Gagalnya SDM, SDA, Kepadatan Penduduk dan Teknologi, Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Suatu Negara/Daerah

1056 views

Ilustrasi: Salah satu Jenis Sumber Daya Alam (Sumber Foto Dok. www.vebma.com)

PUSAKAPUBLIK.COM, Oleh Dodo Kurniawan, SE., ME.

Banyak ekonom yang membahas persoalan mengapa suatu Negara /daerah bisa memperoleh kemakmuran ekonomi, sementara Negara/daerah lainnya masih tetap dalam kondisi terbelakang dan sangat tergantung pada Negara/daerah lainnya.

Menurut Yeager (1999:5-8) dalam Yustika (2012) mencatat empat hipotesis yang diperkirakan banyak ahli menjadi sumber kemajuan ekonomi sebuah negara/daerah, yang sekaligus disanggahnya melalui fakta-fakta penunjang, sebagai berikut;

Pertama, modal sumber daya manusia (SDM/ Human Capital) dianggap merupakan stok pengetahuan yang sangat berharga sehingga setiap negara/daerah yang memilikinya dapat memajukan kegiatan ekonomi melalui pencapaian tenaga kerja yang produktif, keyakinan ini didukung oleh kenyataan bahwa negara-negara kaya biasanya tenaga kerjanya memiliki tingkat masuk sekolah (enrollment rate) lebih dari 90 persen.

Namun hipotesi ini segera gugur ketika dihadapkan pada tiga fakta berikut; (1) terdapat beberapa negara, misalnya Polandia, Rusia, dan Korea Selatan, yang rakyatnya memiliki tingkat pendidikan sangat baik, tetapi pendapatan per kapitanya jauh di belakang Jepang, Jerman, Kanada, dan Prancis;

(2) berkaitan pernyataan kausalitas: apakah pendidikan yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi atau justru pertumbuhan ekonomi yang menyebabkan tingkat pendidikan lebih baik. Setidaknya pada tahun 1970-an banyak negara di Sub-Sahara Afrika yang meningkatkan pengeluaran di sektor pendidikan (budget spending) tetapi tidak menunjukkan pertumbuhan ekonomi, dan bahkan pendapatan perkapita menurun (Clague, et. Al,1997:82); dan

(3) kasus imigran dari Haiti dan Jerman yang pindah ke Amerika Serikat menunjukkan ketidakselarasan antara tingkat pendidikan dan pendapatan per kapita. Imigran dari Haiti memperoleh pendapatan setengah dari imigran Jerman (USS 10,900 berbanding USS 21,900 per tahun), sehingga diasumsikan pendidikan orang Jerman dua kali lebih baik dari orang Haiti. Tetapi faktanya, pendapatan per kapita sendiri hanya sepersepuluh dari pendapatan per kapita Jerman.

Kedua, sumber daya alam (SDA/ natural resources) juga dipandang sebagai sumber pertumbuhan ekonomi bagi sebuah Negara/daerah. Argumentasinya, sumber daya alam bida mempermudah suatu negara untuk menumbuhkan ekonominya dengan biaya input yang lebih rendah, Amerika Serikat merupakan contoh Negara yang kaya akan sumber daya alam (mineral, lahan dan kayu) sekaligus makmur ekonominya.

Namun anggapan ini dengan mudah bisa dibantah karena banyak negara, seperti Singapura dan Jepang, tidak memiliki kekayaan SDA tetapi pertumbuhan ekonominya sangat tinggi. Di lain pihak, justur banyak negara yang memiliki kelimpahan SDA mempunyai kinerja ekonomi yang buruk.

Dalam literatur ekonomi hal tersebut dikenal dengan istilah “Dutch Disease”, di mana pada dekade 1960-an Belanda memperoleh tingkat kesejahteraan ekonomi akibat melimpahnya SDA yang mereka miliki, tetapi pada dekade 1970-an ekonomi negera tersebut ambruk setelah terjadi kenaikan angka inflasi, penurunan ekspor sektor manufaktur, pertumbuhan ekonomi yang menurun, dan peningklatan pengangguran (Nafziger, 1990:171).

Ketiga, tingkat kepadatan penduduk, setelah dua faktor di atas gagal, ditengarai pertumbuhan ekonomi lebih disebabkan oleh tingkat kepadapatan penduduk. Suatu negara yang memiliki tingkat kepadapatan penduduk rendah (low population density) dianggap akan memiliki peluang untuk bisa mensejahterakan rakyatnya.

Alasannya, apabila kepadatan penduduk sangat tinggi, maka kegiatan ekonomi penduduk hanya akan berada pada level subsisten karena rendahnya rasio penduduk dan lahan (man-land rasio). Negara –negara berkembang seperti Indonesia, juga dicirikan oleh penguasaan lahan yang rendah akibat jumlah penduduk yang tinggi.

Hal ini dengan mudah dijumpai pada pelaku ekonomi di sektor pertanian yakni petani, di mana setia kepala keluarga hanya memiliki lahan kurang dari 0,5 hektar (khususnya di Pulau Jawa). Akibatnya, kegiatan pertanian yang dilakukan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri (subsisten), bukan untuk tujuan komesial (dijual).

Namun kembali fakta ini terbantahkan karena negara-negara lain dengan tingkat kepadatan penduduk  yang cukup tinggi, seperti Jepang dan Hongkong, tetap mempunyai tingkat pendapatan per kapita yang tinggi. Sebaliknya, negara seperti Brazil, China, dan Rusia yang tingkat kepadatan penduduknya relatif rendah, justru pendapatan per kapitanya jauh lebih kecil dibandingkan Swiss atau Jerman.

Keempat, Kemajuan Teknologi, pandangan mutakhir menganggap teknologi merupakan faktor kunci yang menjadi penjelas mengapa suatu negara bisa mengakumulasikan kekayaan dan pertumbuhan ekonomi. Teknologi akan membawa suatu negara/daerah selalu bisa memperbaharui ekonomi secara lebih efisien dan membuat pekerjaan menjadi lebih produktif.

Dalam pengertian yang seluas-luasnya, kemampuan teknologi merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan kinerja ekspor hasil-hasil industri suatu negara (Wie, 1997:4). Tetapi pemikiran ini segera menimbulkan keraguan, bukankah teknologi juga bisa diserap oleh negara-negara berkembang dengan mudah dan bebas?

Bukankan teknologi yang baru saja ditemukan di negara maju (pembuatnya) pada saat yang sama sering kali juga sudah diterapkan di negara berkembang?

Bukankah sudah sekian dekade ini negara berkembang menghamburkan dana pembangunan hanya untuk mentransfer teknologi dari negara maju?

Pertanyaan-pertanyaan ini segera saja membuat sinyalemen bahwa teknologi merupakan sumber keunggulan bagi pertumbuhan ekonomi menjadi menguap. Artinya, tidak selamanya penguasaan teknologi yang memadai lantas secara otomatis menolong negara tersebut bisa mengakumulasi kesejahteraan ekonomi.

Negara india barangkali bisa mewakili kasus ini, di mana tingkat penguasaan teknologi yang dipunyai cukup tinggi, tetapi hingga kini negaranya masih terperosok dalam kubang kemiskinan.

Pencarian penjalasan terhadap faktor yang menyebabkan diperolehnya pertumbuhan ekonomi tersebut terus mengalami pembaruan. Dalam satu dekade terakhir ini muncul diskursus yang lebih insentif mengenai pentingnya faktor “kelembagaan” sebagai  variabel yang mendorong pertumbuhan ekonomi sebuah Negara. Faktor kelembagan ini akan di ulas pada edisi selanjutnya, …. (*)

*Mahasiswa Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya Malang

Gagalnya SDM dan SDA Kepadatan Penduduk dan Teknologi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi

Related Post

Leave a reply