Tertinggi di Indonesia, Penurunan Pendapatan Petani NTB

336 views

Ilustrasi Petani di NTB (Suara NTB/dok)

PUSAKApublik.com, Mataram – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis tingginya angka penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) di Provinsi NTB. Penurunannya bahkan tercatat sebagai penurunan tertinggi di Indonesia.

Dalam rilis yang disampaikan resmi oleh Kepala BPS Provinsi NTB, Endang Tri Wahyuningsih di kantornya, Kamis, 1 Maret 2018 kemarin, Februari 2018 tercatat Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) sebesar 110,58.

Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) 81,23. Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 92,35, Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) 120,17 dan Nilai Tukar Petani Perikanan (NTNP) 104,30.

Nilai Tukar Petani Perikanan (NTNP) dirinci menjadi NTP Perikanan Tangkap (NTN) tercatat  112,01 dan NTP Perikanan Budidaya (NTPi) tercatat 91,80  Secara gabungan, Nilai Tukar Petani Provinsi NTB sebesar 106,02 yang  berarti NTP Bulan Februari 2018 mengalami penurunan 1,66 persen bila dibandingkan dengan Bulan Januari 2018 dengan Nilai Tukar Petani sebesar 107,81. Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Bulan Februari 2018 sebesar 116,11 atau menurun 0,81 persen dibandingkan dengan Bulan Januari 2018 sebesar 117,05 persen.

“Sebagian besar NTUP bernilai di atas 100 kecuali untuk subsektor hortikultura yang hanya 92,28. NTUP sub sektor lainnya masing-masing sebagai Peternakan (133,47), Tanaman Pangan (117,31), Perikanan (114,31) dan Tanaman Perkebunan Rakyat (104,79),” kata Endang.

Dari 33 Provinsi yang dilaporkan pada bulan Februari 2018, terdapat 14 provinsi yang mengalami peningkatan NTP dan 19 provinsi mengalami penurunan NTP. Peningkatan tertinggi terjadi di Provinsi Riau yaitu sebesar 1,16 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi NTB yaitu sebesar (1,66) persen.

Umumnya, faktor yang mempengaruhi penurunan NTP, indeks harga yang diterima petani pada sub kelompok padi dan sub kelompok palawija mengalami penurunan dibandingkan bulan lalu. Hal ini disebabkan menurunnya harga penjualan jagung, kacang tanah, ubi jalar, gabah dan ketela pohon.

Demikian pula halnya dengan Indeks yang dibayar petani (Ib) yang mengalami peningkatan 1,12 persen, peningkatan ini diakibatkan meningkatnya indeks Konsumsi Rumah tangga sebesar 1,39 persen dan yang dipergunakan untuk pembelian bahan makanan.

Nilai Tukar Petani Subsektor Hortikultura (NTPH) pada Bulan Februari 2018 mengalami penurunan sebesar (2,94) persen. Disebabkan karena indeks harga yang dibayar petani lebih tinggi daripada indeks yang diterima petani yaitu masing-masing sebesar 1,04 persen dan (1,94) persen.

Indeks yang diterima (It) sub kelompok sayur-sayuran dan sub kelompok buah-buahan mengalami penurunan masing-masing (2,55) persen dan (1,14) persen yang disebabkan menurunnya harga wortel, kentang, bawang daun, bawang merah, kol/kubis, melon, manggis, pisang, pepaya, duku/langsat. Indeks yang dibayar petani (Ib) subsektor hortikultura meningkat 1,04 persen.

Hal ini disebabkan oleh meningkatnya indeks konsumsi rumah tangga 1,30 persen yang digunakan untuk pembelian pada beberapa sub kelompok seperti terung, tomat sayur, cabai merah, cabai rawit, bawang putih, bayam, bahan agar-agar, rokok putih filter, rokok kretek filter, kopi instant, pasir, korek api gas, bola lampu, ongkos ojek motor.

Sumber: suartantb.com

Nilai Tukar NTB Pendapatan Petani

Related Post

Leave a reply