Lespel Gelar Workshop Pengembangan Destana

540 views


PUSAKAPUBLIK.COM, Dompu – Bertempat di Hotel Tursina Kotabaru Dompu, Lembaga Studi Pengkajian Lingkungan (Lespel) menggelar Workshop Pengembangan Desa Tangguh Bencana (Destana).

Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Selasa (21/8) itu bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Dompu dan World Neighbors (WN), yakni sebuah organisasi internasional yang bersifat nirlaba yang bekerja bersama masyarakat marginal pada beberapa daerah yang sangat rentan secara ekologis di wilayah Asia, Afrika dan Amerika Latin.

Workshop yang dihadiri oleh perwakilan dari dinas/instansi terkait seperti Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Pertanian dan Perkebunan serta Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Dompu dan perwakilan dari  sejumlah desa itu dibuka oleh Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Dompu, Drs. Imran M. Hasan yang didampingi Direktur Lespel, Zulkarnain, S. Sos, PO WN, Manu Drestha dan Wakil Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Kabupaten Dompu, Islamsyah, SH.

Kalak BPBD Kabupaten Dompu, Drs. Imran dalam paparannya menerangkan pengembangan Desa Tangguh Bencana (Destana) merupakan suatu keniscayaan mengingat bencana bisa terjadi sewaktu-waktu baik bencana banjir, tanah longsor, gempa bumi, angin puting beliung, dan juga kekeringan. “Harapan saya dan harapan kita semua bila ada bencana alam jangan panik karena kepanikan justru berakibat fatal dan bisa menimbulkan korban jiwa,” kata Imran. Dikemukakannya, tindakan preventif untuk mencegah terjadinya korban jiwa adalah hal yang utama. Sehingga dengan keberadaan Destana, masyarakat telah dibimbing dan dilatih untuk tangguh menghadapi bila terjadi bencana.

Manu Drestha dari WN menerangkan berdasarkan Peraturan Kepala (Perka) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Desa/Kelurahan Tangguh Bencana yang dikatakan Desa Tangguh Bencana (Destana)

adalah desa yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan menghadapi potensi ancaman bencana , serta memulihkan diri dengan segera dari dampak – dampak bencana yang merugikan.

Ia menjelaskan bahwa penanganan pra bencana, saat bencana maupun pasca bencana tidak bisa ditangani oleh pemerintah saja, akan tetapi harus melibatkan sejumlah elemen masyarakat dengan peran dan fungsi masing-masing. Karena itu Destana amat diperlukan untuk membangun kapasitas masyarakat agar memiliki kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Direktur Lespel, Zulkarnain, S. Sos menjelaskan ada 25 desa di Kabupaten Dompu yang menjadi binaan Lespel sebagai Destana. Di antaranya ada 5 desa yang masuk kategori desa tangguh bencana utama, yakni desa Lasi di Kecamatan Kilo, Desa Karama Bura di Kecamatan Dompu, Desa So Nggajah di Kecamatan Kempo, serta Desa Pekat dan Nangamiro di Kecamatan Pekat. Selanjutnya kelima desa itu dideklarasikan sebagai Desa Tangguh Bencana berupa pembacaan deklarasi bersama yang dipandu oleh Kalak BPBD Kabupaten Dompu.

Ditambahkan Koordinator Program Lespel, Ibrahim, S. Pt, Pemerintah Daerah Kabupaten Dompu pemerintah daerah Kabupaten Dompu diharapkan melahirkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Penanggulangan Bencana dan selanjutnya 81 desa/kelurahan di Bumi Nggahi Rawi Pahu ini dapat ditetapkan sebagai Destana.

“Kalau sudah ditetapkan sebagai Desa Tangguh Bencana nanti akan dibentuk Kelompok Masyarakat Penanggulangan Bencana (KMPB) di desa-desa itu,” pungkasnya.(emo).

Destana Dompu Lespel Workshop

Related Post

Leave a reply