Heboh! Diduga Hidup Kembali, Kuburan Ust. Ahmad di Bongkar Keluarga

779 views

Kuburan Ust. Ahmad sebelum dibongkar keluarga (Foto. Fb. Juraidah SP)

PUSAKA PUBLIK.COM. Dompu,- Ratusan Orang berbondong-bondong mendatangi kuburan Ust. Ahmad yang baru dimakamkan bebera hari yang lalu di Pemakaman Umum Desa Nowa Kecamatan Woja Kabupaten Dompu, Minggu (22/07).

Kedatangan Ratusan orang tersebut untuk menyaksikan secara langsung proses pembongkaran kembali kuburan yang diduga mayatnya hidup kembali.

Puluhan Orang sedang membongkar kuburan Ust. Ahmad

Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini dari berbagai sumber terpercaya bahwa pembongkaran ini berawal dari permintaan istri dan anak almarhum. Anak Laki-laki almarhum berfirasat bahwa ayahnya masih hidup. Sehingga untuk memastikan pihak keluarga bersepakat menggali kembali. Namun setelah digali tercium aroma tak sedap, sehingga pihak keluarga menutup kembali kuburan  karena sudah dipastikan telah benar-benar sudah meninggal.

Almarhum Ust. Ahmad semasa hidupnya menjadi guru di MTs Al Istiqlaliyah Wawobaka Desa Nowa Kecamatan Woja Kabupaten Dompu.

Tampak Ratusan orang sedang melihat langsung proses pembongkaran Kuburan Ust. Ahmad (Foto. Fb. Supri Yamin)

Lalu yang tidak kala pentingnya yang perlu kita ketahui bagaimana hukum membongkar kuburan?

Bagi masyarakat pedesaan pada umumnya masih sangat tabu karenanya dianggap sakral. Kasus pembongkaran ulang kuburan di daerah-daerah bisa dihitung jari, malahan nyaris sulit ditemukan. Tetapi, lain ceritanya jika di wilayah perkotaan. Bongkar-membongkar kuburan tampaknya tak lagi canggung dan sudah biasa.

Alasan pembongkaran pun bisa beragam, mulai dari penggusuran tanah pemakaman ataupun untuk kepentingan otopsi guna penyelidikan kasus-kasus tertentu. Apa pun dalihnya, fenomena pembongkaran makam pernah terjadi sepanjang sejarah Islam. Hal ini terlihat dari munculnya bermacam reaksi pendapat menyikapi hal itu. Mulai dari yang memperbolehkan dengan syarat ataupun melarangnya mutlak.

Dalam Kitab A- Fiqh ‘Ala al-Madzahib al-Khamsah karangan Muhammad Jawwad Mughniyyah disebutkan, semua ulama mazhab sepakat bahwa membongkar kuburan itu adalah haram, baik mayat tersebut masih anak kecil ataupun orang dewasa, gila maupun berakal, kecuali untuk mengetahui ada tidaknya, dan telah jadi tanah, atau penggalian ulang itu bertujuan untuk kemaslahatan mayat. Misalnya, dalam kasus ketika lokasi kuburan berada di tempat mengalirnya air atau di tepi sungai atau dipendam di tempat yang haram, seperti lokasi pemakaman hasil penggelapan tanah, sebagaimana di lansir dari republika.co.id, Minggu (22/07) .

Terkait hukum menggali kembali kubur, Nahdlatul Ulama (NU) pernah mengeluarkan hasil kajian hukum. Dalam Kumpulan Keputusan Hasil Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (NU) 1924-2004, ditegaskan bahwa diharamkan menggali kubur sebelum mayat di dalamnya hancur sesuai dengan pendapat para pakar di daerah tersebut setelah mayat itu dikubur.

Sesuai dengan redaksi yang tertera dan dinukil dari Kitab al-Umm, karya Imam As Syafi’i, diterangkan jika mayat sudah dikubur, maka tidak seorang pun boleh menggali kembali kuburannya sampai berlalu suatu masa yang menurut pakar daerah tersebut mayat itu telah hilang atau hancur. Dan, ukuran berapa lamakah mayat dinyatakan hancur tersebut berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lain, biasanya bisa setahun atau lebih.

Menurut Mazhab Syafi’i, haram hukumnya membongkar kembali mayat setelah dikuburkan sebelum mayat tersebut diyakini hancur sesuai dengan pendapat para pakar tentang tanahnya, untuk dipindahkan ataupun lainnya, kecuali karena darurat seperti dikuburkan tanpa disucikan, baik dimandikan atau tayamum. Sementara, mayat tersebut merupakan orang yang wajib disucikan.

Sedangkan Madzhab Maliki memperbolehkan memindahkan mayat sebelum dan sesudah dikubur dari satu tempat ke lokasi lain dengan syarat, yaitu tidak terjadi perusakan pada tubuh mayat, tidak menurunkan martabat mayat, dan pemindahan tersebut atas dasar maslahat. (PP01)

Desa Nowa Heboh Kuburan di Bongkar

Related Post

Leave a reply