HALAL TOURISM SEBAGAI INSTRUMEN PENINGKATAN EKONOMI DAN PROMOSI KEKAYAAN ALAM DAN BUDAYA BIMA

755 views

Oleh : Yadin Setiawan

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universtias Alma Ata Yogyakarta

Foto: Yadin Setiawan

Pariwisata adalah salah satu sektor unggulan yang memberikan kontribusi cukup signifikan terhadap pendapatan nasional. Menteri Parwisata dan Ekonim Kreatif menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini, kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian nasional semakin meningkat. Parwisata juga kian mendapat kepercayaan dunia. Baru-baru ini Indonesia dinobatkan sebagai 10 destinasi terbaik versi lonely Planet. Lembaga ini menempatkan indonesia sebagai salah satu tempat kunjungan terbaik di 2019.

Pemerintah Indonesia membagi sasaran pembangunan pariwisata dalam dua bentuk, yaitu sasaran pertumbuhan dan sasaran pembangunan inklusif. Dalam sasaran pertumbuhan, terdapat tiga aspek utama antara lain kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), kunjungan wisatawan asing, dan kunjungan wisatawan domestik. PDB tahun 2014 diperoleh 4,2 % dengan harapan mencapai 8 % di tahun 2019. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dari tahun 2014 terhitung mencapai 9 juta, dan diharapkan akan mencapai 20 juta di tahun 2019. Sedangkan jumlah kunjungan wisatawan domestik tahun 2014 terhitung 250 juta, dan mencapai 275 juta di tahun 2019. Adapun pendapatan devisa pada tahun 2014 mencapai 120 triliun rupiah dan perkiraan 240 triliun rupiah pada tahun 2019. Pada sektor pembangunan inklusif diharapkan mampu meningkatkan usaha lokal dalam industri pariwisata serta dapat meningkatkan tenaga kerja lokal yang tersertifikasi (BAPPENAS, 2014).

2013 lalu, kementrian pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam kegiatan indonesia Halal Expo dan Global Halal Forum meluncurkan produk baru dalam perindustrian parwisata yaitu pariwisata halal (halal toursim). Jenis pariwisata ini merupakan segmen wisata dengan menyediakan akomodasi-akomodasi yang menjadi kebutuhan mendasar bagi wisatawan muslim khsusnya, selain itu pariwisata halal menawarkan keamanan dan kenyamana bagi setiap pengunjung misalnya fasilitas makanan dan minuman yang berlebel halal, memiliki fasilitas ibadah masjid maupun mushola yang memadai, tidak adanya tempat kegiatan hiburan malam serta prostitusi, dan juga masyarakatnya mendukung implementasi nilai-nilai Syariah Islam seperti tidak adanya perjudian, tidak diperbolehkan membawa senjata tajam yang mengancam keselamatan pengungjung lainnya maupun ritual-ritual yang bertentangan dengan ajaran Islam. Namun, fasilitas ini juga diperuntukkan bagi wisatawan secara umum (bukan hanya diperuntukkan pada wisatawan muslim saja), karena segmen ini secara universal mencakup wisata budaya, alam, dan tradisi.

Saat ini pariwisata halal terus dikembangkan oleh banyak negara karena pangsa pasarnya yang cukup besar. Pada tahun 2017 lalu diperkirakan total kedatangan wisatawan muslim global mencapai 131 juta jiwa. Angka ini meningkat dari 121 juta pada 2016. Diperkirakan jumlah ini akan terus meningkat hingga mecapai 156 juta pada 2020, atau mewakili dari 10% dari pangsa wisatawan secara keseluruhan. Tren halal tourism ini bukan hanya di negara mayoritas muslim saja, tapi juga berekekmbang di Negara dengan minortas muslim seperti Australia,  juga Inggris melalui Serendipty Travel yang menyediakan fasilitas untuk memudahkan ibadah bagi wisatawan muslim (seperti jadwal solat, perlengkapan solat, dan lainnya). Tak mau ketinggalan Korea Selatan, Hongkong, dan Thailand yang juga menawarkan fasilitas wisata halal. Pariwisata Halal (halal tourism) merupakan “icon” baru pembangunan pariwisata yang perlu dikembangkan dan memerlukan perhatian khusus, karena diharapkan dapat menarik wisatawan, baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. 

Pada tahun 2016 Indonesia berhasil meraih 12 penghargaan bergengsi pada sektor halal tourism pada ajang The World Halal Tourism. Dalam upaya optimalisai pariwisata halal Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata menunjuk 3 (tiga) provinsi di Indonesia sebagai destinasi (tujuan) wisata halal, yakni Sumatera Barat, Aceh, dan Nusa Tenggara Barat dan Salah satu dari  tiga propinsi yang di tunjuk sebagai destinasi wisata halal di atas, Lombok  Nusa Tenggara Barat berhasil mendapatkan penghargaan dari World Halal Travel Summit yang diselenggarakan di Abu Dhabi selama dua tahun berturut-turut (2015-2016) dengan predikat destinasi wisata halal terbaik dunia, pariwisata halal dan honeymoon terbaik dunia.

Jika dieksplorasi lebih dalam lagi destinasi wisata di Nusa Tenggara Barat bukan hanya pulau lombok saja sebagai sentral destinsi wisata dengan keindahan alamnya  yang menarik, masih banyak pulau pulau yang mungkin belum menjadi perhatian khusus oleh media  sebagai sumber  informasi utama  bagi wisatwan lokal hingga mancanegara.  katakanlah Kota Bima yang berada di ujung timur pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat. Di sana terdapat banyak destinasi wisata dengan kekayaan dan keindahan alamnya yang tidak kalah eksotis lagi menarik yang sangat prospek jika dikembangkan sebagai destinasi pariwisata Halal (halal tourism). Sebut saja pantai lariti, pasir putih, pantai pink, pantai papa dan masih banyak lagi yang tak bisa disebutkan satu persatu. Artinya Jika berkaca dari keberhasilan pulau Lombok meningkatakan perekonomiannya lewat membangun sektor pariwisata dengan pariwisata halalnya yang mampu mengundang dan menarik wisatawan muslim lokal hingga mancanegara dan menjadi sorotan global. Pemerintah Daerah Kabupaten Bima perlu menjadikan hal ini sebagai studi kooperatif utuk dijadikan bahan pertimbangan dalam mengambil sebuah kebijakan dalam upaya peningkatan pendapatan dan perekonomian daerah, sekaligus memperkenalkan kekayaan alam dan budaya Bima kepada setiap wisatawan, wisatawan lokal hingga mancanegara.

Related Post

Leave a reply