Belajar dari TGH tempo dulu untuk martabat TGH Zaman Now

439 views
Foto: Dr. (Cand) Murdan, M.H.

Dr. (Cand) Murdan, M.H.

Dosen Luar Biasa UIN Mataram

Para TGH tempo dulu rata-rata dianugerahi kemampuan untuk meramal masa depan umat dan agama, dan ramalan para TGH tempo dulu itu terjadi hari ini. Misalnya, ramalan yang mengatakan, “besok pada zaman itu, orang berbondong-bondong mengejar agama (Islam), namun Bude yg datang”. Maksudnya, semua orang belajar dan paham ajaran agama, namun prilakunya seperti orang yang tidak beragama dan berbudaya. Ramalan lainnya, “besok pada zaman itu, Tuan Guru membludak (overload)”.  Maksudnya Tuan Guru banyak, namun sibuk mencari urusan duniawi saja, tanpa peduli terhadap apa yang dikatakan dan apa yang menjadi tujuan utama seorang TGH. Jadi, melalui ramalan ini, para Tuan Guru tempo dulu memberi nasehat kepada masyarakat untuk berhati-hati dan tetap menjaga ajaran agama dan budaya pada zaman yg dimaksud.

Bagaimana dengan para TGH hari ini, apakah mereka masih mampu meramalkan masa depan umat dan agama layaknya para TGH tempo dulu? Jika para TGH hari ini tidak lagi memiliki kemampuan meramal masa depan umat, maka solusinya, TGH hari ini harus menjadi TGH plus scientist terkemuka untuk tetap mampu meramal masa depan umat dan agama. TGH sebagai scientist harus, dan tidak bisa ditawar. Melalui TGH sebagai ilmuan, maka eksistensi TGH akan tetap sustainable dan survive dengan arus zaman. Hari ini, hanya para ilmuan melalui experimental sciences-nya yang mampu meramal masa depan umat manusia.

Puluhan tahun terakhir terjadi pergeseran arti dari kata ulama, lebih-lebih setelah masa Reformasi yang sangat identik dengan liarnya sistem politik di Indonesia. Kata ulama ditujukan hanya kepada orang-orang yang paham ajaran agama, dan memiliki jamaah pengajian di Masjid atau Pesantren. Tentu pergeseran makna ini cukup disayangkan. Jika kata ulama digali dari hadis yang mengatakan bahwa ulama merupakan pewaris para nabi (العلمماء روثة الأنبياء ), maka dapat dikatakan bahwa ulama tidak saja sebatas pada pewaris nabi ya’kub semata yang terkenal dengan sufistik dan kesabarannya. Namun orang yang paham ajaran agama, taat menjalani ajaran agama, dan ahli dalam bidang teknik, juga merupakan ulama, karena dia mewarisi ilmunya nabi Nuh yang terkenal sebagai nabi teknik perkapalan.

Begitu juga bagi orang yang paham ajaran agama, taat menjalaninya, dan ahli dalam bidang peternakan dan pertanian, lebih-lebih sukses menjadi pebisnis besar seperti Rasulullah dan para Sahabatnya, maka layak dikatakan sebagai ulama yang mewarisi Nabi Muhammad dan Nabi-Nabi lainnya. Singkatnya, sesorang layak untuk dikatakan sebagai ulama atau Tuan Guru, setidaknya yang bersangkutan harus memiliki beberapa kriteria: Pertama, harus paham ajaran agama Islam. Ajaran pokok agama Islam ada di Al-Quran dan Al-Hadis, karena Al-Quran dan Hadis Bahasa Arab, maka yang bersangkutan wajib dan harus fasih dan paham bahasa Arab. Kedua, taat kekada ajaran agama Islam. Ketiga, harus ada ilmu para nabi dan rasul yang diwarisi, dan ilmu itu mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi umat manusia dan alam semesta. Melalui kriteria ini, maka generasi Tuan Guru Sasak akan mampu mencetuskan Alfarabi baru, Ibnu Sina baru, Ibnu Rush baru, Ibnu Khaldun baru, Al-Ghazali baru, Imam Maliki, Hanafi, Syafii, dan Imam Hambali baru, dan lain sebagianya.

belajar Dompu Tuan Guru

Related Post

Leave a reply