BANJIR DAN KONDISI PSIKOLOGIS

602 views

Oleh: Junaidin, M.Psi.                                     

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Teknologi Sumbawa

Indonesia merupakan daerah yang rawan bencana, baik itu banjir bandang, gempa bumi, letusan gunung berapi dan lain-lain. Baru-baru ini telah terjadi bencana banjir yang melanda sebagian wilayah Indonesia seperti di Bantul, Sentani, dan Dompu. Setiap banjir bandang yang melanda suatu daerah, pasti menyimpan berbagai duka yang amat mendalam. Baik itu  duka para korban, keluarga, masyarakat, pemerintah hingga negara.  

Ketika terjadi bencana alam yang cukup besar, maka berbagai persepsi muncul. Persepsi tersebut dapat dilakukan oleh korban bencana alam, dan dari pihak lain yang tidak mengalaminya. Persepsi masyarakat tentang bencana alam dapat dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu: pertama efek krisis, kedua efek bendungan, dan ketiga adaptasi. Dan kondisi masyarakat yang kurang peduli terhadap lingkungan adalah memprihatinkan. Masyarakat yang kurang memeliki kesadaran pada lingkungan, (termasuk masyarakat sosial/pemerintah), maka dinamika yang terjadi di masyarakat adalah kurang adanya keeratan (cohessiveness) di antara anggota masyarakat. Keadaan demikian mengindikasikan bahwa masyarakat tersebut sangatlah rentan ketika menghadapi bencana yang menimpa dirinya. Atau dengan kata lain pada masyarakat tersebut tidak memiliki kelenturan (resilience) dalam menghadapi bencana. Kemudian muncul pertanyaan bagaimana kondisi psikologis korban banjir (bencana alam) tersebut?

Pertanyaan tersebut melahirkan berbagai persepsi dan jawaban yang ideal dan objektif. Kondisi psikologis korban bencana alam (banjir) yang selamat, pada umumnya akan mengalami stres. Rasa takut yang amat sangat dialami oleh korban, karena mereka merasa terancam jiwanya dari bencana. Mereka mengalami perasaan yang tidak menentu, ketakutan, cemas, dan emosi yang tinggi. Sehingga perasaan stres muncul. Namun demikian mereka jarang mengalami gangguan stres yang kronis. Tetapi kondisi demikian, harus diatasi dengan segera. Apabila kondisi psikologis yang stres tidak segera diatasi, maka lama kelamaan akan menimbulkan depresi, dan akan mengarah kepada gangguan psikiatri.

Beban psikologis akan semakin bertambah bagi korban bencana banjir, apabila ia mengalami kehilangan orang yang dicintai ketika bencana terjadi. Kondisi stres dapat muncul pada korban bencana banjir. Demikian pula dengan kehilangan rumahnya akan menambah beban psikologisnya. Korban tersebut akan merasa kehilangan segalahnya, sehingga didalam dirinya muncul suatu kehilangan harapan. Kondisi demikian perlu segera ditangani agar korban dapat bangkit dari rasa keterpurukan.

Pada korban yang dapat bertahan dari bencana besar, dia melihat bahwa banyak orang yang dikenalnya menjadi korban, maka ia merasa kehilangan komunitasnya. Hal ini dikarenakan komunitas di pemukimannya sudah tidak utuh lagi. Bahkan ketika ia diselamatkan oleh tim penyelamat, ia mengalami disorentasi. Korban yang selamat, ketika terselamatkan dia tidak tahu berada di mana, dan mengapa hingga berada di temapat tersebut. Korban tidak mengenal lagi dengan lingkungannya. Dengan berada di tempat pengungsian yang baru, ia mengalami kurang kontak sosial dengan korban lain di tempat pengungsian yang baru. Di tempat pengungsian tersebut, komunitas lain, sehingga ia merasa sendiri. Kondisi demikian dapat terjadi, karena setelah terjadinya bencana, masing-masing individu menyelamatkan diri sendiri dan kelompok keluarganya, sehingga terpencar dari komunitasnya. 

Korban bencana pada dasarnya tidak mengenal usia, sehingga semua usia dimungkinkan menjadi korban bencana alam. Namun demikian kita perlu mengenal kondisi-kondis psikologis yang dialami oleh seseorang pada tahap perkembanganya. Dengan demikian, bantuan psikologis yang diperlukn menjadi jelas. Bantuan psikologis yang kurang tetap akan menambah parah kondisi psikologis korban. Dengan gambaran identifikasi tersebut, maka dapat diketahui kebutuhan korban.

Anak usia Bawah Lima Tahun (Pra sekolah)

Korban pada usia dibawah lima tahun (belita), tentu belum memahami apa yang telah terjadi dan menimpa dirinya. Namun demikian, ia dapat merasakan ada sesuatu yang terjadi di lingkungannya, dan mungkin dapat dirasakan menyakitkan atau sebagai sesuatu yang menakutkan, mengagetkan, dan sebagainya. Reaksi yang akan muncul pada belita tersebut adalah menangis.

Anak Usia Sekolah (6-12 tahun)

Anak usia sekolah yang menjadi korban bencana dana mengalami masalah psikologis, akan mengindikasikan di sekolahnya dengan penurunan prestasi sekolahnuya. Maslah psikologis yang dirasakan berat, seperti misalnya stres, anak tersebut akan mengalami gangguan konsentrasi. Hal ini dikarenakan secara emosi, ia belum dapat mengendalikan dengan baik, seehingga ia akan mudah marah. Bahkan pada kondisi tersebut dapat berakibat pada penurunan prestasi sekolahnya.

Usia Remaja (12-21 tahun)

Pada remaja korban bencana banjir yang mengalami masalah psikologis, didalam bidang pendidikan menunjukan adanya penurunan prestasi di sekolah. Hal ini dimungkinkan oleh karena permasalahan yang terkait dengan bencana yang dirasakan sebagai permasalahan yang berat, menekan, hingga menjadi ia mengalami stres.

Orang dewasa  Orang dewasa yang menjadi korban bencana, dapat mengalami masalah psikologis yang cukup berat. Berat atau ringannya masalah psikologis yang dialaminya sangat bergantung pada pengalaman yang di alami ketika bencana terjadi menimpa dirinya dan keluarga sangatlah berat, seperti meninggalnya anggota keluarga atau kehilangan rumahnya, maka pengalaman ini dirasakan berat oleh orang dewasa tersebut. Peristiwa ini dapat menyebabkan ia sulit untuk berkonsentrasi dalam upaya untuk menyelesaikan masalahnya.

banjir Dompu NTB Psikologi

Related Post

Leave a reply