BENARKAH Kondisi MAKRO EKONOMI Dompu Positif? (2)

778 views

Oleh Dodo Kurniawan

(Mahasiswa Program Doktor FEB. Univ. Brawijaya/ Dosen STIE-STKIP YAPIS Dompu)

Pada tulisan edisi sebelumnya (24/11) kita sudah membedah satu indikator ekonomi makro yakni Pertumbuhan Ekonomi. Oleh karenanya pada tulisan ini saya akan membahas satu indikator lagi yaitu Penyerapan tenaga kerja. dan Bagaimanakah hubungan Pengangguran dan Pertumbuhan Ekonomi?.

Berbicara tentang penyerapan tenaga kerja sangat erat kaitan dengan masalah pengangguran, ketenagakerjaan dan kependudukan. Dalam studi kependudukan (demografi), ada beberapa konsep/ definisi ketenagakerjaan yang digunakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai penyedia data ketenagakerjaan di Indonesia merujuk pada rekomendasi International Labor Organization (ILO) (Hussmans. 1990) dalam Kuncoro (2013).

Definisi mengenai ketenagakerjaan menurut (BPS, 2012; Hussmanns, 1990) dapat dipahami sebagai berikut:

Penduduk adalah semua orang yang berdomisili di wilayah geografis Republik Indonesia selama enam bulan atau lebih dan atau mereka yang berdomisi kurang dari 6 bulan tetapi bertujuan untuk menetap. Penduduk usia kerja adalah penduduk yang berusia di atas 15 tahun. Penduduk yang aktif secara ekonomi terdiri dari dua kelompok, yaitu: penduduk yang berkeja memproduksi barang dan jasa dalam perekonomian; kedua, penduduk yang belum bekerja, tetapi sedang aktif mencari kerja (termaksud mereka yang baru pertama kali mencari pekerjaan). Penduduk yang tidak aktif secara ekonomi adalah mereka yang tidak bekerja atau tidak sedang mencari pekerjaan. Kelompok ini tidak memproduksi barang dan jasa, dan hanya mengkonsumsi barang dan jasa yang diproduksi orang lain (LDFUE, 2011).

Usia Kerja adalah penduduk Indonesia yang menggunakan batas bawah usia kerja 15 tahun dan tanpa batas usia kerja. Penduduk usia kerja dibagi menjadi dua kelompok besar, yakni angkatan akerja dan bukan angkatan kerja. Konsep angkatan kerja merujuk pada kegiatan utama yang dilakukan oleh penduduk usia kerja selama periode tertentu.

Angkatan kerja adalah penduduk usia kerja yang bekerja, atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja, dan penganggur. Angkatan kerja terbagi menjadi dua yakni bekerja dan menganggur atan mencari pekerjaan.

Bekerja didefinisikan sebagai kegiatan ekonomi yang dilakukan seseorang dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan selama paling sedikit 1 jam secara tidak terputus selam seminggu yang lalau. Kegiatan bekerja ini mencakup, baik yang sedang bekerja maupun yang punya pekerjaan tetapi dalam seminggu yang lalu sementara tidak bekerja, misalnya karena cuti, sakit dan sejenisnya.

Bukan angkatan kerja adalah penduduk usia kerja yang tidak termaksud angkatan kerja mencakup penduduk yang bersekolah, mengurus rumah tangga atau melaksanakan kegiatan lainnya.

Pengangguran adalah mereka yang sedang mencari pekerjaan, atau mereka yang mempersiapkan usaha, atau mereka yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mengkin mendapatkan pekerjaan ( sebelumnya dikategorikan sebagai bukan angkatan kerja), dan mereka yang sudah punya pekerjaan tetapi belum memulai pekerjaan ( sebelumnya dikategorikan sebagai bekerja), dan pada waktu yang bersamaan mereka tak bekerja. Penganggur dengan konsep tersebut biasanya disebut sebagai penganggur terbukan (open Unemploymentz).

Setengah Penganggur merupakan penduduk yang bekerja kurang dari jam kerja normal (kurang dari 35 jam seminggu, tidak termasuk yang sementara tidak bekerja) dikategorikan sebagai stengah penganggur. Setengah Penganggur Terpaksa adalah mereka yang bekerja di bawah jama kerja normal (kurang dari 35 jam seminggu), dan masih mencari pekerjaan atau masih bersedia menerima pekerjaan. Setengah Penganggur Sukarela adalah meraka yang bekerja di bawah jam kerja (kurang dari 35 seminggu), tetapi tidak mencari pekerjaan atau tidak bersedia menerima pekerjaan lain (sebagian pihak menyebutkan sebagai pekerja paruh waktu atau par time moker)

Jumlah jam kerja adalah jumlah kerja seluruhnya yang dilakukan oleh seseorang (tidak termasuk jam istirahat resmi dan jam kerja yang digunakan untuk hal-hal di luar pekerjaa) selama seminggu yang lalu.

Menurut Kuncoro (2010) dan BPS (2017) indikator yang menggambarkan situasi ketenagakerjaan suatu Negara atau daerah, yaitu;

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)

TPAK merupakan suatu ukuran proposi pendudk usia kerja yang terlibat secara aktif dalam pasar tenaga kerja baik yang bekerja maupun sedang mencari  pekerjaan. TPAK diukur sebagai persentase jumlah angkatan kerja terdahap jumlah penduduk usia kerja.

Indikator ini dapat mengindikasikan besaran ukuran relatif penawaran tenaga kerja (labour supply ) yang dapat terlibat dalam produksi barang dan jasa dalam suatu perekonomian. Secara umum, TPAK didefinisikan sebagai ukuran yang menggambarkan jumlah angkatan kerja untuk setiap 100 penduduk usia kerja.

Dari data Ketenagakerjaan BPS Kabupaten Dompu 2017 (https://dompukab.bps.go.id), menunjukan bahwa Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)  Kabupaten Dompu atau dengan lain kata proposi penduduk usia kerja yang terlibat secara aktif dalam pasar tenaga kerja baik yang bekerja maupun sedang mencari  pekerjaan mengalami fluktuatif. Pada tahun 2010 TPAK sebesar 64,21 persen, menurun di tahun 2011 sebesar 61,90 persen, meningkat lagi di tahun 2012 sebesar 64,26. dan kembali mengalami penurunan selama dua tahun menjadi 59,36 persen di tahun 2013 dan 56,93 persen tahun 2014, kemudian kembali meningkat pada tahun 2015 sebesar 64.00 persen.  Tetapi secara umum TPAK Kabupaten Dompu mengalami stagnan dan cenderung menurun. Dimana pada tahun 2010 TPAK sebesar 64,21 persen sedangkan sampai tahun 2015 TPAK sebesar 64,00  persen dengan rata-rata TPAK selama 6 tahun sebasar 61,77 persen. Ini menunjukan bahwa selama 6 tahun terakhir hampir tidak ada peningkatan penawaran tenaga kerja (labour supply ) yang dapat terlibat dalam produksi barang dan jasa.

Angka Penyerapan Angkatan Kerja (Employment Rate)

Angka penyerapan angkatan kerja (APAK) adalah angka yang menunjukan berapa banyak dari jumlah angkatan kerja yang menyatakan sedang bekerja pada saat pencacahan.

Berdasarkan data Ketenagakerjaan BPS Kabupaten Dompu 2017 (https://dompukab.bps.go.id) tentang Penduduk usia 15 tahun keatas yang bekerja menurut lapangan usaha pada jenis kelamin laki-laki sejak tahun 2011-2015, secara total sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan sebanyak 142.513 jiwa pada urutan pertama, disusul sektor Jasa-Jasa sebanyak 56.966 jiwa pada urutan kedua dan urutan ketiga ditempati sektor Perdagangan, Restoran dan Akomodasi sebanyak 20.626 jiwa. Sektor yang paling sedikit menyerap tenaga kerja laki-laki adalah sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih yang hanya menyerap tenaga kerja sebanyak 591 jiwa, disusul sektor keuangan dan persewaan sebanyak 1.484 jiwa.  Total tenaga kerja laki-laki yang terserap selama 5 tahun sebanyak 287.036 jiwa.

Pada Jenis Kelamin Perempuan mengalami sedikit perubahan struktur seperti halnya pada jenis kelamin laki-laki. Berdasarkan data Penduduk usia 15 tahun keatas yang bekerja menurut lapangan usaha pada jenis Perempuan sejak tahun 2011-2015, secara total sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja masih ditempati sektor Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan sebanyak 65.682 jiwa pada urutan pertama, disusul Perdagangan, Restoran dan Akomodasi sebanyak 62.764 jiwa pada  urutan kedua dan sektor Jasa-Jasa sebanyak 48.089 jiwa pada urutan ketiga. Sektor tidak memiliki tenaga kerja perempuan adalah sektor Listrik, Gas dan Air Bersih, dan sektor kontruksi. Total tenaga kerja Perempuan yang terserap selama 5 tahun sebanyak 194.107 jiwa.

Setelah ditotal antara penyerapan tenaga kerja Laki-laki dan perempuan, menunjukan bahwa sektor yang paling banyak meyerap tenaga kerja di kabupaten Dompu adalah sektor pertanian, perkebunan dan kehutanan yakni sebesar 185.785 jiwa, disusul sektor perdagangan dan persewaan sebanyak 178.089 jiwa pada urutan kedua dan sebanyak 137.037 jiwa diserap oleh sektor jasa-jasa pada urutan ketiga. Data ini menunjukan bahwa struktur lapangan kerja di kabupaten Dompu masih sangat tergantung pada sektor primer dan disusul oleh sektor sekunder dan tesier.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)

Indikasi tentang penduduk usia kerja yang termasuk dalam kelompok pengangguran diukur dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT).  Tingkat pengangguran terbuka diukur sebagai  persentase jumlah peangannguran terhadap jumlah angkatan kerja.

Kegunaan dari indikator pengangguran terbuka ini baik dalam suatu unit (orang) maupun persen berguna sebagai acuan pemerintah bagi pembukaan lapangan kerja baru. Selain itu, perkembangannya dapat menunjukan keberhasilan program ketenagakerjaan dari tahun ketahun.yang lebih utama lagi indikator ini digunakan sebagai bahan evaluasi keberhasilan pembangunan perekonomian  selain angka kemiskinan.

Berdasarkan data Ketenagakerjaan BPS Kabupaten Dompu 2017 (https://dompukab.bps.go.id) Tingkat Pengangguran Terbuka dapat dilihat bahwa tidak banyak mengalami perubahan yang menggembirakan. Hal ini dikarenakan persentase tingkat pengangguran terbuka dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan.

Pada tahun 2011 tingkat pengangguran terbuka hanya sebesar 4,71 persen, meningkat pada tahun 2013 menjadi sebesar 5,04, puncak peningkatan TPT terjadi pada tahun 2014 sebesar 6,51 persen. Walaupun sebenarnya selam 6 tahun TPT tidak terlalu mengalami perubahan nyata, hal ini terlihat pada tahun 2010 TPT sebedar 5,31 hingga tahun 2015 TPT masih tetap diangka 5,56 persen.

Data di atas menunjukan bahwa usaha Pemerintah Kabupaten Dompu melalui berbagai program dan kebijakan untuk membuka lapangan kerja baru tidak terlalu banyak berpengaruh pada TPT. Mengapa demikian? Karena program yang diupayakan dalam menurunkan tingkat pengangguran terbuka cenderung hanya sporadis dan musiman, dengan lain kata tidak berlanjutan yang membuat tenaga kerja tetap terserap. oleh karena itu pemerintah kabupaten Dompu perlu mengkaji lebih dalam apa langkah atau kebijakan yang tepat dalam mengurangi TPT ini.

Pertanyaan pentingnya adalah Bagaimanakah hubungan Pengangguran dan Pertumbuhan Ekonomi?. Mari kita simak bersama-sama!

Secara teoritis, pertumbuhan ekonomi dan pengangguran memiliki hubungan yang erat. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan menciptakan sebuah skema pengurangan angka pengangguran. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi diharapkan akan menciptakan pertumbuhan output, sehingga dibutuhkan tenaga kerja untuk mengejar kapasitas output yang meningkat itu. Studi yang dilakukan ekonom Arthur Okun (Okun’s Law) mengindikasikan adanya hubungan negatif antara pertumbuhan ekonomi dengan pengangguran,  semakin tinggi tingkat pertumbuhan ekonomi maka semakin rendah tingkat penganggurannya, dan sebaliknya semakin rendah tingkat pertumbuhan ekonomi maka tingkat pengangguran akan semakin meningkat (Arsyad.2010).

Menurut Prachowny, (1993) dan Case  & Fair, (1999) mengatakan hukum Okun menyatakan ada hugungan negatif yang linear  antara pengangguran dan pertumbuhan ekonomi: 1 % kenaikan tingkat pengangguran akan menyebabkan menurunya pertumbuhan ekonomi sebesar 2% atau lebih. sebaliknya 1% kenaikan output akan menyebabkan penurunan tingkat pengangguran sebesar 1% atau kurang.

Tantangan utama yang dihadapi oleh Pemerintah Kabupaten Dompu adalah penciptaan lapangan kerja baru secara konsisten dan berkelanjutan guna mengurangi angka pengangguran yang terus bertambah. Jumlah pengangguran sejak tahun 2010 sekitar 5,31 persen, Sempat turun pada tahun 2011 dan 2012 (4,71 & 4,64), akan tetapi pada tahun 2013 meningkat menjadi 5,05 persen dan pada tahun 2014 kembali meningkat sekitar 6,51 persen. Meningkatnya Tingkat Pengangguran Terbuka di Kabupaten Dompu dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi kabupaten Dompu yang fluktuatif. Hal terbukti berdasarkan data pertumbuhan ekonomi kabupaten Dompu sejak tahun 2011-2015. menunjukan bahwa pada tahun 2011 ekonomi Dompu tumbuh sebesar 7,20 persen, turun pada tahun 2012 menjadi 6,18 persen dan turun lagi menjadi 5,05 persen pada tahun 2013. walaupun sempat naik sekitar 1,36 persen dari tahun sebelumnya yakni sebesar 6,13  persen pada tahun 2014, akan tetapi kembali turun lagi pada tahun 2015 menjadi 5,49 persen dan  pada tahun 2016 pertumbuhan ekonomi akan mengalami penurunan lagi menjadi sekitar 4.40 persen.

Sejak tahun 2011-2015 juga pertumbuhan ekonomi kabupaten Dompu cenderung terus mengalami pertumbuhan yang Negatif, pada tahun 2011 pertumbuhan ekonomi kabupaten Dompu sebesar 7,20 persen, dan menjadi 5,49 persen (turun  1,71 persen) pada tahun 2015.

Menurut (Arsyad.2010) Fenomena ini memberikan gambaran bahwa “kualitas pertumbuhan ekonomi” selama ini masih “sangat rendah”. Selain itu, fenomena tersebut juga mengindikasikan adanya “ketimpangan” dampak pertumbuha ekonomi terhadap kesejahteraan masyarakat. Ekonomi secara agregat (makro) memang meningkat, namun peningkatan tersebut tidak dialami seluruh masyarakat, melainlkan hanya dialami sekolompok masyarakat tertentu.

Dalam jangka panjang, masih relatif rendahnya daya serap tenaga kerja di daerah ini, dapat memicu timbulnya permasalahan yang lebih rumit dan kompleks, terutama masalah sosial dan ekonomi. besarnya potensi permasalah sosial dan ekonomi yang dapat terjadi mengikuti rendahnya daya serap tenaga kerja antara lain; (1) Rendahnya kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat, (2) Rendahnya kemampuan daya beli masyarakat, (3) Meningkatnya jumlah pengangguran, (4) Meningkatnya arus migrasi (desa-kota), (5) Adanya ketimpangan pertumbuhan ekonomi antarwilayah.

Pada akhirnya dampak ekonomi dari rendahnya daya serap tenaga kerja dapat mereduksi daya beli masyarakat, karena banyak masyarakat yang menganggur sehingga mereka tidak mempunyai pendapatan untuk konsumsi. Rendahnya daya beli masyarakat akan berdampak pada turunya permintaan akan barang dan jasa, sehingga perekonomian “lesu darah”, dan otomatis kegiatan ekonomi sektoral pun menurun. Adanya penurunan pada kegiatan ekonomi sektoral tentu saja akan berdampak pada pengurangan jumlah tenaga kerja yang sudah ada.

Menurut teori ekonomi, terapi untuk mengatasi persoalan pengangguran dan kemiskinan adalah dengan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang “berkualitas” dan “berkesinambungan”. Yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas adalah pertumbuhan ekonomi yang mampu menyediakan kesempatan kerja yang cukup besar yaitu pertunbuhan ekonomi yang dipicu oleh banyaknya investasi yang bersifat padat karya (tenaga kerja), bukan yang bersifat padat modal. Disisi lain, ada kecenderungan bahwa belakangan ini pertumbuhan ekonomi sebagian besar bertumpuh pada kegiatan konsumtif (konsumsi masyarakat). Hal tersebut tentu saja harus segera dikoreksi dengan menerapkan pola pertumbuhan ekonomi yang secara dominan digerakan oleh investasi disektor riil seperti disinggung di atas (Arsyad. 2010)

Selain itu, menurut Todaro dan Smith (2011) ada tujuh strategi dalam menciptakan lapangan kerja baru, antara lain: (1) Menciptakan keseimbangan yang sesuai antara ekonomi pedesaan dan ekonomi perkotaan, (2) Memperluas industri skala kecil padat karya, (3) Menghilangkan distorsi harga faktor, (4) Memilih teknologi produksi padat karya yang sesuai, (5) Memodifikasi keterkaitan antara pendidikan dan lapangan kerja, (6) Menurunkan tingkat pertumbuhan penduduk, dan (7) Mendesentralisasikan wewenang ke kota-kota  dan wilayah sekitarnyan.

Sambung selanjutnya Indikator KEMISKINAN……………!!!!!!

Dompu Ekonomi Kondisi Makro Postif

Related Post

Leave a reply