PEREMPUAN DAN TEKANAN SOSIAL

390 views

Oleh; Ilyas Yasin, M. M.Pd

Dosen Prodi. Pendidikan Sejarah STKIP Yapis Dompu

foto: Ilyas Yasin

Dibandingkan laki-laki, ditakdirkan jadi perempuan sungguh tidak ringan dalam masyarakat yang patriarkis. Secara sosial berbagai pandangan dan mitos tentang perempuan akhirnya berujung pada kenyataan yang merugikan perempuan sejak dari tindakan perundungan hingga kekerasan seksual.

Semuanya berimplikasi pada satu hal, yakni sulitnya mewujudkan relasi yang setara dan keadilan bagi kaum perempuan. Padahal perempuan adalah populasi terbanyak di planet bumi saat ini. Begitu pun, perempuan belum mampu berkontribusi secara maksimal bagi kemanusiaan karena terhalang berbagai beban sejarah dan sosial yang membelenggunya.

Dalam satu spektrum kerugian itu juga membentang luas baik secara sosial, ekonomi, politik hingga praktik keagamaan. Seperti sudah sering dibahas, bias gender  berimplikasi pada berbagai bentuk stereotype, diskriminasi, marjinalisasi dan beban-ganda pada perempuan.  Berbagai pandangan peyoratif tersebut  berasal dari mitos yang hidup dalam masyarakat, produksi pengetahuan pada masa lalu maupun bersumber dari pandangan teologis keagamaan termasuk interpretasi atas kitab suci maupun pandangan pemegang otoritas keagamaan.

‘Janda’ dan ‘perawan tua’  adalah dua di antara sekian status sosial yang membebani perempuan. Seperti lainnya kedua status ini jelas stigmatik dan karenanya punya implikasi etis dan praksis cukup jauh. Tidak melulu soal ekonomi maupun anak, banyak perempuan yang takut menjanda karena tekanan sosial yang mengepungnya.

Akibatnya, meski seringkali menimbulkan implikasi bahkan komplikasi dari hubungan yang terkesan dipaksakan tapi banyak perempuan akhirnya memilih menikah (atau dinikahkan) guna menghindari stigma itu.  Perempuan lebih memilih diam, atau  menyembunyikan  penderitaannya  ketimbang menyandang status  janda. Begitu pula dengan mereka yang dicap ‘perawan tua’. Banyak di antara mereka terpaksa menempuh ‘jalan sunyi’ semacam itu sekadar menjaga ‘aib’ keluarga.

Siang kemarin, saat menjemput si bungsu di sekolahnya saya ikut mendengarkan kisah pilu tersebut. Bersama beberapa kaum ibu yang juga sedang menunggu bel pulang, seorang ibu mengisahkan episode pahit dalam membangun rumah tangganya. Atas tekanan sosial ia terpaksa mengambil pilihan menikah dengan seorang duda tua beranak lima.

Belum berjalan dua tahun dan belum dikaruniai anak biduk rumah tangga mereka oleng. Meski hubungannya dengan anak tirinya berjalan baik, tapi merasa suami kurang menghargainya (termasuk dalam beberapa pengambilan keputusan penting) membuatnya menderita.  Ia juga tidak diberi nafkah lahir secara layak.

Kini saat rumah tangganya di ujung tanduk ia terpaksa kembali ke rumah orangtuanya. Sambil menunggu proses perceraian ia mengaku kehidupannya jauh lebih bahagia saat masih sendiri daripada setelah menikah. Dengan tunjangan gajinya sebagai ASN (guru) kehidupan ekonominya tercukupi, tanpa direcoki oleh kehidupan pasangan yang menyebalkan.

Setiap pilihan memang ada risikonya. Kebahagiaan kehidupan berumahtangga pun harus direbut dan diperjuangkan. Tetapi tekanan masyarakat (social pressure) membuat kehidupan perempuan menjadi lebih sulit dan berat. Mereka dipaksa mengambil jalan hidup yang kadang tidak dikehendakinya.

Publik kerapkali membuat perempuan gamang mengambil keputusan, termasuk menyangkut diri dan kehidupannya. Masyarakat terlanjur mencitrakan bahwa perempuan tidak lengkap hidupnya tanpa  laki-laki; bahwa  mereka makhluk lemah dan harus dikasihani dan disantuni.  Cinderlla seolah selalu mengharapkan kehadiran sang pangeran di sisinya. Tentu alasannya demi menegakkan tertib sosial (social order) maupun keseimbangan kosmis. Citra itu, kendati terkesan baik dan demi perempuan, tapi kerap membuat mereka terperangkap dalam kehidupan yang salah dan sulit. Banyak perempuan hidup dalam dilema. Publik seharusnya membebaskan perempuan untuk memilih jalan hidupnya sendiri, entah dengan atau tanpa kaum pria. Hentikan perempuan berjudi dengan takdirnya! Selamat Hari Perempuan Sedunia!

Dompu Hari Perempuan Sedunia

Related Post

Leave a reply