Dinamika Transportasi Daring

628 views

Oleh: Mardiah, M.Pd

Founder Rumah Dilanesia

allaboutwindowsphone.com

Kemajuan ilmu teknologi abad XXI, ditandai dengan revolusi industri 4.0, memberikan dua sisi dampak bagi setiap negara. Di sisi lain, dampak tersebut bisa berupa dampak positif dan negatif. Begitu pula di Indonesia, dampak kemajuan teknologi di satu sisi juga sangat membantu, namun di lain sisi ada yang merasa terganggu dengan kemajuan tersebut.

Kemajuan teknologi tidak bisa dihindarkan kedatangannya. Menyimpulkan apa yang disampaiakan oleh Alan Turing, bahwa yang menciptakan teknologi adalah manusia, namun teknologi mampu bekerja lebih dari manusia. Sebagai contoh sederhana, kita mungkin sudah sangat lebih pintar dari google karena kita sering sekali bertanya kepada google ketika menemunkan kesulitan. Sebagai respon cepatnya, ia pun memberi jawaban yang sangat banyak, artinya ia bekerja lebih cepat dari otak manusia bahkan dalam hitungan detik. Agar tidak tergerus oleh peradaban kita pun harus siap bermesraan dengan kemajuan teknologi.

Apa yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia, seperti aksi protes dan demonstrasi oleh pengemudi transportasi konvensional, ojek dan taksi di beberapa daerah di Indonesia seperti Medan, Jakarta, Bogor, Bandung, Tangerang, Yogyakarta dan Solo merupakan respon ketidak sanggupannya bermesraan dengan teknologi. Dalam pandangan lain, kehadiran transportasi daring mengganggu kenyamanan mereka selama berpuluhan tahun bermesraan dengan model konvensional dan mereka pun tidak ingin lahannya dicampuri atau sederhannya transportasi daring merupakan pengganggu.

Sebenarnya, kelambanan pemerintah melihat kemajuan teknologi daring dan kelambanan dibuatnya peraturan pemerintah membuat kondisi antara pengemudi daring dan konvensional agak memanas. Akan tetapi aturan yang dikeluarkan oleh menteri baru berlaku 1 April 2017 sehingga diharapkan baik transportasi konvensional dan daring harus mematuhinya.  

Daring versus Konvensional

Penulis melihat masalah ini dari dua sisi yaitu sisi negatif dan positif. Kemajuan teknologi dengan adanya transportasi sistem daring di sisi lain memberikan kemudahan kepada para pengguna transportasi daring. Dalam sisi positifnya, pengguna transportasi daring mendapatkan banyak kelebihan dan kemudahan seperti, dijemput langsung di rumah. Lagi-lagi ini berkat kemajuan teknologi global positioning system (GPS). Melalui GPS yang telah tersambung pada smartphone masing-masing, pengemudi transportasi daring dengan mudah menemukan di mana lokasi pemesan dan juga langsung diantar pada lokasi yang diinginkan.

Selain itu, dalam sistem transportasi daring kita tidak perlu lagi menawar harga karena semua sudah tercatat dalam smartphone masing-masing sehingga tingkat keterbukaannya sangat tinggi. Model interaksi antara pemesan dan pengemudi bisa lebih hangat karena antara pemesan dan pengemudi bisa saling mengetahui nama bahkan foto pengemudi sudah terpampang dalam smartphone pemesan, sehingga tingkat kekeliruan orang hampir dikatakan tidak ada.

Dengan jumlah penduduk yang mencapai 250 juta jiwa, Indonesia menjadi pangsa pasar transportasi yang menjanjikan. Seperti dalam data yang dirilis oleh Kominfo, lembaga riset digital marketing memperkirakan, pada tahun 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia akan mencapai 100 juta orang.Artinya para investor platform transportasi daring ini menangkap peluang bisnis yang menjanjikan di Indonesia.

Menarik untuk ditelaah bahwa sebetulnya platform ini (transportasi daring) sangat berbeda dengan transportasi konvensional. Baik Go-jek dan Grab sebetulnya tidak memiliki kendaraan seperti ojek dan taksi konvensional. Go-jek dan Grab tidak perlu membeli mobil dan motor untuk mengoperasikan perusahaannya. Cukup menyiapkan platform dengan mengandalkan kendaraan pribadi orang yang menjadi pengemudi itu sendiri sehingga jangan heran jika kemudian aksi protes yang dilakukan oleh tukang ojek dan sopir taksi maupun angkot adalah merupakan reaksi pribadi dan reaksi koorporasi yang merasa dirugikan. Melihat fenomena ini, seharusnya, baik pemerintah maupun koorporasi penyedia layanan transportasi konvensional harus mempertimbangkan keberadaan konsumen sebagai pengguna jasa ojek maupun taksi. Penulis juga sebenarnya sebagai konsumen transportasi, namun penulis harus tetap mengemukakan etika objektifitas dalam tulisan ini. Oleh karena itu transportasi konvensional harus mempertimbangkan kebutuhan konsumen. Konsumen tidak saja mengenai antar dan jemput tapi juga mengenai pelayanan dan kenyamanan. Seperti yang diungkapkan oleh Kolcaba bahwa kenyamanan merupakan kebutuhan dasar manusia. Oleh karena itu faktor kenyamanan harus menjadi pertimbangan utama para penyedia layanan transportasi.

Dompu NTB online transportasi

Related Post

Leave a reply