UN DAN MASA DEPAN PENDIDIKAN INDONESIA

1354 views

Oleh : Syahrul Ramadhan

Pakar Pengukuran dan Evaluasi Pendidikan

Finlandia adalah negara kecil bila dibandingkan Indonesia yang multikultur. Kesuksesanya dalam bidang pendidikan tidak hanya dikarenakan ketiadaan ujian nasional dalam sistem pendidikanya. Sistem pendidikan di Amerika Serikat juga meniadakan ujian nasional dan sistem penilaiannya diserahkan ke negara bagianya masing-masing. Alhasil, ternyata cara seperti ini dianggap tidak efektif dikarenakan tiap negara bagian mempunyai standar dan sistem penilaian yang berbeda. Lantas bagaimana dengan di Indonesia?

Pendidikan perlu memiliki standar pencapaian nasional. Untuk mengetahui apakah sekolah telah mencapai standar tersebut maka perlu dilakukan proses evaluasi. Evaluasi formatif dilakukan setiap semester dan evaluasi sumatif dilakukan saat pelaksanaan Ujian Nasional. Adanya Ujian Nasional merupakan cara untuk mengetahui sudah sejauh mana sekolah mencapai standar yang telah ditetapkan. UN adalah cara untuk mengetahui mutu dan kualitas pendidikan kita berdasarkan standar nasional yang telah ditetapkan.

Pada Level international, ada PISA dan TIMSS untuk melihat seberapa berkualitas pendidikan di tiap negara dan dibandingkan dengan standar (benchmarking) international. Hasil untuk Indonesia selalu mengecewakan dan selalu berada di bawah standar international. Hasil ini menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah untuk mengetahui dan memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Salah satu perbaikan yang nyata adalah mulai masuknya pembelajaran HOTS (Higher Order Thinking Skill) dan soal tipe HOTS pada ujian nasional (UN). Informasi ini sangat diperlukan bagi Indonesia agar nanti dilakukan perbaikan agar tidak tertinggal oleh negara-negara lain.

Adanya evaluasi semacam TIMSS, PISA (International) menjadi tolak ukur pencapaian pendidikan secara global. Begitupun halnya dengan Ujian Nasional (UN). Hasil UN menjadi dasar pemetaan akan kualitas pendidikan tiap daerah di Indonesia. Dari hasil tersebut bisa ditentukan pola dan kebijakan untuk perbaikan pendidikan baik skala nasional maupun sampai level daerah/sekolah.

UN/UNBK

Beberapa tahun yang lalu, UN menjadi momok yang menakutkan bagi guru, orangtua apalagi siswa. Kesuksesan studi selama enam (SD)/ tiga (SMP dan SMA) tahun ditentukan hanya dengan beberapa item soal dan matapelajaran saja yang diujikan dalam beberapa hari. Pola ini banyak dikritisi yang mengakibatkan penghapusan UN merupakan topik yang sudah lama digaungkan. Selama beberapa tahun belakangan ini, UN terus diperbaiki sistemnya, UN yang dulunya sebagai penentu utama kelulusan berganti sebagai pemetaan saja. Di samping sudah bukan penentu utama kelulusan, UN juga sudah menggunakan komputer (UNBK) dan mulai dimuatnya soal level HOTS. Langkah-langkah tersebut diambil untuk terus mengikuti perkembangan zaman dan tanpa melupakan sisi-sisi humanis dan psikologis.

Saat ini, sudah bukan lagi waktunya untuk mempertentangkan ada atau tidaknya UN. UN adalah suatu keharusan agar kita tahu bagaimana pembelajaran yang telah dilaksanakan. Perbaikan sistem UN menjadi fokus ke depan dibandingkan wacana penghapusanya. Indonesia adalah negara yang beragam, butuh patokan standar untuk menjadi tolak ukur pencapaian. Hadirnya UN menjadi informasi penting terkait pelaksanaan pendidikan di Indonesia. Oleh karenanya perlu kita perbaiki terus menerus sistem UN ini. Beberapa permasalah yang dihadapi berkaitan dengan pelaksanaan UN adalah tingkat kecurangan, pola analisis dan kualitas soal.

Computer Adaptive Test

Salah satu terobosan yang dilakukan oleh pemerintah saat ini adalah adanya UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer). UN yang dulu menggunakan kertas (Paper Based Test) beralih menggunakan komputer (Computer Based Test). Cara ini dianggap lebih baik dibandingkan sistem yang sebelumnya. Hanya saja, penggunaan komputer saat ini hanya sebagai alat bantu (Computer Assisst Test) yang masih terbatas dan analisisnyapun hanya menggunakan teori tes klasik. Cara ini memiliki beberapa keterbatasan diantaranya masih adanya peluang kecurangan, tebakkan dan hasil analisis yang tidak sempurna dan bergantung pada peserta.

Saat ini, perkembangan ilmu pengetahuan sudah sangat maju, begitupan tehnik analisis yang digunakan. UN seharusnya diarahkan menggunakan sistem CAT (Computer Adaptive Test) yang analisisnya menggunakan Teori Respon Butir baik model Parameter Logistik atau Model Rasch. Dengan cara ini, kita bisa memetakkan kemampuan siswa yang sesungguhnya. Analisis ini akan menghilangkan peluang siswa berbuat curang, menebak jawaban, dan hasil analisis tidak bergantung pada peserta.

Sederhananya, Pemerintah menyediakan Bank Soal (soal-soal berkualitas yang sudah dikalibrasi), soal-soal tersebut diujikan kepada siswa. Tiap siswa akan mendapatkan soal yang berbeda-beda, bergantung kepada kemampuan dia menjawab soal sebelumnya. Komputer akan mengacak soal yang diberikan, jika soal pertama diberikan dengan tingkat kesukaran 0,5 (sedang) dan jawabanya benar maka akan diberikan soal dengan tingkat kesukaran yang lebih tinggi. Jika jawabanya salah maka akan diberikan soal dengan tingkat kesukaran yang lebih rendah. Pemberian soal ini akan terus dilaksanakan sampai mendapatkan kemampuan peserta yang sesungguhnya.

Cara ini juga bisa mendeteksi siswa melakukan kecurangan atau menebak jawaban. Jika soal dengan tingkat kesukaran 0,5 (sedang) diberikan kepada siswa dengan kemampuan 0,8 (tinggi) maka peluang dia menjawab benar lebih besar. Maka jika jawabanya benar bisa diterima, sedangkan jika jawabanya salah bisa jadi ada unsur kecemasan, keteledoran atau ketidakseriusan dalam menjawab. Jika soal yang diberikan tingkat kesulitanya 0,5 dan siswa yang mengerjakanya memiliki kemampuan 0,2 (rendah) maka seharusnya peluang menjawab benarnya kecil. Sehingga jika dia tidak bisa menjawab maka dianggap wajar karena kemampuanya memang belum menjangkau soal tersebut. Tapi jika ternyata dia mampu menjawab dengan benar, bisa jadi dia melakukan kecurangan atau menebak jawaban.

Pelaksanaan UN-pun tidak harus serentak jika terjadi permasalahan-permasalahan tehnis seperti pemadaman listrik atau internet yang lambat, karna pada dasarnya tiap siswa akan memperoleh soal yang berbeda-beda dan lama pengerjaanyapun akan berbeda-beda. Dengan cara seperti ini kita bisa memetakkan kemampuaan siswa se Indonesia dan informasi ini akan sangat bermanfaat untuk perbaikan pendidikan.

Hasil UN sebagai Big Data

Jika penggunaan komputer adaptif test ini diterapkan di Indonesia, maka tidak hanya UN yang menjadi baik, namun juga penelusuran bakat dan minat. Hasil UN ini kemudian bisa menjadi Big Data yang bisa diolah untuk kebutuhan lain, salah satu diantaranya adalah penentuan bakat dan minat siswa. Dari soal-soal yang dikerjakan, kita bisa menganalisis dan mengetahui kemampuan siswa. Kita juga bisa membuat program komputer yang secara otomatis akan mengarahkan dan memberikan rekomendasi bakat dan minat yang dimiliki siswa berdasarkan hasil UN yang dia kerjakan (meskipun lebih direkomendasikan ada test khusus). Jika sistem ini digunakan untuk siswa SMA, kita bisa menganalisis dan memberikan rekomendasi tentang kemampuan siswa, jurusan kuliah yang sesuai, profesi yang cocok dan peluang karir ke depan. Sehingga dimasa depan tidak ada lagi yang namanya salah jurusan. Bagi sekolah dan guru, mereka bisa memetakkan matapelajaran apa yang sulit, materi pembelajaran mana yang paling susah, apakah ada miskonsepsi siswa dan lain-lain. Informasi real ini akan sangat berharga untuk digunakan sebagai pedoman perbaikan pendidikan. Informasi-informasi seperti ini hanya bisa diperoleh jika kita mulai membuka diri akan perkembangan IPTEK dan pemerintah bersedia untuk menerapkanya bukan malah meniadakanya.

Dompu Indonesia Pendidikan UN UNBK

Related Post

Leave a reply