Pelopor Pendidikan Tinggi yang Rendah Hati

523 views

Drs. H. Anwar Manan (Alm) Mengenang Satu Tahun Wafatnya

Oleh Ilyas Yasin

“saya tersentak dengan sikap rendah hati orangtua ini. Sikapnya sederhana, sesederhana rumah dinas yang ditempatinya bersama keluarganya. Kata-katanya lembut, selembut gerakan maupun senyumnya saat berbicara”.

PUSAKApublik.com, Dompu—Sebagai ‘pemamah’ buku maupun aktivis kajian, sebenarnya sejak kuliah di IAIN Alauddin Ujungpandang  dulu saya sudah  berkeinginan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Apalagi saat itu, di era  awal 1990-an, saya bergaul dan  mengenal secara pribadi beberapa dosen yang sedang menempuh studi pascasarjana di kampus saya. Saya juga sering menghadiri diskusi dan kajian maupun terlibat obrolan informal dengan mereka.

Berbeda dengan sekarang, di era itu, tentu saja  usia mahasiswa pascasarjana itu rata-rata sudah paruh baya. Meski begitu, saya cukup akrab dengan mereka. Selain sebagai dosen saya  juga  beberapa diantaranya adalah senior saya di HMI. Kesan saya, dosen dengan kualifikasi pascasarjana itu  memiliki ‘kewibawaan’ akademik yang mengesankan. Meski demikian cita-cita kuliah lagi itu menguap begitu saja. Selain karena tidak ada yang membimbing saya untuk mencapai mimpi itu, juga seiring keasyikan saya dengan dunia jurnalistik.

Ya, saat itu saya menganggap bahwa menjadi wartawan adalah cita-cita tertinggi saya. Sejak tamat kuliah pada 1997 saya pun malang melintang di beberapa dunia yang berbeda: menjadi dosen tidak tetap, aktif di LSM, merintis dan mengurus sebuah pesantren di kampung, dan tentu saja menjadi wartawan.

Pada 2007  barulah keinginan kuliah itu muncul lagi. Saya pun berburu rekomendasi pimpinan perguruan sebagai syarat melanjutkan kuliah. Saya juga mendatangi dan melobi kampus di Bima tapi hasilnya nihil. Di samping karena saya memang tidak pernah menjadi dosen di sana, juga kampus-kampus tersebut  tampaknya tidak  lagi ‘royal’ memberikan rekomendasi sebagaimana sebelumnya, ditambah persyaratan beasiswa dari Kemeristek Dikti yang kian ketat.

Di tengah perasaan kecewa dan putus asa, melalui informasi seorang teman, saya disarankan menemui Drs. H. Anwar Manan, Ketua STIE Yapis Dompu, untuk mendapatkan ‘surat sakti’  tersebut. Tentu saja saya tidak mengenal nama ini. Begitu pula sebaliknya. Saya juga belum pernah melihatnya, meski saat itu menjabat sebagai Kepala BKKBN Kabupaten Dompu.  Sebagai pejabat tinggi di daerah, karena itu, saya takut dan malu sekali untuk menemuinya. Tetapi atas saran teman yang mengalami nasib sama dengan saya (dan berhasil mendapatkan rekomendasi dari beliau), akhirnya saya mencoba memberanikan diri menemuinya di rumah dinasnya, di belakang kantornya.

Setelah  memperkenalkan diri dan menyampaikan tujuan kunjungan, saya tersentak dengan sikap rendah hati orangtua ini. Sikapnya sederhana, sesederhana rumah dinas yang ditempatinya bersama keluarganya. Kata-katanya lembut, selembut gerakan maupun senyumnya saat berbicara. Dia menyampaikan penyesalannya karena tidak bisa menolong saya karena terbentur dengan regulasi baru. Beliau menjelaskan kepada saya surat edaran Dirjen Dikti bahwa surat rekomendasi persyaratan studi lanjut dosen harus linier antara jenis perguruan tinggi asal dengan kampus tujuan. Kalau saya diberi rekomendasi oleh STIE, sedangkan kampus tujuan adalah pendidikan, tentu saja tidak ‘nyambung’.

Sebelumnya, rekan saya beruntung karena belum dikenai aturan baru ini. Meski tidak saling mengenal sebelumnya maupun belum pernah menjadi dosen  di kampus yang dipimpinnya, tapi H. Anwar Manan secara ikhlas menolong teman saya ini memberinya surat rekomendasi itu. Dengan surat sakti itu ia berhasil mendapatkan beasiswa S2 Dikti dan meraih gelar magister pendidikan di sebuah kampus negeri bergengsi di Yogyakarta. Meski kami baru kali pertama bertemu tapi selama perbincangan itu kami tidak merasa berjarak.

Kendati akhirnya, lagi-lagi, saya gagal mendapatkan selembar surat bertuah itu, tapi sikapnya yang “welas asih, waskita dan guyub” membuat  saya mampu meluruhkan kekecewaan dan frustasi saya. “Mata air” kearifannya meneduhkan jiwa yang galau. Saya merasakan aura ketulusan seorang ayah kepada anak. Malah saya kaget  karena beliau menyapa saya, meski terpaut usia cukup jauh, dengan sebutan “cinae” (bahasa Bima: wahai saudaraku). Sebuah semangat egalitarianisme  dan  refleksi dari  sikapnya yang demokratis dalam memandang dan memperlakukan anak-anak muda seperti saya. Di mata “Pak Aji” (demikian kami menyapanya) kami setara. Dan sikapnya  ini otentik!

Di tengah luasnya hamparan bumi Khatulistiwa ini, di tengah hiruk-pikuk dunia politik di Tanah Air, atau di tengah gegap-gempita roda ekonomi yang terus berdering, Pak Aji itu bagai serpihan berlian di tengah hamparan lapangan hijau. Tinggal dan berjuang di daerah yang jauh dari publikasi media, tentu  tidak banyak yang mengenalnya atau mengetahui kiprahnya. Jangankan di level regional apalagi nasional, di  kabupaten mungil sebesar Dompu pun, saya yakin, jarang orang yang  mengenalinya. Termasuk di kalangan mahasiswa dua kampus yang didirikannya, STIE Yapis dan STKIP Yapis Dompu. Tapi bagi saya, jejak hidupnya bagaikan kilauan berlian yang menerangi gelapnya langit pendidikan tinggi di bumi Nggahi Rawi Pahu.  Ya, beliaulah pelopor perguruan tinggi di daerah miskin nan terbelakang ini.

Sebelumnya bukannya tidak ada usaha beberapa pihak maupun organisasi untuk mendirikan kampus di daerah ini tapi, entah kenapa, selalu mati suri. Bahkan  hingga kini, organisasi sebesar dan setua  NU atau Muhammadiyah, pun tidak  kunjung berhasil merintis lembaga pendidikan di daerah ini. Jangankan  PT,  selevel pendidikan dasar dan menengah pun susah. Pada awal tahun 2000 pernah dirintis STM Muhammadiyah yang menumpang pada SDN di wilayah Bali Bunga—dan saya ikut mengajar di dalamnya—tapi dalam perkembangannya sekolah menengah ini gagal, bahkan untuk menamatkan angkatan pertamanya.

Ini sangat berbeda dengan eksistensi Muhammadiyah Bima, misalnya, yang lebih dinamis karena berbagai amal usahanya berkembang pesat: sejak dari lembaga pendidikan (SD hingga PT), rumah sakit, panti asuhan dan lain-lain.  Tentu ada beberapa yayasan yang mengelola lembaga pendidikan  yang harus disebut di Dompu seperti Ponpes Al-Kautsar  Ranggo (berdiri sejak 1999 dimana saya juga pernah terlibat di dalamnya), Yayasan Nadlatul Wathan yang dirintis imigran asal Lombok di Manggelewa, MTs Al-Muallafah di Nanga Tumpu (dirintis para muallaf Hindu Bali), MTs Ar-Rahman di Kilo, atau yang lebih tua Yayasan Salman di kota Dompu, dan lain-lain.

Berbagai yayasan ini mengelola berbagai jenjang pendidikan sejak PAUD hingga SMA/sederajat.  Setahu saya satu-satunya lembaga pendidikan di bawah Muhammadiyah yang masih bertahan adalah MTs At-Taqwa di Wawonduru.  Begitu pula sejak dahulu, terutama pasca era reformasi  beberapa rintisan PT pernah dilakukan, termasuk membuka kelas jauh, di Dompu namun selalu berakhir gagal.

Pada awal era reformasi, seiring kepindahannya sebagai PNS dari Jayapura ke Dompu, Pak Aji merintis kampus STIE Yapis pada 2000, kemudian STKIP Yapis (2009). Inilah kampus pertama di Dompu. Saya menyebutnya demikian bukan saja karena kelihatan jelas aktivitas akademiknya (proses kuliah, KKN dan seterusnya) tapi juga wujud fisik kampusnya yang terletak di tengah areal persawahan Sawete, Bali 1, Dompu (belakangan secara guyon teman-teman menyebutnya kampus “mewah” alias mepet sawah hehe), setelah sebelumnya sempat menumpang pada gedung SDN Bali 1.

Sebelum hijrah ke Dompu, Pak Aji sendiri adalah perintis lembaga pendidikan Yapis (Yayasan Pendidikan Islam) di Jayapura bersama teman-temannya. Yapis ini membawahi beberapa lembaga pendidikan sejak tingkat dasar hingga PT (Universitas Yapis, Akademi Bank Yapis dan lain-lain). Universitas Yapis merupakan salah satu PTS terbesar dan cukup maju di Tana Papua. Ketika mengikuti kegiatan Dosen Dagang di Unpad pada 2013, seorang teman peserta dari Akademi Bank Yapis memberikan testimoni bahwa Universitas Yapis juga turut membidani kelahiran PTN di pulau mutiara hitam itu  yakni Universitas Musamus, Papua.

Sejak 2012, setelah pensiun Pak Aji—bersama sang istri terkasih yang tak kurang sederhananya—memilih menghabiskan masa tuanya merintis dan mengurus Pesantren Al-Anwary di pedalaman Mpuri, Kabupaten Bima. Dalam batang usia yang terus menua, beliau masih sibuk bolak-balik ke Mataram-Bima mengurus pesantren yang dipimpinnya itu. Sedangkan dua kampus di Dompu diserahkan pengelolaannya kepada dua anak dan menantunya. Di tangan anak-anak muda ini kedua kampus ini terus berkembang. Pada  2016 kemarin STKIP Yapis bahkan sudah memiliki kampus sendiri yang cukup luas di atas pebukitan desa Sori Sakolo (kali ini teman-teman menyebutnya kampus “Agung” alias di atas gunung hehe).

Pada  Januari 2014, saat bertemu di acara wisuda pertama STKIP Yapis di Gedung Sama Kai dimana saya bertindak sebagai Ketua Panitia,  saya sempat mengutarakan niat saya untuk menulis biografi Pak Aji. Beliau menanggapinya biasa saja sembari tersenyum. Ketika saya meminta kesediaannya dan bantuannya untuk keperluan pengumpulan bahan-bahan penulisan biografi itu, dia menyanggupinya. Sayang sekali, rutinitas pekerjaan  menjebak saya hingga rencana mulia itu tak kunjung terlunasi. Padahal setelah pertemuan itu saya langsung membuat coretan-coretan kecil. Bahkan sudah saya ancang-ancang judul biografi itu yakni “Drs. Anwar Manan: Meretas Pendidikan Tinggi di Bumi Nggahi Rawi Pahu”.  File-nya tertera tanggal 1 Februari 2014.

Maka ketika mendapat kabar duka bahwa beliau sudah wafat saat sahur tadi pagi, (12 Juni 2017 M/17 Ramadan 1438 H) tenggorokan saya terasa tercekat. Meski dalam suasana gundah, saya mencoba meraih laptop dan  menuliskan catatan  ini. Jari-jari ini terasa berat di atas papan kunci. Jiwa saya terasa terbang oleh kesedihan yang membuncah. Dada saya kembang kempis. Nafas sesak. Mata saya tak kuasa menahan gerimis.

Saya bukan saja merasa sangat sedih atas kepergiannya melainkan menyesal atas  janji yang belum sempat tertunaikan. Secara diam-diam saya’mengutuk’  ketidakmampuan saya mendokumentasikan jejak perjuangannya, juga visi-visi hidupnya. Meski tadinya saya berharap ada teman-teman dosen sejarah di kampus yang berinisiatif menuliskan perjuangannya, tapi saya tetap tersandera oleh perasaan bersalah. Bayangkan sejak 2014, waktu yang cukup panjang yang saya sia-siakan!

Ini sekaligus ironi yang kerap terjadi dalam penulisan sejarah lokal dimana kemampuan kita menuliskan atau mendokumentasikannya kalah cepat dibandingkan wafatnya para pelaku sejarah itu sendiri. Ini tentu saja merugikan karena kita bakal kehilangan lebih banyak para pelaku dan saksi sejarah karena faktor usia.  Saya memang bukan dosen sejarah, juga tidak paham tentang teknik penulisan sejarah lokal, tapi saya ingin sekali menulis sejarah hidupnya sesuai kemampuan saya. Apapun itu hasilnya nanti.

Meski berasal dari dunia yang berbeda, namun melihat perjuangannya yang pantang menyerah saya mendapati Pak Aji ini bagai Raam Punjabi, pemilik Multivision Plus. Jika Punjabi digelari sebagai orang yang mampu mewujudkan “mimpi-mimpi” ke dalam dunia nyata—berkat keteguhannya dalam menyemarakkan sinetron di layar kaca di Tanah Air—maka Pak Aji adalah “pewujud” mimpi yang  menghadirkan  perguruan tinggi di bumi Nggahi Rawi Pahu. Berkat perjuangannya, kini ada banyak anak bangsa di Dompu yang tertolong pendidikan maupun ekonominya: ya mahasiswa, dosen, karyawan, pengusaha foto copy, warung makan, agen pulsa, tukang ojek, pemilik kos dan lainnya. Betapapun kehadiran perguruan di sebuah daerah berdampak multi-efek. Termasuk memperbaiki indeks pembangunan manusianya.

Maka, seiring kepergiannya sukma saya kian  tercekat oleh perasaan bersalah itu. Saya tercenung dengan pribadi rendah hati nan sederhana ini. Sosok yang hingga pensiun maupun sebagai pemilik perguruan tinggi—hanya tinggal di rumah kontrakan. Sebagai manusia tentu beliau punya kesalahan. Tapi saya kira hal itu kurang relevan dibahas  di sini. Kata orang jawa “mikul dhuwur mendem jero” (mengenang kebaikannya dan melupakan kesalahannya). Selamat jalan Pak Aji, kami akan selalu mengenangmu.

Dompu H. Anwar Manan (Alm) Pelopor Pendidikan Tinggi Rendah hati

Related Post

Leave a reply