Generasi Milenial: Literasi & Empati Digital

596 views

Muh. Taufiq Al Hidayah, M.E.

Ketua Komunitas Tangan Sejajar

Foto: Muh. Taufik Al Hidayah, M.E.

Generasi milenial kini diperkirakan menjadi tulang punggung dunia. Pemuda yang lahir rentang waktu 1980-2000an sedang mencapai dan menikmati “puncak kejayaan” nya. Dari sisi populasi di dunia, milenial mencapai 2,26 miliyar berdasar UN World Population Estimate (2015) dan tertinggi disbanding generasi lainnya. Di Indonesia, tahun 2010 jumlahnya 81,27 juta penduduk atau sekitar 33,4%. Proyeksi Penduduk Indonesia dari Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan generasi milenial di tahun 2018 berkisar 23,95% populasi Indonesia, sedangkan di tahun 2019 diproyeksikan akan mencapai 268 juta jiwa. Hal ini berarti, hampir seperlima penduduk Indonesia adalah generasi milenial. Berdasarkan Pew Research Center, generasi milenial punya karakteristik percaya diri, ekspresif, liberal, bersemangat, dan terbuka pada tantangan serta hal yang paling dominan yakni penggila teknologi. Mereka terlahir dengan berbagai kecanggihan teknologi yang ada dan menganggap internet is everything.

Aktivitas merekapun lekat dengan penggunaan media sosial (medsos) seperti Twitter, Facebook, Whatsapp, Instagram, dan Youtube. Medsos merupakan tempat dan ruang yang luas untuk aktualisasi diri dan berekspresi. Segala aspek kehidupan milenial tak pernah lepas dari gawai di sisinya. Buktinya, data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat peneterasi dan perilaku pengguna internet Indonesia tahun 2016 didominasi oleh generasi milenial dan kebanyakan dimanfaatkan untuk medsos.

Realitas Medsos

Kehadiran medsos sudah menjadi hal yang tak bisa dilepaskan dari kehidupan keseharian kita. Pengaruhnya cukup signifikan dan besar. Kehadirannya pun membawa antitesis. Satu sisi jadi tempat perluasan wawasan pemikiran bagi yang open minded, di sisi lain menyempitkan pemikiran bagi yang anti perbedaan. Nyatanya memang medsos telah melahirkan yang oleh Ridwan Acep Saidi disebut tradisi lisan digital.

Tradisi lisan digital yang mudah diucap sekaligus dihapus. Menguatnya budaya ini disebabkan oleh kecenderungan kita dalam membagikan berita yang keabsahannya masih abu-abu, bahkan terkadang alibi. Facebook, Twitter dan Whatsapp telah sangat eksplisit menyajikan arena-arena

liarnya pemikiran, penggiringan opini, dan penguatan posisi benar dan salah. Celakanya, klaim “paling benar” seperti penyakit “akut”.

Husaini (2017) malah menganggap kemajuan era informasi melalui medsos tak mampu mendongkrak gairah belajar. Hal ini dibuktikan dengan semangat share-nya lebih tinggi ketimbang membaca, maka kabar palsu (hoax) menjadi hal yang tak lagi bisa dihindari. Akhirnya, budaya berkomentar jauh lebih menonjol ketimbang budaya baca (check-recheck).

Tidaklah mengherankan jika setiap hari mudah dijumpai debat kusir yang tujuannya bukan untuk mencari kebenaran, namun berujung saling hujat-menghujat. Banyaknya informasi di medsos juga malah membingungkan, hingga pada akhirnya kedalaman memahami berita atau informasi jadi mengambang. Hasilnya, lahirlah generasi-generasi, oleh Nicolas Carr dalam bukunya The Shallows disebut sebagai orang-orang dangkal yang terbiasa menyantap informasi instan tanpa kedalaman.

Annisette & Lafrenier juga mengungkapkan bahwa orang-orang dangkal memiliki kecendurungan menggunakan medsos. Hal-hal seperti ini akan banyak Nampak dan massif ketika momentum politik, seperti Pilpres & Pilkada. Haidar Bagir juga mengamini, seperti yang tertuang dalam bukunya Islam Tuhan, Islam Manusia tahun 2017.

Teknologi Informasi (TI) telah membuka kotak pandora yang memungkinkan orang memalsukan pesan. Melalui TI , informasi dapat dipoles, sehingga orang terayu dan terhanyut di dalamnya.

Kemudahan mengakes berbagai informasi inilah yang dapat memungkinkan orang bisa tersesat dan boleh jadi mengalami disorientasi. Akhirnya, melahirkan generasi instan.

Banyak pula dari kita pengguna aktif medsos tak banyak menyadari tulisan di medsos layaknya berteriak di dalam pusat keramaian orang, jika di dunia nyata itu bisa dilupakan dan kadang dianggap angina lalu. Berbeda dengan di dunia maya, jejak digitalnya dapat dilacak. Oleh Zappa Vigna dan Michele (2012) disebut searchable talk (percakapan yang bisa dicari) dan proses pencarian itu disebut digital identity.

Literasi & Empati Digital

Melihat realita tersebut, literasi dikalangan milenial perlu didorong. Literasi menurut KBBI adalah kemampuan menulis dan membaca dan menjadi salah satu indikator dari kemajuan pendidikan suatu negara. Di Indonesia, berdasarkan survey OICD, budaya baca masyarakat sangat rendah. Studi lain menunjukan bahwa pada tahun 2016 minat baca masyarakat Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara.

Lantas bagaimana dengan generasi milenial Indonesia? bersandar pada survey Center for Strategic and International Studies (CSIS) sebanyak 600 sampel yang diteliti diteliti. Hasilnya cukup mengejutkan, hanya5,3% milenial yang memiliki minat membaca dan 0,8% berminat pada tulis menulis. Wajar kiranya mereka rentan dengan kabar-kabar palsu (hoax), mudah terprovokasi dan terpengaruh, mudah menyalahkan bahkan tak jarang memunculkan sikap intoleransi.

Fenomena dunia maya tanpa literasi bukan hanya diIndonesia, tetapi juga dialami oleh hampir seluruh dunia. The Science Post tahun 2016 merilis sebanyak 70% pengguna medsos hanya membaca headline saja, menyebarkan tautan berita tanpa pernah membacanya. Untuk itu, literasi digital perlu dinarasikan. Adalah Paul Gilster yang pertamakali memunculkan literasi digital, menurutnya literasi digital adalah kemampuan memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai format dari beragam sumber yang disajikan. Artinya dengan adanya literasi digital tentu berdampak pada cerdasnya pengguna digital. Setidaknya ada empat hal menurut prespektif Gilster untuk mencapai cerdas digital, pertama kemampuan pencari internet, kedua navigasi hypertext, ketiga evaluasi konten, keempat penyusun pengetahuan.

Secara teknis jika pengguna medsos memahami keempat hal tersebut, secara teknis akan mendorong seseorang untuk tidak menelan mentah-mentah informasi yang disajikan situs ataupun medsos tertentu. Tetapi, pengguna medsos akan mencari tautan berita atau referensi informasi tersebut. Berpikir kritis menggunakan akal sehat (common sense) adalah kunci aktivitas literasi. Namun ternyata, literasi digital belum cukup. Tak bisa dipungkiri bahwa ada milenial yang memadai literasi digitalnya, tapi masih banyak terjerat dalam ujaran-ujaran kebencian dan berita-berita palsu. Kasus seperti Jonru dan Saracen adalah sedikit dari banyak kasus-kasus ujaran kebencian yang tidak sedikit melibatkan milenial yang berliterasi. Untuk itu, diperlukan juga empati digital, menurut pakar komunikasi Central Connecticut State University, Dr. Yonty Friesem,empati digital adalah sebuah kemampuan kognitif dan emosional untuk menjadi reaktif dan bertanggungjawab secara sosial saat menggunakan media digital. Hal yang dapat ditempuh dalam menumbuhkan empati digital dengan tabbayun. Perpaduan antara literasi dan empati digital diharapkan dapat memperbaiki atmosfer medsos dikalangan milenial Indonesia, sebab jika milenial tak menggunakan medsos sebagaima namestinya, maka mereka telah salah menggunakannya.

Digital Empati Literasi Milenial NTB

Related Post

Leave a reply