Ilyas Yasin; Redam Potensi Konfilk, Pemda Dompu Diminta Perbanyak Event Bertema Budaya

505 views

PUSAKApublik.com, Dompu–Kemarin malam kampung saya di Ranggo mendapatkan kehormatan sebagai tempat pelaksanaan acara Haflah Al-Quran di halaman Mesjid Raudhatul Jannah, setelah sebelumnya digelar di Mesjid Agung Baiturrahman, Dompu.

Acaranya terasa istimewa karena dihadiri juga oleh H. Darwin Hasibuan, qori internasional asal Medan yang menjadi langganan juara dunia sejak 2003.

Dua pembaca Al-Quran lainnya yang tampil adalah Miftahul Jannah, qoriah Dompu asal Kecamatan Hu’u dan Ahmad Suherman, qori dari Sila Bima, yang juga pernah juara STQ tingkat nasional. Tetapi lebih istimewa lagi karena acara ini diinisiasi oleh Pemda Dompu.

Dalam sambutannya Bupati Dompu H. Bambang M. Yasin menyampaikan komitmennya untuk mengagendakan secara rutin acara haflah tersebut.

Hadirin pun bergembira. Tepuk tangan bergemuruh mengiringi pekatnya malam. Ratusan umat Islam memadati halaman mesjid bahkan meluber sampai di jalan raya. Sebagiannya lagi duduk di tanah beralaskan tarpal karena tak kebagian kursi.

Suasana khidmat mulai memeluk sukma jamaah sejak Miftahul Jannah tampil sebagai pembaca pertama. Udara malam yang dingin berdesir pelan. Beberapa jamaah tampak merapatkan jaket mereka.

Di atas sana langit tampak bersih dan terang diguyuri cahaya rembulan. Tujuh menit sang qoriah mungil ini melantunkan Al-Quran tak terasa. Lalu disusul qori Ahmad Suherman selama 9 menit, suaranya melengking tinggi memecah kesunyian malam.

Setelah itu baru H. Darwin dengan durasi cukup lama: 36 menit. Suaranya khas rada bass begitu, seperti yang pernah saya dengar di mesjid dekat rumah saya. Tapi kekuatan oktafnya di atas Ahmad Suherman. Benar-benar sangat bertenaga. Powerfull! Kekuatan suaranya bagai terdengar di atas Arasy sana.

Suasana kian khidmat. Udara malam terasa masuk ke sum-sum. Sunyi. Jamaah seolah menunggu penuh harap ayat demi ayat yang dilantunkan secara ritmis oleh sang qori. Ayat- ayat yang dibacakannya seolah menebarkan aura magis.

Jamaah terpaku. Diam. Waktu bagai terhenti. Ibarat pertujukkan orkestra, sang qori-lah drigennya. Jamaah larut dalam irama yang dimainkannya. Sukma baru tersadarkan setelah sang qori bersuara bas ini, mengakhiri bacaanya pas di menit ke-36.

Menyimak suaranya, memori saya terbang dan terkenang dengan qori asal Bima lainnya, yang memiliki keindahan suara yang melegenda hingga sekarang. Dialah KH. Ramli Ahmad, legenda hidup keagungan kitab suci itu.

Meski saya bukanlah qori, tapi keindahan suara KH Ramli Ahmad sanggup menggedor-gedor ruang batin saya. Keindahan suaranya dalam tilawah saya kira sulit dicari bandingannya. Saat sekolah di PGAN Bima akhir 1989-an, keindahan suara beliau yang ditembakkan lewat toa dari Mesjid Raya Bima, terdengar jelas dari kos kami di Kelurahan Sarae, di depan MAN 1 Bima.

Menjelang Maghrib, beberapa menit sebelum tarkhim dibunyikan, bacaan beliau pada Surat Al-Mukminun begitu merdu, bening dan indah. Suaranya terasa meresap dan menembus dinding-dinding kamar kos kami yang sempit dan pengab. Damai, menggairahkan dan menyejukkan.

Maka, apa yang kami lakukan begitu kaset disetel dari toa sana, adalah memasang telinga sebaik mungkin demi menyimak suara sang idola. Beberapa teman kos saya yang punya suara bagus, sampai menghafal dengan baik cengkok bacaan beliau.

Begitulah. Al-Quran, sebagaimana dilukiskan Syekh Abdullah Darraz yang dikutip Quraish Shihab (1994), bagaikan permata yang mampu memancarkan kilauannya dari tiap sudut. Orang awam akan menangkap pesan dan makna Al-Quran itu sesuai kemampuan dan wawasan yang dimilikinya, sebagaimana seorang saintis akan menangkap pesan dan makna yang berbeda, sesuai dengan kapasitas intelektuanya.

Intinya, Al-Quran adalah kitab yang benar-benar demokratis karena sanggup memberi inspirasi dan makna sesuai kemampuan atau latar belakang penikmatnya. Inilah salah satu keistimewaan kitab suci ini; ia melambangkan semangat kesetaraan (equal) umat manusia di hadapan Tuhan.

Tidak ada kitab suci di dunia ini, seperti Al-Quran, yang dibaca oleh jutaan bahkan puluhan juta umat manusia baik yang mengerti isinya maupun tidak.

Pak Quraish Shihab seringkali menjelaskan bahwa Al-Quran merupakan ‘jamuan Allah’ kepada orang-orang beriman. Sebagaimana perjamuan, alangkah ruginya orang yang tidak menghadiri undangan jamuan. Tapi yang lebih rugi adalah yang menghadirinya tapi tidak menikmati hidangan di tempat perjamuan.

Bagi saya ada hal yang lebih strategis dari acara Haflah Al-Quran itu ketimbang sekadar urusan katarsis psikologis seperti saya gambarkan di atas. Yakni tentang pentingnya masyarakat Bima Dompu untuk meneguhkan kembali identitas budayanya.

Saat ini, terasa betul betapa gempuran-gempuran perubahan sosial yang berlangsung kian menggerus akar-akar budaya masyarakat. Sebagai masyarakat yang berada dalam masa transisi antara modernitas dan tradisional, maka proses rekayasa sosial yang terjadi ternyata tidak selamanya berlangsung mulus.

Terjadi kesenjangan antara menerima modernitas sebagai keharusan sejarah dengan tatanan nilai-nilai baru yang belum sepenuhnya terbangun secara baik.

Maka, apa yang sering terlihat adalah munculnya semacam “pseudo-modernitas” alias “modernitas semu” yakni corak masyarakat yang satu kaki hendak melangkah ke alam modern, tapi kaki yang satunya masih di alam tradisional.

Transisi, ketegangan dan pertarungan antarnilai itulah kurang lebih gambaran sosiologis masyarakat kita saat ini. Dan salah satu efeknya adalah munculnya berbagai konflik sosial sebagaimana yang terjadi dalam hampir dua dasawarsa terakhir ini.

Celakanya, situasi ini diperburuk oleh pengaruh media yang kian massif serta lemahnya kemampuan negara dalam merespon konflik-konflik yang terjadi. Konflik-konflik sosial yang terjadi di Bima Dompu, baik di masyarakat umum maupun kalangan mahasiswa, kadang sulit dicerna akal sehat.

Bagaimana mungkin orang yang memiliki latar belakang budaya, etnis, bahasa, bahkan agama yang sama bisa terjebak dalam konflik yang saling menghancurkan? Bahkan sebuah kampus swasta di kota Bima beberapa waktu lalu sampai harus dijaga aparat berhari-hari karena konflik sesama mahasiswa.

Lantas, kemana citra luhur kita sebagai bangsa yang santun dan beradab? Mengapa kita tiba-tiba tumbuh menjadi bangsa pemarah, pendendam dan memuja kekerasan? Kemana kesantunan itu? Kini, masyarakat kita bagaikan rumput kering yang mudah disulut. Terbakar dan menghanguskan.

Padahal secara teoritis, seperti dijelaskan Arifin (2003) bahwa salah satu faktor integrasi dalam pluralitas sosial—terutama pluralitas keagamaan— adalah jika orang merasa memiliki kebudayaan yang sama (sense of common culture).

Jika teori ini benar maka dapat disimpulkan bahwa konflik sosial di Bima Dompu selama ini mengisyaratkan bahwa masyarakat kita sudah lama merasa tidak memiliki akar budaya yang sama, kendati secara de facto mereka terlahir, besar dan berinteraksi dengan orang-orang dari kebudayaan yang sama.

“Karena alasan inilah maka Pemda Dompu dan Bima mestinya harus sebanyak mungkin menyelenggarakan berbagai event bertema budaya untuk meluruhkan potensi-potensi konflik yang ada”.

Di samping itu, tentu saja harus memperbanyak juga ruang publik (public space) sebagai ‘ruang perjumpaan’ seperti fasilitas olahraga, taman, tempat bermain dll yang memungkinkan warga dapat mencairkan kebekuan sekat-sekat sosiologis dan psikologis di antara mereka.

Dengan kondisi saat ini maka saya kira wajar jika indeks kebahagiaan masyarakat kita di urutan ke-79 di seluruh dunia. Sebuah pekerjaan rumah yang harus dituntaskan oleh para pemegang amanah: segera kembalikan keceriaan kami, kebahagiaan kami!. *

Ilyas Yasin, MM.Pd (Akademisi dan Pemerhati Budaya)

Budaya Dompu Ilyas Yasin Pemda

Related Post

Leave a reply