Disrupsi Dunia Pendidikan

283 views
(puniki menawi kasayubin) https://www.wartaekonomi.co.id

Oleh: Arif Bulan (Founder Rumah Dilanesia)

Isu disruption atau kegaduhan belakang ini mencuat. Mulai dari kegaduhan politik, kegaduhan masyarakat hingga kegaduhan dalam dunia usaha dan bisnis. Dan bahkan dunia pendidikan pun, mungkin, akan mengalami disruption. Yang penulis tekankan di sini sebenarnya bukan kegaduhan seperti makna yang ditemui pada kamus, tetapi disruption di sini, meminjam istilah dari Renald Kasali, adalah perubahan untuk menghadirkan masa depan ke masa kini. Tahun lalu, saat penulis menghadiri kuliah umum bapak Helmy Yahya di Universitas Negeri Yogykarta dengan tema “Pemahaman dan strategi menghadapi disruption issues dunia kerja dan bagaimana pendidikan menyikapinya”, sangat memberikan banyak gambaran tentang bagaimana perubahan dunia yang begitu cepat terjadi.

Banyak dari kita tidak menyadari bahwa dunia ini sudah berubah. Dulu Handphone 2G sangat berkuasa, setalah itu digantikan oleh Handphone dengan kemampuan jaringan 3G, sekarang 3G sudah tergeser oleh 4G, bukankah itu suatu perubahan? kita juga tidak memikirkan bahwa perusahaan Handphone 2G sudah kuno.

The world is changing itulah kalimat yang disampaian oleh Helmy Yahya saat memulai kuliah umumnya. Melihat contoh di atas kita akan sadar bahwa memang dunia ini sudah berubah. Dalam dunia pendidikan pun telah mengalami perubahan. Proses pendidikan pada Zaman dahulu hanya mengandalkan sistem tutorial, di mana satu guru hanya mengajar satu orang saja. Kebiasaan ini muncul pada jaman kerajaan-kerajaan di mana pendidikan sangat ekslusif hanya pada orang tertentu. Sistem pendidikan tutorial ini seperti yang disebutkan oleh Muhammad Ansyar dalam bukunya yang berjudul “Hakikat, Fondasi, Desain dan pengembangan Kurikulum” sebagai sistem pendidikan yang hanya mentransfer atau mewariskan budaya masyarakat kepada kepada generasi muda agar mereka menguasai pengetahuan dan keterampilan dan nilai-nilai yang membantu mereka hidup pada zaman itu.

Setelah itu, sistem tutorial pun mulai tergantikan dengan sistem ruang kelas, di mana semua orang bisa sekolah dan belajar bersama guru di ruang kelas. Jadi kita bisa mengatakan bahwa sistem belajar tutorial yang masih ada dan eksis hingga saat ini adalah warisan luluhur, kita harus bangga, tetapi apakah sampai itu saja perubahan yang terjadi pada dunia pendidikan?

Sepertinya tidak. Anis Baswedan pernah berpidato beberapa bulan lalu, intinya beliau menggambarkan perubahan pada dunia pendidikan itu sendiri. Bahwa pembelajaran di kelas itu adalah cara lama, anak-anak butuh dan perlu cara baru untuk belajar. Senada dengan hal itu, tentunya, dunia pendidikan harus responsif dengan perubahan dunai digital yang begitu pesat ini. Kita harus berani mengatakan bahwa siswa dan mahasiswa adalah manusia milenial, atau yang lebih trendi dibilang anak zaman now.

Iya, mereka adalah anak zaman now yang perlu diberikan pendidikan sesuai dengan perkembangan zaman. Ini, mungkin, sebuah anomali bahwa guru yang mengajar anak milenial adalah guru generasi sebelumnya, yang tentunya harus beradaptasi dengan perkembangan anak-anak zaman sekarang. Bukan malah sebaliknya, memaksakan siswa dan mahasiswa untuk belajar dengan cara lama. Dengan perkembangan teknologi, pembelajaran sekarang tidak melulu tatap muka dalam kelas. Hal ini yang sudah dilakukan oleh salah satu kampus Swasta terbaik Indonesia. Kampus ini memanfaatkan teknologi dengan memudahkan mahasiswa untuk belajar. mahasiswa tidak perlu lagi datang ke kampus untuk belajar. mereka cukup berada pada dimensi smartphone atau komputer yang tersambung oleh internet. Agar tidak melupakan nilai sosial, kampus inipun sesekali mengadakan pembelajaran di kelas dan model daring (blended learning). Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa dunia pendidikan kita akan berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Dan ini akan berkonsekwensi pada perubahan kurikulum baru lagi.

Disrupsi Konsep Pembelajaran Pendidikan Teknologi

Related Post

Leave a reply