan kontribusi genatif sebasar Rp. -339,13 juta, hal ini berarti menggambarkan bahwa industri daerah kita belum mampu bersaing dengan industri yang berada di tingkat provinsi.

Menurut  Arsyad (2010) Ada empat faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu daerah yaitu:

Akumulasi modal, termasuk semua investasi baru yang berwujud tanah (lahan), peralatan fisik (mesin-mesin) dan sumber daya manusia (human resources)

Akumulasi modal akan terjadi jika ada bagian dari pendapatan pada masa sekarang yang ditabung dan kemudian diinvestasikan untuk dapat memperbesar output pada masa yang akan datang. Pabrik-pabrik, mesin-mesin, peralatan-peralatan, dan barang-barang baru akan meningkatkan stok modal (Capital stock) fisik baru suatu daerah (yaitu jumlah nilai rill bersih dari semua barang-barang modal produktif secara fisik) sehingga pada gilirannya akan memungkin suatu daerah tersebut untuk mencapai tingkat output yang lebih besar. Investasi jenis ini sering diklasifikasikan sebagai investasi di sektor produktif. Investasi-investasi lainnya dikenal dengan sebutan infrastruktur sosial dan ekonomi yaitu jalan raya, listrik, air, sanitasi dan komunikasi akan mempermudah dan mengitegrasikan kegiatan-kegiatan ekonomi.

Selain itu, ada juga jenis investasi tidak langsung. Pembangunan fasilitas-fasilitas irigasi akan dapat memperbaiki kualitas lahan pertanian melalui peningkatan produktivitas  per hektar. Sama halnya dengan investasi tidak langsung, investasi pada modal insani (Human capital investment) juga dapat memperbaiki kualitas sumberdaya manusia juga akan mempunyai pengaruh yang sama atau bahkan lebih besar terhadap kapasitas produksi.

Semua jenis investasi di atas akan mendorong terciptanya akumulasi modal yang positif. Adanya akumulasi modal akan mampu menambah “ketersedian” sumberdaya-sumberdaya baru.

Pertumbuhan penduduk

Pertumbuha penduduk dan hal-hal yang berhungan dengan kenaikan jumlah angkatan kerja (labor force) secara tradisional dianggap sebagai faktor yang positif dalam merangsang pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut berarti: (1) semakin banyak jumlah angkatan kerja berarti semakin banyak pasokan tenaga kerja, dan (2) semakin banyak jumlah penduduk akan meningkatkan potensi pasar domestik.

Namun, yang perlu dipertanyakan adalah: “apakah peningkatan penawaran tenaga kerja yang cepat akan berpengaruh positif atau negatif terhadap kemajuan ekonomi?”. Jawabanya tergantung pada kemampuan sistem ekonomi  tersebut dalam menyerap dan mempekerjakan tambahan tenaga kerja tersebut secara produktif. Kemampuan tersebut tergantung pada tingkat dan jenis akumulasi modal serta tersedianya factor-faktor lain yang dibutuhkan, seperti misalnya keahlian manjerial dan admistratif.

Kemajuan teknologi

Menurut para ekonom, kemajuan teknologi merupakan faktor yang paling penting bagi pertumbuhan ekonomi. Dalam bentuknya yang paling sederhana, kemajuan teknologi disebabkan oleh adanya cara-cara baru atau mungkin cara-cara lama yang diperbaiki dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan tradisional, seperti cara menanam padi, membuat pakaian, atau membangun rumah. Ada tiga macam klasifikasi mengenai kemajuan teknologi yaitu: (1) kemajuan teknologi yang bersifat netral, (2) kemajuan teknologi yang bersifat menghemat tenaga kerja (labor saving) dan (3) kemajuan teknologi yang bersifat menghemat  modal (capital saving)

Sumberdaya institusi (sistem kelembagaan)

Menurut  Douglas C. North (1991) dalam (Arsyad. 2010) – pemenang Nobel Ekonomi 1993- anggapan sebagian besar ekonom arus utama (mainstream)  selama ini bahwa mekanisme pasar merupakan penggerak utama perekonomian dan menafikan peran institusi adalah keliru. Menurut  Nort peran institusi dalam pertumbuhan dan pembangunan ekonomi sangat sentral. Pengertian institusi yang dimaksudkan oleh North adalah aturan-aturan yang mengatur interaksi politik, ekonomi, dan sosial. Studi yang dilakukan oleh Scully (1988) dalam (Arsyad. 2010) menemukan korelasi yang positif antara variable kelembagaan dengan pertumbuhan ekonomi.

Menurut Rodrik et al (2000) ada empat fungsi institusi dalam kaitanya dengan mendukung kinerja perekonomian yaitu: (1) menciptakan pasar, (2) Mengatur pasar, (3) menjaga stabilitas, dan (4) melegitimasi pasar.

Bersambung……………………………………………………………………………..

Benarkah. Dompu Makro Ekonomi Positif

Related Post

Leave a reply