Kurikulum Perdamaian

464 views
http://voiceseducation.org/content/peace-and-community-building-curriculum-teacher-guided-lessons

Oleh: Mardiah, M.Pd.

Founder Rumah Dilanesia

Sejak tahun 2005, seperti yang tertuang dalam PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang standar kompetensi lulusan,  Indonesia telah menerapkan kurikulum “Perdamaian” (versi penulis). Dalam hal perdamaian, setidaknya ada banyak aspek yang perlu dilihat, namun dalam tulisan ini, penulis hanya memaparkan tiga aspek saja dalam mempengaruhi perdamaian. Aspek tersebut seperti yang tertuang dalam kurikulum nasional kita adalah aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan. Lantas apakah aspek ini berpengaruh terhadap perdamaian di Indonesia?

Dalam kurikulum 2013, aspek sikap terbagi menjadi dua yaitu aspek sosial dan aspek spiritual. Sikap berkaitan dengan bagaimana kita berprilaku. Sikap sosial artinya bagaimana kita berprilaku dalam ranah sosial dengan masyarakat yang ada di sekeliling lingkungan kita. Perlu kita ketahui juga bahwa kita memiliki keberagaman dalam masyarakat, misalnya keberagaman bahasa, budaya dan etnis. Keberagaman ini seharusnya menjadi modal kita untuk memperkuat sikap sosial.  Selanjutnya adalah sikap spiritual. Sikap spiritual ini berkenaan dengan bagaimana hubungan kita dengan sang pencipta. Di Indonesia memiliki keberagaman dalam hal agama, sehingga sikap spiritual kita bergantung pada agama dan kepercayaan kita masing-masing. Dalam konteks Islam, ada namanya “hablumminallah” dan “hablumminannas” yaitu hubungan antara manusia dengan tuhan dan hubungan manusia dengan manusia. Artinya bahwa, hal ini telah ada dalam kurikulum nasional kita. Jadi, telah terpatri dalam doktrin pendidikan formal. Sehingga aspek pertama perdamaian adalah perkuat sikap sosial dan spiritual.

Pengetahuan kadang juga menjadi boomerang bagi kita. Kita terlalu menganggap bahwa diri kita yang paling tahu, yang lain tidak tahu. Sehingga muncul egosentris keilmuan dengan mendewakan secuil pengetahuan yang akhirnya terjadi pengklaiman, kamu salah, saya benar, saya pintar kamu bodoh dan lain sebagainya. Lantas di mana posisi pengetahuan yang kita dapatkan selama menempuh pendidikan formal? Mana manfaat ilmu pengetahuan yang kita raih di sekolah formal untuk menjaga perdamaian? Jawabanya adalah, silakan renungi sendiri.

Yang terakhir adalah mengenai keterampilan. Jika dalam pendidikan formal, kita sering mengartikan bahwa keterampilan itu berkaitan dengan keterampilan mengerjakan tugas, keuletan dalam belajar dan lain sebagainya. Namun, dalam posisi real dalam dunia yang penuh hingar-bingar ini, keterampilan memecahkan masalah sangat penting. Kita kaitkan saja, soal atau latihan yang diberikan oleh guru di sekolah adalah sebuah masalah yang kita harus selasaiakan dan kerjakan. Begitupula dengan persoalan bangsa ini, kita harus menyelesaikannya bukan malah menambah keruh suasana dengan adanya pengklaiman, kamu salah, aku benar, aku pintar, kamu bodoh dan macam-macam. Penulis mengajak kita semua untuk merefleksikan demi menjaga perdamaian Indonesia di tahun politik (2019). Harapan kita dunia pendidikan dan “kita sendiri” mendalami nilai sikap, pengetahuan dan keterampilan.

kurikulum NTB perdamaian

Related Post

Leave a reply