Memahami Teori Locke dan Rousseau dalam Pendidikan Anak

535 views

Oleh: Arif Bulan, M.Pd

Dosen Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Yapis Dompu

Anak merupakan titipan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena ia adalah titipan maka  setiap ibu dan bapak (orang tua) harus menjamin perkembangan psikologi dan kognitifnya dengan baik. Seperti yang tertuang dalam teori tabularasa, Locke, bahwa anak ibarat kertas putih kosong yang siap digambarkan apapun dalam kertas itu. Sebagai orang tua, kita harus mengetahui apa maksud dari Locke ini.

Tentu, dalam mendidik anak, orang sangat kuat perananannya. Mengacu pada teori tabularasa di atas maka, anak bisa diibaratkan sebagai miniatur yang siap untuk diatur berdasarkan kemauan desainer. Oleh sebab itu, baik tidaknya anak tergantung pada pendidikan awal yang diberikan oleh orang tua dan lingkungan keluarga karena yang berperan penting dalam mengisi kekosongan kertas putih tersebut adalah orang tua dan lingkungan keluarga.

Dalam penemuan ilmu kedokteran modern, anak telah mampu mendengar, mengingat dan merekam suara ibu saat ia masih berada dalam kandungan. Maka sebelum anak lahir, ibu harus membiasakan diri mengucapkan kata-kata yang baik. Jika ibu selalu mengucapkan kata-kata buruk saat anak dalam kandungan maka  ia akan memiliki kecenderungan menyimpan kata-kata buruk yang diucapkan oleh ibunya. Dalam perspektif psikolinguistik, pendidikan untuk anak sebenarnya bisa dimulai sejak dalam kandungan melalui media bahasa. Artinya, harus ada keterkaitan pendidikan saat anak masih dalam kandungan sampai anak dilahirkan hingga ia dewasa pun ibu dan bapak harus tetap mendidiknya agar menjadi anak yang baik dalam psikologi dan kognitif.

Pembentukan psikologi dan kognisi anak utamanya ada pada lingkup keluarga maka orang tua adalah sebagai pembentuk utamanya. Dalam kehidupannya, anak tidak bisa terlepas dari lingkungan sosial sebagai wadah interaksi masyarakat, selain itu lingkungan sosial juga bisa menjadi penyumbang pembentukan maupun perkembangan kognitif dan psikologi anak. Seperti yang diungkapkan oleh Locke, bahwa anak bisa dibentuk oleh lingkungan sosial, terutama pendidikan dan apapun yang ada dalam pikiran datangnya dari lingkungan. Artinya bahwa, dalam kehidupan sosial terjadi pendidikan, baik pendidikan secara natural atau alami maupun pendidikan hasil rekonstruksi sosial.

Pendidikan natural atau alami menurut penulis merupakan produk dari anak sendiri, di mana mereka melalui dan mendapatkannya dengan proses alami. Dalam kajian psikologi, terutama Rousseau, mengungkapkan bahwa anak sudah pasti akan melalui empat fase perkembangan. Fase-fase itu antara lain, infant stage, childhood stage, late childhood stage dan adolescence stage. Maka dalam fase-fase ini bisa dikatakan alami, karena setiap anak pasti akan melaluinya, akan tetapi yang berbeda adalah proses dalam melalui fase-fase itu. Dengan begitu, proses dari fase inilah diharapkan peran orang tua dalam mendidik anak.

Secara teoritis, orang tua harus mengenal dan mengetahui fase-fase yang dilalui oleh anak sehingga pola pendidikan yang diberikan sesuai dengan tingkatan umur anak. Fase pertama yang akan dilalui oleh anak adalah Infant stage atau fase pertumbuhan awal. Fase ini anak berumur sekitar dua tahun. Menurut Rousseau, pada umur 2 tahun  anak sudah mulai aktif dan melakukan banyak hal yang mereka bisa. Dengan begitu, orang tua dalam proses pengawasanya harus memberikan ruang gerak kepada anak dengan tidak membatasi anak untuk melakukan hal-hal yang mengasah kreatifitasnya. Orang tua juga diharapkan memberikan pujian atau reward dalam proses pengawasannya. Dengan memberikan reward anak akan merasa senang dan termotivasi.

Pemberian reward pada anak menurut Locke, seharusnya, bukan berupa berupa sesuatu barang tetapi harus berupa pujian. Reward yang berbentuk hadiah sebenarnya akan menimbullkan ketergantungan pada anak itu sendiri, sehingga jika ia tidak mendapatkan reward maka motivasinya anak berkurang. Oleh karena itu, pemberian reward yang berbentuk barang harus dihindarkan.

Selanjutnya, childhood stage atau masa kanak-kanak. Anak pada fase ini sekitar berumur 2 hingga 12 tahun. Menurut Rousseau, anak sudah mulai independen, bisa berlari sendiri, jalan sendiri. Peran orang tua dalam fase ini adalah menjadi penuntun sebelum mereka bergaul dalam lingkungan sosial yang begitu kompleks. Dalam fase ini juga anak sudah harus diberikan pemahaman tentang sesuatu yang vital bagi mereka, misalnya memberikan pendidikan seks (sex education). Pendidikan seks harus diberikan atau diperkenalkan disaat mereka sudah mulai independen karena pada umur 2 hingga 12 tahun mereka sudah bergaul dalam lingkungan sosial, yang artinya mereka akan banyak bersentuhan dengan masyarakat luas. Oleh karena itu, anak harus tahu bagian mana dalam anggota tubuh yang tidak boleh dilihat dan dipegang oleh orang.

Selanjutnya, late childhood stage atau masa remaja. Pada fase ini, anak berumur sekitar 12 hingga 15 tahun. Menurut Rousseau, masa remaja ini sebenarnya masa transisi menuju masa dewasa (adolescence). Pada masa ini, secara fisik anak sudah mulai kuat melakukan hal-hal yang berat. Dalam pergaulan sosial misalnya, mereka sudah mampu melakukan gotong royong dengan masyarakat. Dalam usia transisi ini, orang tua harus memberikan ruang gerak anak untuk banyak bergaul dalam lingkungan sosial. Dalam pandangan Locke, lingkungan sosial mampu memberikan pengetahuan baru bagi anak. Sederhanya, banyak bergaul akan menambah pengalaman, pengalaman itu kemudian menjadi pengetahuan. Selain itu juga anak akan mendapatkan nilai sosial berupa kepekaan sosial.

Yang terakhir adalah adolescence stage atau masa dewasa. Masa ini anak berusia 15 tahun ke atas. Rousseau mengatakan, pada umur ini anak sudah mulai masa puber. Pada umur ini juga anak sudah mulai tertarik pada lawan jenis atau bahasa kerennya sudah mulai bisa pacaran. Dengan begitu, pada umur ini pengawasan dan pelibatan diri orang tua sangat dibutuhkan. Pelibatan diri yang dimaksud adalah bisa berupa memberikan pemahaman pada anak mengenai sisi negatif dari pacaran dilihat dari perspektif religius. Oleh karena itu, orang tua sebagai guru pertama bagi anak harus memahami konsep-konsep perkembangan anak agar anak bisa dididik berdasarkan tingkat perkembangannya. Selain memahami, ibu juga harus menjalankan kurikulum keluarga yang telah disusun berdasarkan standar yang telah diatur oleh agama sehingga bisa melahirkan generasi yang baik untuk Indonesia.

Anak Dompu NTB Pendidikan pendidikan anak

Related Post

Leave a reply