Teringat ‘Dibesarkan’ PMII, Air Mata Mensos Khofifah Terurai

798 views

NU AKAR PMII: Mensos Khofifah Indar Parawansa. Akar PMII adalah NU, jangan pernah memberi ruang untuk Syiah, Wahabi maupun Salafi. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

PUSAKApublik.com, Bangkalan Jatim– Menteri Sosial yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa tak kuasa membendung air matanya saat menyanyikan mars Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

“Setiap saya bersama-sama PMII dan menyanyikan mars, sudah pasti saya meneteskan air mata,” katanya saat menjadi keynote speaker Pelatihan Kader Lanjut (PKL) se-Jawa Timur yang digelar PC PMII Bangkalan, seperti dilansir Barometerjatim, Minggu (24/12).

“Jas (PMII) inilah yang membesarkan saya. Membangun fighting spirit saya. Dulu saya ketua PMII Surabaya sekaligus merangkap ketua IPPNU, tapi spirit saya dibangun oleh PMII,” tandasnya yang disambut aplaus peserta pelatihan.

Karena itu, ketika almaghfurlah KH Hasyim Muzadi menjadi ketua umum PBNU, Khofifahmeminta agar PMII dilibatkan di setiap pleno PBNU. “Hanya PMII, bukan Banom. Supaya mengerti bahwa akar PMII itu dari Nahdlatul Ulama,” katanya.

Dalam terminologi “sahabat”, Khofifah mengibaratkan PMII adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib: Progresif, tampil di depan, pemberani dan intelek.

KEHOFIFAH BERSAMA SAHABAT-SAHABATI PMII: Mensos Khofifah Indar Parawansa menyanyikan mars PMII saat Pelatihan Kader Lanjut (PKL) se-Jatim di Bangkalan, Minggu (24/12) sore. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

“Sikap pemberani dan fight spirit dibutuhkan NU dan bangsa ini, maka bangunan pelatihan-pelatihan di PMII harus membangun fighting spirit,” paparnya. “Tanpa spirit orang tidak punya harapan dan upaya berjuang menjadi lemas.”

Bagi Khofifah, biarkan PMII independen tetapi akar NU jangan sampai tercerabut. Karena tu PMII jangan pernah memberi ruang untuk kelompok Syiah, Wahabi maupun Salafi.

“Di sini harus menjadi bangunan moderasi umat Islam yang menjadi payung dari referensi seluruh dunia. Maka jangan pernah melihat kita cuma PKL di Bangkalan, oh tidak!” tegasnya.

Sebab, lanjutnya, NU dibutuhkan bukan sebatas untuk memagari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tapi melindungi umat Islam dunia, terutama kelompok Sunni.

“85 persen umat Islam di dunia itu Sunni. Tapi apa yang terjadi hari ini, lihatlah saudara kita di Yaman kocar-kacir. Lihat pula saudara Sunni kita di Syria, Irak, Somalia dan beberapa negara lainnya,” katanya.

Khofifah Menetaskan Air Mata Mensos PMII

Related Post

Leave a reply