Media dalam Pusaran Hegemoni Ekonomi dan Politik

545 views

Oleh : Yadin Setiawan

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universtias Alma Ata Yogyakarta

Foto: Yadin Setiawann

Media dengan idealismenya memberikan informasi yang riil, seharusnya berperan penting sebagai sarana informasi dan pendidikan. Pembaca dan pendengar akan semakin memiliki sifat kritis, kemandirian dan kedalaman berpikir. Namun, realitas sering mempunyai arah yang beralwanan. Langkah realitas selalu diwarnai oleh struktur pemakanaan ekonomi yang dirasakan sebagai faktor pengahmbat idealisme itu.

Dinamisme komersial seolah menjadi kekuatan yang menentukan makna pesan yang disampaikan. Logika pasar mengarahkan pengorganisasian sistem informasi, realitas pasar ini menggambarkan bahwa media berada di bawah tekanan persaingan yang keras dan ketat. Hukum persaingan ini menentukan media mampu menampilkan informasi terbaru, tidak didahului oleh media lain karna dengan mempertahankan aktualitas, keuntungan dan akumulasi modal berjalan lancar. Keuntungan ini yang akan menjadi barometer keberlangsungan sebuah media. Namun, kecepatan memperoleh berita saja belum cukup untuk menjamin posisi keberlangsungan suatu media. Agar tidak ditinggal oleh peminatnya, maka media harus selalu mampu mempertahankan kekhasannya dan memberi presentasi yang semenarik mungkin. Tuntutan ini yang kadang-kadang menyeret masuk dalam kecenderungan menampilkan hal yang spektakuler dan sensasional. Namun ciri khas yang seharusnya membentuk citra suatu media, ironisnya justru tak jarang hal itu melemparnya masuk ke suatu jebakan. Yang sering tidak disadari adalah jebakan mimetisme.         

Mimetisme media ini menunjukan bagaimana penting atau tidaknya sebuah informasi sering ditentukan oleh sejauh mana media-media lain dipacu untuk meliputnya. Penentuan nilai penting atau tidak penting bahkan hingga aktulanya berita yang disampaikan seakan terletak pada sejauh mana yang diinginkan oleh media lain. Bila tidak memberitakan apa yang diberitakan oleh media lain, ada ancaman media yang bersankutan akan di tinggalkan oleh pemirsa dan atau penyimak berita, lalu yang dipertaruhkan adalah keuntungan ekonomi, artinya deternimisme ekonomi dalam dunia media sangat berpengaruh  sehingga hierarkisasi nilai ditentukan oleh konsumsi massa. Bagi mereka, pasar informasi orientasinya hanya untuk mencari keuntungan semata, tidak boleh terlambat, juga tidak boleh didahului oleh media/televisi lain karna yang menjadi pertimbangan utama adalah menghindari pembaca, pemirsa dan pendengar mengalami penurunan sehingga berpengaruh pada keuntungan mereka. Karna dituntut oleh persaingan pasar media yang cukup kuat, sehingga media satu dan lainnya siap berlomba- lomba menyiarkan dan menyampaikan informasi yang sedang hangat diperbincangkan.

Pada sisi lian, persaingan antar media ini cukup menjadi penopang kreativitas mereka, namun di sisi lain persaingan ini tak jarang bergandengan dengan mimetisme media, gairah yang tiba-tiba mengahampiri media dan mendorongnya, seperti sangat urgen, segera bergegas meliput informasi dan kejadian yang karena media lain. Hal macam ini bisa juga sampai pada titik terbentuknya keyakinan seolah-olah semakin banyak media yang mengangkat tentang suatu isu, secara kolektif Mereka semakin yakin bahwa hal itu sangat urgen sehingga harus diliput dengan waktu yang cukup lama. Media saling mendorong keingintahuan di kalangan mereka sendiri, meningkatkan penawaran dan membiarkan dibawa oleh hasrat dan ambisi dalam memberikan informasi yang serba lebih, namun karna tekanan persaingan yang kian ketat, mereka dilontarkan sampai pada titik yang cukup mengerikan, bahkan sampai dengan cara-cara yang licik.

Salah satu dampak dari mimetisme media ini, dapat kita lihat dari pasca pesta demokrasi beberapa hari yang lalu, dimana media satu dan lainnya berlomba-lomba dalam meliput hasil Quick count pilpres 2019 dengan hasil liputan yang berbeda-beda sehingga menjadi keresahan tersndiri  bagi hampir seluruh elemen masyarakat indonesia khusunya, oleh simpangsiurnya informasi yang disampaikan. yang harusnya media sebagai sarana utama dalam menyampaikan dan mendapatkan informasi yang sehat. Jurtsu tidak lagi menjamin hak publik untuk mendapatkan informasi yang benar karena adanya pertarungan kepentingan ekonomi bahkan dalam hal politik dan budaya. Yang lebih mengerikan lagi dalam kasus ini, bukan hanya merugikan hak publik akan informasi, namun kecenderungan yang kuat dari tuntutan pasar telah mengubah sistem media secara fundamental, yang akhirya logika pasar yang menetukan tingkat kualitas informasi yang disuguhkan. Berangkat dari permaslahan ini, sudah sepatutnya kita selektif dan bijak dalam menelan setiap informasi yang di suguhkan, sebab semakin maraknya persaingan ekonomi dan politik saat ini hampir tak bisa dibedakan mana realitas, representasi, kepalsuan, simulasi dan hiperealitas.

Ekonomi Hegemoni Media Politik Quick Count

Related Post

Leave a reply