Pertumbuhan Ekonomi Menurun, Pengangguran Meningkat dan Kemiskinan Menurun. Kok Bisa?

1902 views

 Oleh Dodo Kurniawan (Mahasiswa Program Doktor Universitas Brawijaya/ Dosen STIE-STKIP Yapis Dompu)

Pada tulisan edisi sebelumnya (24 & 25/ 11) kita sudah membedah dua indikator penting  makro ekonomi  yakni Pertumbuhan Ekonomi dan Penyerapan tenaga kerja dan bagaimana hubungan pertumbuhan ekonomi dengan pengangguran. Oleh karenanya pada tulisan ini penulis akan membedah satu indikator makro ekonomi lainnya yaitu Kemiskinan di Kabupaten Dompu. Dan juga membedah bagaimana hubungan pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja dan kemiskinan.

Pada tahun 1990 yang lalu, perhatian masyarakat terhadap masalah kemiskinan kembali digugah setelah cukup lama tidak banyak diperbincangkan di media massa. Perhatian masyarakat tersebut berawal dari pernyataan Bank Dunia (1990) di media massa yang memuji keberhasilan Indoneisa dalam mengurangi jumlah penduduk miskin. Menurut Bank Dunia, Indonesia telah berhasil mengurangi jumlah penduduk miskin secara relatif dari 40,08 persen pada tahun 1976 menjadi 17,42 persen dari jumlah populasinya tahun 1987. Suatu penurunan angka kemiskinan yang cukup drastic hanya kurun waktu 10 tahun.

Namun, ternyata di lapangan  menunjukan bahwa secara absolut  jumlah penduduk Indonesia yang masih hidup dibawah garis kemiskinan masih cukup banyak, yaitu, 22,6 juta jiwa pada tahun 1996. Selain itu masih banyak pula penduduk yang pendapatannya hanya sedikit sekali di atas batas garis kemiskinan. Kelompok penduduk “nyaris miskin” ini sangat rawan terhadap perubahan-perubahan keadaan ekonomi, seperti laju pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja: oleh itu, masalah kemiskinan ini masih tetap perlu diperhatikan secara serius karena tujuan utama dari pembangunan Indonesia adalah pembangunan manusia seutuhnya.

Menurut para ahli, kemiskinan itu bersifat multidimensional. Artinya, karena kebutuhan manusia itu bermacam-macam, maka kemiskinan pun memiliki banyak aspek. Dilihat dari kebijakan umum, maka kemiskinan meliputi aspek primer yang berupa miskin akan aset, organisasi sosial politik, dan pengetahuan serta keterampilan; dan aspek sekunder yang berupa miskin akan jaringan sosial, sumber-sumber keuangan dan informasi. Dimensi-dimensi kemiskinan tersebut termafestasikan dalam bentuk kekurangan gizi, air, perumahan yang sehat, perawatan kesehatan yang kurang baik, dan tingkat pendidikan yang rendah.

Disisi lain, kemiskinan itu sendiri dapat didefinisikan sebagai suatu situasi atau kondisi yang dialami seseorang atau sekelompok orang yang tidak mampu menyelenggarakan hidupnya sampai suatu taraf yang dianggap manusiawi (Bappenas, 2002).  Sedang menurut Revallion (2001), kemiskinan adalah kelaparan, tidak memiliki tempat tinggal, bila sakit tidak mempunyai dana untuk berobat. Orang miskin umumnya tidak dapat membaca karena tidak mampu bersekolah, tidak memiliki pekerjaan, takut menghadapi masa depan, kehilangan anak karena sakit. Kemiskinan adalah ketidakberdayaan, terpinggirkan dan tidak memiliki rasa bebas.

Terlepas dari beberapa definisi di atas, pada kesempatan ini penulis membatasi bahwa Indikator kemiskinan menggunakan standar Badan Pusat Statistik (BPS). Indikator Kemiskinan  yang digunakan BPS adalah  menggunkan kriteria garis kemiskinan (poverty line)  untuk mengukur kemiskinan absolut. Besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh garis kemiskinan, karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan. Semakin tinggi garis kemiskinan, semakin banyak penduduk yang tergolong sebagai penduduk miskin.

Batas garis kemiskinan yang digunakan setiap Negara ternyata berbeda-beda, begitupun di Indonesia sendiri dibedakan dengan batas garis kemiskinan Pedesaan dan Perkotaan. Ini disebabkan karena adanya perbedaan lokasi dan standar kebutuhan hidup. BPS menggunakan batas miskin dari besarnya rupiah  yang dibelanjakan per kapita sebulan untuk memenuhi kebutuhan minimum makanan dan bukan makanan ( BPS, 1994).

Perkembangan Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Kabupate Dompu

Dengan menggunakan indikator kemiskinan BPS, ada suatu penurunan yang berkesinambungan dalam persentase populasi yang hidup dibawah garis kemiskinan di Kabupaten Dompu sejak tahun 2011.  Jumlah dan persentase penduduk miskin pada periode 2011-2015 terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2011 jumlah penduduk miskin sebesar 40.787 jiwa atau sekitar 18,17 persen menjadi sebesar 35.940 jiwa atau sekitar 15,11 persen pada tahun 2015. Berkurang sebanyak 4.847 jiwa atau (3,06%) selam 5 tahun.

Bila kita melihat pertahun, penurunan tingkat kemisknan tertinggi terjadi pada tahun 2012, dimana jumlah penduduk  miskin pada tahun 2011 sebanyak 40.787 jiwa atau 18,17 persen menjadi sebesar 37.830  jiwa atau sekitar 16,58  persen ( turun 2.957 jiwa atau sekitar 1,59 %), pada tahun 2013 jumlah penduduk miskin sebesar 36.397 jiwa atau sekitar 15,70 persen (turun 1.433 jiwa atau sekitar 0,90 %), tahun 2014 turun lagi menjadi sebesar 36.420 jiwa atau sekitar 15,45 persen (turun 23 jiwa atau 0,25%) dan menjadi 35.940 jiwa atau  sekitar 15, 11 persen (turun 480 jiwa atau 0,34%).

Bila dibandingkan dengan tingkat kemiskinan di Provinsi NTB pada tahun 2011 jumlah penduduk miskin sebanyak 900.573 jiwa atau sekitar 19,73 persen  pada tahun 2015 turun  menjadi sebanyak 823.886 jiwa  atau 17,01 persen.  Bila kita lihat dari tahun ke tahun sejak tahun 2011-2015 penurunan jumlah penduduk miskin terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun, penurunan yang paling tinggi terjadi  pada tahun 2012. Dimana pada tahun 2011 jumlah penduduk miskin sebanyak 900.573 jiwa turun menjadi sebanyak 862.516 jiwa (turun 38.057 jiwa atau 1,10%) dan jumlah penduduk miskin kembali naik pada tahun 2015, dari sebanyak 820.818 jiwa(17,24%)  pada tahun 2014 meningkat menjadi sebanyak 823.886 jiwa (17,10%) pada tahun 2015.

Bila dilakukan perbandingan rata-rata penurunan jumlah penduduk miskin kabupaten Dompu memiliki akselesari yang baik selama periode 2011-2015 dengan tingkat penurunan jumlah kemiskinan setiap tahun sebanyak 1.211 jiwa (0,77 %) per tahun lebih tinggi bila dibandingkan dengan tingkat akselerasi Provinsi NTB sebanyak 37.093 jiwa (0,65%) pertahun.

Pertumbuhan Ekonomi Menurun, Pengangguran Meningkat  dan Kemiskinan Menurun. Kok Bisa?

 Ada yang aneh  pada data Indikator Makro yang di Publis oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Dompu. Dimana jumlah dan persentase penduduk miskin di Kabupaten Dompu dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Secara berturut-turut sejak 2011-2015, tahun 2011 (18,17), tahun 2012 (16,58), tahun 2013 (15,70), tahun 2014 (15,45), dan tahun 2015 (15,11). Namun bila kita melihat data pertumbuhan ekonomi dan  tingkat pengangguran menunjukan tren yang negatif. Dimana dari tahun ke tahun sejak tahun yang sama kedua indikator tersebut terus mengalami perkembangan yang negatif. Pertumbuhan ekonomi semakin menurun  (Baca; Bernahkah kondisi makro ekonomi Dompu Positif 1) dan tingkat pengangguran semakin meningkat (baca juga; Bernahkah kondisi makro ekonomi Dompu Positif 2).

Secara teoritis, pertumbuhan ekonomi, pengangguran, dan kemiskinan memiliki hubungan yang erat. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan menciptakan sebuah skema pengurangan angka pengangguran dan menurunkan jumlah penduduk miskin. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi diharapkan akan menciptakan pertumbuhan output yang meningkat, untuk meningkatkan output diperlukan tenaga kerja yang lebih banyak,  sehingga akan mendorong terbukanya lapangan kerja baru yang akan dapat mempengaruhi tingkat pendapatan penduduk. Pada akhirnya akan menurunkan jumlah penduduk miskin.

Berdasarkan teori Arthur Okun tentang adanya  hunbungan yang negatif antara pertumbuhan dan pengangguran, maka dapat kita simpulkan jika pertumbuhan ekonomi menurun, maka akan mengakibatkan tingkat pengangguran juga meningkat dan secara otomatis akan menambah jumlah penduduk yang menganggur. Dengan kata lain, akan semakin banyak orang menganggur, sehingga mereka tidak mempunyai pendapatan untuk konsumsi dan hal inilah yang akan mendorong lebih banyak penduduk miskin.

Berdasarkan Data  yang diolah penulis yang bersumber dari BPS Kabupaten Dompu, menunjukkan bahwa Kabupaten Dompu mengalami tren tingkat pertumbuhan ekonomi dan Tingkat Pengangguran yang negatif, dimana dari tahun ke tahun tingkat pertumbuhan terus mengalami penurunan, hal yang sama juga terjadi pada tingkat pengangguran yang semakin meningkat.  Namun yang yang menggembirakan adalah  jumlah dan persentase penduduk miskin semakin menurun. Data ini sedikit diluar kewajaran. Karena menurut Prof. Nur Syam (2017) untuk dapat menurunkan angka kemiskinan tersebut adalah melalui keterserapan penduduk pada sektor pekerjaan, semakin banyaknya penduduk yang mendapatkan lapangan kerja baru, keterserapan penduduk pada pekerjaan rumah tangga, dan semakin meningkatnya sektor perdagangan dan sebagainya, akan dapat menurunkan jumlah penduduk miskin.

Namun “kasus” yang terjadi di Kabupaten Dompu dangat berbeda dengan penyataan di atas. Dimana harusnya dengan pertumbuhan ekonomi yang menurun dan pengangguran yang meningkat akan menyebabkan semakin banyak penduduk yang miskin. Namun Berdasarkan data  jumlah penduduk miskin dan persentasen kemiskinan di kabupaten Dompu menunjukkan  fakta yang menarik, dimana jumlah dan persentase penduduk miskin di kabupaten Dompu dari tahun ke tahun  terus mengalami penurunan. Hal menimbulkan tanda tanya bagi sebagian orang “kok bisa” apakah data BPS benar???

Menurut Kepala BPS Pusat Suryamin (BPS, 2017) penyebab menurunya jumlah penduduk miskin yang relatif rendah. Dapat terjadi karena, Pertama Inflasi yang rendah; inflasi yang rendah berpengaruh terhadap garis kemiskinan, karena itu, sangat penting untuk terus mengendalikan harga, kedua rata-rata harga beras; penurunan harga beras akan sangat berpengaruh pada jumlah penduduk miskin, hal ini mengingat beras adalah komoditas utama bagi masyarakat miskin. Ketiga adalah turunnya harga-harga bahan pokok lainnya; minyak goreng, ayam ras, dll dan keempat adanya perbaikan penghasilan petani; ini ditunjukan oleh kenaikan nilai tukar petani (NTP).

Menurut  Penulis selain faktor-faktor di atas, ada faktor lain yang juga menentukan menurunnya angka kemiskinan yakni adanya Program Pengembangan Sapi, Jagung dan Rumput laut (Pijar) yang genjar dilakukan oleh Pemerintah Daerah dan Masyarakat.  Terutama Pengembangan komoditi Jagung, komoditi jagung mengalami perkembangan yang pesat baik dari sisi luas tanam maupun produktivitas panen. Sehingga tidak heran pada tahun 2015 kontrbusi jagung kabupaten Dompu mencapai 5 persen dari total produksi jagung nasional.

Usaha ini melibatkan langsung penduduk lokal sebagai investor, tenaga kerja dan faktor-faktor produksi lainnya, sehingga keuntungan dari pengembangan komoditi jagung ini dapat langsung dinikmati oleh masyarakat. Peningkatan Pendapatan terjadi seirng dengan semakin meningkatnya harga jagung ditingkat pengecer dan gudang dan tersedianya kerdit usaha tani untuk mendukung permodalan usahatani Jagung. Sehingga akan mendorong meningkatnya kesejateraan penduduk. Hal ini didukung oleh hasil penelitan yang dilakukan oleh Kurniawan D dan Enung (2016) yang meneliti tentang “Dampak Pengembangan Usahatani Jagung  terhadap Peningkatan Pendapatan Petani di Kecamatan Manggelewa” menyimpulkan dari 12 desa yang ada Kecamatan Manggelewa terdapat 4 desa yang dikategorikan pendapatannya di atas garis kemiskinan, Sedangkan 8 desa lainnya dikategorikan petaninya masih di bawah garis kemiskinan. Walaupun penelitianya dilakukan hanya di satu Kecamatan saja tetapi ini membuktikan adanya dampak yang positif sehingga bisa menjelaskan fenomena di atas.

 

 

Dompu Ekonomi kemiskinan pengangguran Pertumbuhan

Related Post

Leave a reply