HOAX DAN REALITAS SOSIAL MEDIA

581 views
www.montaingrafix.eu

HOAX DAN REALITAS SOSIAL MEDIA

Arif Bulan

Dosen Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Yapis Dompu

Dalam banyak kesempatan, hoax telah menjadi isu yang menarik untuk diperbincangkan. Mungkin sebagian dari kita belum mengetahui apa arti hoax itu, karena ia sendiri bukanlah bahasa Indonesia melainkan bahasa inggris namun kita lebih familiar menggunakan kata hoax daripada kata  “bohong”.

Perbincangan mengenai isu hoax tidak mengenal tapal batas, mulai dari tukang ojek pangkalan hingga presiden pun membincangkan masalah ini. Sebegitu serius kah masalah ini hingga Presiden, Kapolri, Pimpinan TNI pun khawatir akannya.

Sebagai langkah awal proteksi keutuhan berbangsa dan bernegara maka hoax harus dikategorikan sebagai musuh bersama karena ia akan mengganggu stabilitas keamanan negara. Beberapa fenomena faktual gangguan hoax ini mulai terlihat saat pemilu presiden republik Indonesia tahun 2014 silam hingga saat ini, di mana banyak sekali berita yang berseliweran di media-media, baik pada berita daring dan media sosial. Berita itu tentu saja  mengandung kadar kebohongan tinggi karena memuat hoax di dalamnya. Kebohongan yang dimuatnya selalu memojokan subjek tertentu dengan membeberkan kejelekannya.

Selain itu, kontestasi pilkada Jakarta pun tidak luput dari serbuan berita hoax. Model penyebaranya pun hampir sama saat pemilu presiden yaitu melalui media berita online yang tidak jelas dan melalui media sosial, seperti facebook, twitter, whatsapp, line, BBM, linkedin dan masih banyak lagi media sosial lain.

Perlu kita klasifikasi terlebih dahulu model penyebaran hoax dalam media berita daring dan melalui media sosial. Sebenarnya, jika dilihat dalam perspektif teknologi, penyebaran hoax bermula dari situs media berita daring (tidak termasuk media daring kredibel/legal). Dari sana diproduksi berita bohong, kemudian ada operator yang bertugas menyebarluaskan berita itu setelah diproduksi. Lalu, ia menyasar pada facebook maupun twitter. Dari sinilah kemudian hoax bereproduksi karena ketidak pekaan nitizen menyikapi berita hoax tersebut. Selanjutnya, penyebaran hoax dalam whatsaap dan BBM relatif mudah, lagi-lagi masalahnya di sini adalah kepekaan kita sebagai pengguna. Kita cenderung menyebarkan kembali berita hoax itu karena kita anggap berita itu menarik, atau ada kata-kata “mohon disebarkan” padahal berita itu bohong. Oleh karena itu, ada pihak yang sengaja memanfaatkan ketidaktahuan nitizen akan kebohongan berita tersebut, sehingga tidak sedikit nitizen yang percaya terhadap berita tersebut, sampai-sampai berita hoax tadi dianggapnya berita yang paling benar.

Perlu diketahui juga, menurut CNN Indonesia, media produsen berita hoax  dapat meraih keuntungan pertahun hingga 700 juta dari konten hoax yang diproduksi dan disebarkannya itu. Keuntungan itu sebenarnya di luar dari berita pesanan’ karena produsen berita hoax ini juga menerima pesanan berita hoax demi kepentingan tertentu. Dengan begitu kita bisa mengklaim bahwa produsen berita hoax adalah aktor yang dengan sadar memproduksi dan menyebarkan berita hoax demi meraup keuntungan pribadi tetapi membahayakan kehidupan berbangsa melalui berita provokatif yang dibuatnya tersebut.

Selain itu ada juga aktor, yang boleh kita sebut sebagai Unconscious actors. iamerupakan orang-orang yang tidak sengaja atau tidak tahu bahwa itu adalah berita yang dibacanya itu adalah hoax. Unconscious actors biasanya para pemula atau pemakai medsos ‘abangan’, kadang mereka tanpa saring langsung “sharing” informasi atau berita yang didapat tersebut ke medsosnya biar dianggap update. Tetapi, di sisi lain, ada juga pengguna medsos yang mengetahui bahwa berita itu hoax namun tetap disebarkannya. Biasanya aktor yang seperti ini bisa dikategorikan sebagai aktor yang memiliki sentimen terhadap subjek yang termuat dalam berita bohong itu.

Literasi Sosial Media sebagai Alternatif

Fenomena Hoax sejatinya berawal dari kurangnya  kepekaan kita terhadap literasi sosial media. Sekarang ini jatah interaksi dalam dunia nyata sebenarnya berkurang dan didominasi oleh interaksi dunia maya. Hal ini sulit disangkal jika dilihat dari jumlah pengguna internet yang begitu banyak di Indonesia. Seperti data yang dirilis oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2016, pengguana internet di Indonesia mencapai 132,7 juta jiwa. Artinya 50% lebih penduduk Indonesia menggunakan internet dan turunan-turunannya seperti facebook, instagram, twitter, line, bahkan whatsapp.

Sayangnya, pengguna media sosial yang begitu banyak di Indonesia berbanding terbalik dengan kepekaannya terhadap hoax. Permasalahannya adalah pengguna media sosial belum mampu memilah mana berita yang benar-benar berita aktual dan terpercaya dengan berita-berita hoax yang sengaja diproduksi dengan artifisialitas tinggi, artinya hoax ini sengaja dipoles sedemikian rupa sehingga hampir mendekati benar. Hal ini seperti yang dikhawatirkan oleh Baudrillard, bahwa di dalam realitas media, kepalsuan dipahami sebagai  kebenaran, rumor ditangkap sebagai informasi, tanda diperlakukan sebagai realitas dan simularka diterima sabagai yang nyata, sehingga ada jurang yang dalam antara citra media dengan  realitas sosial. Mengutip apa yang disampaikan oleh pakar komunikasi, Effendi Ghazali, bahwa hoax itu mampu mengambil hati pembaca melalui data artifisial yang dimunculkan sehingga itu menjadi sulit untuk dibedakan. Oleh karena media sosial merupakan entintas yang telah ditunggangi berita hoax, maka perlu kiranya kita sebagai generasi muda memberikan alternatif pemecahan masalah yang sedang dihadapi bangsa ini. Maka hal yang harus kita lakukan adalah mengedepankan etika dan logika ilmiah. Etika dan logika ilmiah terjewantah melalui check dan recheck sumber, membandingkan dengan berita arus utama, menanyakan pada ahli, kemudian yang terakhir adalah analisis isi berita. Akhirnya, literasi sosial media dalam bentuk penularan etika dan logika ilmiah kepada sesama pengguna media sosial akan membantu menepis beredarnya berita hoax yang membahayakan stabilitas negara dan keutuhan berbangsa dan bernegara

Dompu Hoax Media NTB Sosial

Related Post

Leave a reply