Hoax dan Agenda Politik

277 views
Ilustrasi Foto: Istimewa (https://www.piah.com)

Ilustrasi Foto: Istimewa (https://www.piah.com)

Arif Bulan

Founder Rumah Dilanesia Arifbulan1@gmail.com

Saring sebelum “sharing”, itulah frasa yang tepat untuk menanggulangi tsunami informasi fiktif yang hampir-hampir mengaburkan fakta. Hal ini sangat sulit dibedakan, mengingat teknologi informasi yang begitu pesat dan cepat berkembang di dunia, pun di Indonesia.

Hoax sebenarnya fenomena lama, namun penyebaran dan medianya tergolong baru karena pengguna media sosial begitu banyak sehingga konsumen hoax menjadi sangat banyak dan menjamur di Indonesia. Penulis menagatakan hoax sebagai fenomena lama karena hoax ini sebenarnya mirip dengan “ngerumpi” (cerita gak jelas, cerita yang ditambah-tambah) kaum yang masih tergerus peradaban, bisasanya mereka ada di pinggir jalan, di pinggir  gang, hingga di pinggir lorong debu peradaban, sehingga penyebaranya hanya pada lingkup kecil itu saja. Namun hoax sekarang menjadi fenomena dunia, di mana saat kontestasi pemilu presiden yang sebentar lagi akan digelar (2019), mencul media-media online abal-abal yang pekerjaannya untuk menyebarkan berita hoax, begitupula saat pemilu prsiden Amarika Serikat beberapa waktu lalu, pun sampai sekarang masih merejalela di sela perselancaran dunia maya.

Jika zaman dulu, hoax (ngerumpi) itu menyerang orang-orang kampung, tapi sekarang hoax sudah menyerang siapa saja, tanpa memilih kelas sosial dan ekonomi. Mulai dari pelajar, mahasiswa, pegawai, hingga tukang becak. Pengguna internet (medsos) yang begitu banyak di Indonesia menjadi sasaran empuk produsen berita hoax.  Berdasarkan suvey Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII, 2016) pengguana internet di Indonesia mencapai 132,7 juta penduduk artinya ada sekitar 52% penduduk Indonesia adalah pengguna internet. Sebagian besar pengguna internet adalah mahasiswa dengan persentase (89,7 persen), pelajar (69,8 persen), dan pekerja (58,4). Pangsa pasar inilah yang menjadi modal menjamurnya produsen berita hoax.

Penyebaran berita hoax sangat cepat terjadi, terkadang, berita hoax tersebut direproduksi oleh pengguna internet (medsos) yang tidak sadar bahwa itu adalah berita hoax. Ada anggapan bahwa, dengan sering menyebarkan informasi ke group-group medsos seperti Facebook, twitter,  dan juga menyasar kepada group Whatsapp, Instagram dan BBM adalah hal yang keren, biar dianggap update informasi, padahal informasi yang mereka sebar adalah hoax. Ini menjadi keutungan sendiri bagi pencipta dan pemesan berita hoax tersebut.

Bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa berita hoax itu adalah berita yang dengan sengaja disebarkan demi kepentingan tertentu, ada aktor di belakangnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa banyaknya pengguna medsos menjadi panggung empuk penyebarannya.

Ada hal menarik yang perlu kita lihat, kenapa berita hoax ini sampai dianggap benar, bahkan menjadi sumber utama rujukan debat kusir, sampai-sampai dengan mudah disebarkan oleh para pengguna medsos? Ada beberapa poin yang coba penulis analilis. Yang pertama adalah mudahnya berita hoax tersebar karena masih ada sentimen politik pemilihan presiden yang akan kita gelar sebentar lagi (2019). Bahkan sebelum pemilu dimulai hujat-menghujat antara pendukung calon sudah terjadi di medsos, sehingga sentimen itu kemungkinan dibawa pasca pemilu. Yang kedua adalah, adanya distrust kelompok tertentu terhadap subjek yang muat dalam berita hoax tersebut, dengan harapan banyak opini yang terbangun dan mendukung apa yang mereka beritakan tersebut. Yang terakhir adalah fanatisme subyektif. Perlu kita ketahui juga bahwa hoax itu sifatnya subyektif, ia pasti menceritakan tentang sebuah tokoh, entah itu dicerikan dalam model cerita baik (pencitraan) dan juga cerita buruk. Dalam konteks fanatisme subjektif ini, jika subyek yang ada dalam hoax tersebut merupakan idolanya maka akan cepat pula dia “sharing” berita tersebut walaupun berita itu hoax.

Menyoal yang telah dipaparkan di atas, sebenarnya ada dua aktor penyebar berita hoax ini. Yang pertama adalah conscious actors. Ia merupakan orang yang dengan sengaja menyabarkan informasi/berita hoax, tentunya meraka ada ‘kepentingan’. Yang kedua adalah unconscious actor. Ia merupakan orang-orang yang tidak sengaja alias tidak tahu bahwa itu adalah berita hoax. Unconscious actors biasanya para pemula atau pemakai medsos ‘abangan’, kadang mereka tanpa saring langsung “sharing” informasi atau berita yang didapat tersebut ke medsosnya.

Lantas apa tujuanya berita hoax tersebut disebar? Untuk mejawab pertanyaan tersebut, kita harus mengklarisfikasi terlebih dahulu aktornya. Jika mereka adalah conscious actors maka bisa dipastikan mereka memiliki kepentingan politis, anggapan tersebut mengacu pada fenomena yang terjadi saat ini. Di mana berita hoax yang dimunculkan tersebut memojokan subyek-sbubyek tertentu, apalagi sekarang ini sedang berlangsung genderang perang Pemilu Presiden, yang bahkan genderang perang sudah dibuka dan sudah lama mulai, sehingga hal tersebut memicu fenomena hoax ini. Selanjutnya adalah jika aktornya merupakan unconscious actors maka kepentingan mereka hanya satu, yaitu pengakuan diri, dengan menyebar info tersebut mereka ingin dicap sebagai informan sejati, yang biar dianggap up to date, walaupun berita yang disebar adalah hoax.

Kita sebagai kaum terpelajar dan akademisi yang mendominasi pengguna internet di Indonesia memiliki andil untuk “meng-counter” usaha-usaha pengkaburan fakta oleh pihak-pihak tertentu. Kita harus menyadari bahwa sasaran empuk penyebar berita hoax itu adalah kita, sehingga kita harus memiliki sistem imun yang kita ciptakan sendiri. Apa sistem imun yang kita ciptakan tersebut? Sistem imun yang dimaksud adalah, ketika kita mendapat berita hoax tersebut, kita harus mengecek kembali sumber berita tersebut, apakah dari media terpercaya atau tidak, apakah dari media nasional atau abal-abal. Sehingga imun itu adalah sensitivitas kita sendiri sebagai pengguna internet dalam melihat fenomena hoax tersebut.

2019 Dompu Hoax Indonesia Kritis NTB Nusa Tenggara Barat Politik STKIP Transformatif Yapis Dompu

Related Post

Leave a reply