Guru dan Tuhan yang (Tidak) Gagal

359 views

Oleh: Ilyas Yasin, M. M.Pd. 

Dosen Prodi. Pendidikan Sejarah STKIP Yapis Dompu

Foto: Ilyas Yasin, M. M.Pd.

Barangkali  banyak yang bertanya, bahkan mungkin kesal, mengapa sih kalau bicara mutu pendidikan kok selalu guru yang pertama kali dipersoalkan?  Dulu, saya termasuk yang pernah mendapatkan pertanyaan semacam ini saat bekerja di LSM dan melakukan pendampingan  pendidikan. Seorang guru senior sempat menyampaikan keheranannya saat kami memfasilitasi pelatihan sekolah ramah anak (friendly school) untuk para pemangku kepentingan, termasuk guru.  Secara implisit dia agak ‘tersinggung’ karena selalu guru yang diurus. Padahal, menurutnya, keberhasilan pendidikan itu ditentukan banyak faktor  seperti dana, fasilitas, dukungan kebijakan dan seterusnya.

Apa yang dikatakan sang guru itu benar. Namun tetap saja bahwa ‘guru’ merupakan unsur manusiawi paling penting dalam pendidikan. Jika diibaratkan mesin maka guru adalah generator yang akan menggerakkan komponen-komponen lainnya.  Banyak guru yang seringkali melemparkan kegagalan pembelajaran di sekolah pada siswanya. Misalnya ungkapan “Wah…susah pak, kalau siswanya bodoh mau diajarin bagaimanapun juga tetap susah”. Ada juga guru yang menghubungkan kegagalan pembelajaran dengan faktor genetik “Dasar orangtuanya bodoh ya…anaknya juga susah karena dari sananya seperti itu”. Bila guru sudah punya penilaian seperti itu terhadap muridnya tentu saja tidak banyak hal yang bisa diharapkan; gurunya sudah ‘melempar handuk’.  

Di tangan guru seperti ini maka mengharapkan perbaikan pendidikan itu bagai menggantang asap. Saya termasuk yang percaya akan khasiat dari prinsip yang mendasari profesi mendidik bahwa “Pada dasarnya tidak ada siswa yang bodoh, yang ada hanya guru yang buruk”. Kenapa? Karena saya percaya bahwa setiap anak diberi potensi dan kemampuan yang sama. Jangankan terhadap anak-anak normal, pada anak-anak yang ditakdirkan terlahir dengan berbagai keterbatasanpun (fisik maupun psikis), tetap memiliki potensi dan kemampuan. Hanya ‘keterbatasan’ orang-orang di sekitarnya lah yang tidak mampu melihat kelebihan-kelebihan yang  ada dalam diri anak-anak tersebut.  Itulah antara lain yang mendasari perubahan istilah, terutama buat anak-anak berkebutuhan khusus, dari ‘disabilitas’ (disable) menjadi ‘difabilitas’ (difable). Istilah ‘disable’ mengacu pada anak atau orang ‘yang tidak mampu’ alias ‘penyandang cacad’, sedangkan istilah kedua mengandung makna bahwa sejatinya anak-anak yang punya kelainan itu memiliki kemampuan dan potensi tetapi harus diajarkan dengan cara berbeda atau different abledifable.

Dalam hal ini, terhadap  anak-anak berkebutuhan khusus itu tidak boleh dipandang sebagai  “hasil karya Tuhan yang gagal, karena Tuhan tidak pernah gagal”. Justeru kita manusialah yang ‘gagal’. Ya, kita gagal melihat dan memahami bahwa di balik keterbatasan atau  ketidaksempurnaan pada anak-anak itu terdapat ‘kesempurnaan’ itu sendiri.  Dengan kondisi sekarang maka sulit saya membayangkan kemungkinan penerapan sekolah inklusi karena alih-alih mengajar anak-anak berkebutuhan khusus, terhadap anak-anak normal pun kita masih sulit.

Kembali kepada pertanyaan di atas, mengapa guru? Dalam batas tertentu profesi mengajar dan mendidik itu tak ubahnya dengan meminum obat. Ketika masih kecil dulu, secara berkala ibu saya sering mengharuskan kami, anak-anaknya, untuk meminum ramuan obat-obatan tradisional (jamu) yang dibuatnya. Pada zaman itu perkara minum obat semacam ini benar-benar tidak menyenangkan, bahkan menjengkelkan. Pasalnya ramuan ini terbuat dari berbagai bahan herbal seperti daun pepaya, temu ireng, daun jambu biji, akar tumbuh-tumbuhan, bahkan beberapa jenis rempah seperti cengkeh dan lain-lain. Karena diracik dari bahan-bahan seperti itu maka citarasa jamu ini luar biasa pahit, pedas dan kecutnya. Setelah jamu dibuat biasanya ibu mulai membujuk saya untuk meminumnya secara ‘sukarela’. Tapi  saya enggan dan menolak meminumnya.

Namun supaya kelihatan jadi ‘anak penurut’ saya tak kehilangan akal: saya tetap berlaku manis di hadapan ibu sambil sengaja mengulur-ulur waktu. Tiap kali ibu mendesak untuk meminum ramuannya saya pura-pura sok sibuk sambil berujar, “Iya sebentar lagi bu, lagi asyik main nih”. Jika ibu merajuk lagi saya pun mencari alasan lainnya, “Simpan saja dulu obatnya, nanti aku minum sendiri”. Begitulah seterusnya hingga jamu itu tak kunjung diminum. Bila sudah benar-benar kesal, ibu akan membentak dan memaksa saya untuk meminum jamu buatannya. Jika saya terus ‘bandel’ juga maka ibu segera memegangi saya dibantu tetangga, lalu saya direbahkan di lantai rumah. Meski saya memberontak sekeras-kerasnya, tapi tangan-tangan kekar yang memegangi kepala, tangan, tubuh dan kaki saya tidak mampu saya lawan.

Dalam keadaan seperti itu saya biasanya tetap berusaha melawan dengan menyemburkan kembali cairan jamu yang dituangkan ibu ke dalam mulut saya. Tak jarang jamu malah tumpah ruah ke wajah dan hidung saya. Kadang saya menggunakan jurus lain: menolak membuka mulut serta merapatkan gigi gerigi saya. Namun ibu juga tidak kekurangan akal yakni dengan memasukkan secara paksa gagang sendok nasi (yang terbuat dari kayu) ke dalam mulut hingga akhirnya saya pun menyerah: jamu akan terminum dengan sendirinya glek…glek…glek.  Setelah itu barulah ‘penderitaan’ saya berakhir: saya dilepas dengan sekujur tubuh bermandi peluh bercampur jamu yang tertumpah dengan nafas terengah-engah.

Begitulah, di zaman itu meminta anak meminum obat sedemikian panjang prosesnya, melelahkan dan menyakitkan hehe….Benar-benar tidak nyaman. Bagaimana dengan sekarang? Sungguh berbeda situasinya. Kini, jika anak saya demam maka saya tidak perlu meringkusnya bagai terpidana mati untuk meminum obat karena begitu disodorkan sirup penurun panas maka dia dengan senang hati meminumnya sendiri. Malah karena saking enaknya tuh obat seperti soft drink (minuman ringan) saja sehingga dia meminta meminumnya beberapa kali meski dia sudah sembuh. Mengapa urusan meminum obat buat anak-anak sekarang tidak serumit zaman dulu? Jawabannya jelas: karena inovasi! Ya inovasi dari para produsen obatlah sehingga urusan minum obat tidak lagi menjadi hal yang mengerikan tapi malah menyenangkan! Berkat inovasilah sehingga obat sekarang tidak selalu berkonotasi pahit dan kecut tapi telah diracik dalam berbagai varian rasa: ada rasa anggur, rasa madu, rasa strowberry, rasa apel dan lainnya, serta tentu saja, dengan rasa sayang hehe….

Demikian pula dengan profesi pendidik, inovasi itu menjadi penting karena seorang guru harus mampu mentransformasi murid-muridnya dari ‘nothing’ menjadi ‘something’,  ‘from zero to hero’, dari sesuatu yang kelihatan ‘impossible’ menjadi ‘possible’, dari mengubah (maaf) ‘sampah manusia’ (baca: murid-murid) manusia berguna kelak. Analogi terakhir ini mengingatkan saya 10 tahun lalu tatkala banyak warga Dompu yang menjual limbah-limbah pohon dan akar jati dan nangka ke daerah Bali. Saya lihat hampir tiap hari sejumlah truk mengangkut limbah-limbah kayu tersebut untuk selanjutnya dikirim ke Bali. Bagi warga Dompu tentu saja limbah-limbah kayu tersebut menjadi benda yang nyaris tak berguna, paling untuk kayu bakar. Tapi lihatlah, di tangan perupa Bali berbagai limbah tersebut bisa diolah menjadi mebeleur  (kursi, meja, asbak) bernilai seni tinggi dan berharga mahal. Dalam konteks pendidikan pun, lagi-lagi betapa peran guru  menjadi sangat penting adanya. Benar bahwa beberapa faktor lain ikut mempengaruhi kualitas pendidikan seperti disebutkan di atas, tapi pada akhirnya di tangan gurulah segalanya ditentukan.

Lihatlah bagaimana perjuangan, kreativitas dan ketulusan Ibu Muslimah dan Haji Harfan, sang kepala sekolah, dalam kisah Laskar Pelangi (2005). Meski didera berbagai keterbatasan namun toh akhirnya kedua guru hebat ini berhasil mengubah  para murid yang belajar di gedung SD Muhammadiyah reot itu tumbuh menjadi murid-murid yang penuh gairah dalam pembelajarannya. Kelak beberapa siswanya berhasil melampaui keterbatasan di sekolah mereka seperti Andrea Hirata (novelis dan peraih dua beasiswa di Inggris dan Prancis), di samping ada juga yang sukses berkarir sebagai birokrat (kepala Dinas Pendidikan di Bangka Belitung) serta legislator.  Dalam konteks inovasi ini pula, dunia pendidikan pun bisa berkaca pada perkembangan industri musik dimana hampir tiap pekan selalu muncul group band baru di Tanah Air.

Dalam kaitan  ini guru itu terbagi tiga  tipe guru yakni guru bertipe penumpang, tipe pecundang  dan tipe guru pembual  (Ahmad Rizali, dkk, 2009). Guru bertipe  ‘penumpang’ (passenger) adalah guru yang sekedar ‘nebeng’ saja menjadi guru. Berseragam Korpri,  memakai baju keki, atau menyandang predikat ‘PNS’, itulah cita-cita tertinggi guru macam ini. Dengan status Pegawai Negeri Sipil (PNS), dia sudah merasa puas sekaligus puncak kebahagiaannya karena merasa berada di atas kasta tertinggi dalam strata sosial masyarakatnya. Dari mulut guru tipe ini kadang malah muncul ungkapan “Saya mah mau ngajar mau nggak tetap terima gaji kok”. Tipe guru pecundang (losser) adalah guru yang pasrah saja dengan keadaan yang ada. Tipe guru ini bagai bendera di atas bukit; dia menyerah kalah saja; pasif saja. Yang paling buruk adalah tipe ketiga yakni guru pembual (bad speaker). Guru tipe ini lebih banyak mengoceh tentang hal-hal di luar profesinya, termasuk tipe ini adalah guru yang bercitarasa politisi. Profesinya guru tapi lebih sering menempatkan dirinya bagai pengamat politik, bahkan seperti pengurus partai politik. 

Sebaliknya tiga tipe guru yang diharapkan adalah kebalikan dari tiga di atas adalah  tipe pengemudi (driver),  tipe pemenang (winner); dan tipe inspirator (inspire). Jika guru sudah mampu menjadi guru inspiratif maka saya kira tidak alasan untuk galau dengan perubahan kurikulum maupun pergantian menteri pendidikan. Sebab toh pada akhirnya mendidik itu bagaikan bunyi jingle iklan teh botol Sosro itu: apapun kurikulumnya, atau siapapun menteri pendidikannya, tetap saja gurulah penentu  akhirnya. Tipe ‘guru inspiratif’ ini sudah sejalan dengan asal-usul kata ‘guru’ yang berasal dari bahasa Sansekerta ‘gu’ (kegelapan) dan ‘ru’ (menghilangkan),  jadi sejatinya  guru adalah ‘penghilang’ atau ‘penerang’ kegelapan (J. Sumardianta, 2013). Konsekuensinya, mustahil guru bisa menerangi ‘kegelapan’ dunia murid-muridnya bila ia sendiri dalam kegelapan, sumber kegelapan, apalagi menjadi kegelapan itu sendiri.

Lantas kenapa mutu guru kita rendah? Menurut Mulyasa (2008) ada lima faktor penyebabnya yakni (1) rendahnya tingkat kesejahteraan guru  (2) lemahnya motivasi guru (3) tidak adanya keharusan guru meneliti sebagaimana di perguruan tinggi (4) guru belum sepenuhnya  bekerja pada profesinya alias masih ‘nyambi’; dan (5) adanya sebagian PT terutama PTS yang mencetak guru setengah jadi atau asal jadi. Terutama yang terakhir, sejak era reformasi banyak bermunculan PT yang membuka prodi keguruan seperti STKIP, FKIP atau sejenisnya. Terutama di masa-masa awal kita melihat berbagai PT keguruan tersebut begitu mewabah di daerah-daerah. Karena tingginya minat masyarakat maka banyak PT tersebut menerima mahasiswa dalam jumlah yang melimpah—tanpa memperhitungkan daya dukung seperti rasio dosen dan mahasiswa maupun sarana dan prasarana yang tersedia.

Akibatnya proses perkuliahan tidak maksimal, bahkan ada sejumlah PTS yang melakukan pelanggaran akademik seperti jual beli ijazah atau perkuliahan tanpa proses dan prosedur akademik yang semestinya.  Termasuk  adanya oknum dosen yang terlibat dalam sindikat pembuatan skripsi mahasiswanya. Akibatnya bisa ditebak, mutu lulusan pun asal-asalan. Celakanya, sebagian lulusan PT abal-abal lalu ada juga yang mengabdi di sekolah sebagai guru honor. Tentu saja, karena mereka menjadi guru dengan kompetensi yang kurang memadai  maka cara mengajar pun menjadi asal-asalan. Lebih celaka lagi, di sejumlah sekolah terutama SD, tugas-tugas mengajar justru banyak diberikan kepada guru baru ini sehingga berpotensi melahirkan ‘maledukasi’. Kita semua tahu bahwa jika terjadi ‘malnutrisi’ atau ‘malpraktik’ di bidang kesehatan, paling satu dua orang saja korbannya. Tapi bila ‘maledukasi’ maka implikasinya sangat fatal bagi puluhan, bahkan ratusan anak bangsa yang dididiknya secara salah. Dan kita tahu kerusakan yang diakibatkan oleh praktik pendidikan sesat semacam itu bersifat massif  dan mengalami regenerasi. Di sebuah SD saya pernah melihat sendiri, bagaimana praktik pendidikan sesat ini dilakukan beberapa guru muda dengan cara melakukan kekerasan verbal kepada murid-muridnya. Mereka memaki dan mengumpat anak didiknya. Jika guru-guru muda ini terus melakukan kesalahan semacam itu maka saya kira mereka bukan lagi sekadar ‘guru honor’ tapi juga menjadi ‘guru horor’. Dan lingkungan sekolah pun berubah menjadi sekolah horor. Dengan menyerahkan anak-anak kita dididik  oleh guru-guru setengah jadi semacam ini,  dapat dibayangkan  hasilnya. Tentu, kita tidak ingin berjudi dengan nasib bangsa ini, kan?

Pendidikan

Related Post

Leave a reply