PENDIDIKAN DAN ETIKA

812 views

Oleh: Andri Ardiansyah

Kandidat Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Foto: Andri Ardiansyah

Pendidikan ibarat nafas sebuah bangsa ketika pendidikan tidak lagi bergerak maka dipastikan bangsa tersebut akan mengalami kematiannya namun sebaliknya ketika pendidikan itu terus berkembang maka seolah wajah sebuah bangsa bersinar terang dan menemui masa hidupnya. Sehingga tidak heran negara-negara di dunia terus memperbaiki pendidikannya karena mereka tahu bahwa jiwa sebuah bangsa ada pada jiwa pendidikannya.

Di Indonesia juga tidak luput dari persoalan pendidikan kalau kita lihat bahwa pendidikan kita di Indonesia sangatlah kompleks adanya baik yang bersentuhan dengan lingkungan, sosial, maupun secara eksplisit tentang etika dan moral. Beberapa hari yang lalu rakyat Indonesia mulai dari pusat sampai ke pelosok desa merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap tahun kita sebagai rakyat terus merayakan Hardiknas ini sebagai simbol bahwa kita mengingat dan sekaligus menghargai para leluhur pejuang pendidikan terdahulu. Selain daripada itu Hardiknas juga memberi harapan baru kepada generasi kita bahwa suatu saat generasi kita akan terus tertanam pada benak dan pada diri mereka bahwa pendidikan itu sangatlah penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dengan terus diadakannya Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) harapannya supaya pendidikan kita terus maju dan berkembang demi masa depan bangsa yang lebih baik nantinya tetapi rasa-rasanya harapan itu hanyalah mimpi belaka, karena masih teringat dalam benak kita beberapa hari yang lalu di mana pemerintah melaksanakan Hardiknas dengan nuansa yang sangat edukatif mulai dari pelaksanaan upacara bersama sampai pada titik silaturahmi antara Kepala Dinas dengan guru-guru sekolah. Tapi ironisnya bahwa Hardiknas yang kita anggap sebagai refleksi sejarah dan untuk merenungkan nilai-nilai pendidikan yang tertanam di dalamnya tercederai oleh siswa-siswa yang melakukan konvoi di jalanan dengan menggunakan sepeda motor dengan berjumlah banyak.

Hardiknas seolah kehilangan marwah, kehilangan kendali, dan seolah sudah tidak lagi dianggap sebuah ritual yang bernilai edukatif di mata siswa-siswa kita. Dengan melakukan konvoi di jalanan mereka mencoba melawan etika yang sudah diajarakan selama 9 tahun disekolahnya, guru tidak lagi dihargai aturan tidak lagi diindahkan bahkan etika yang menjadi raja kesopanan manusia seolah sampah yang tidak memilki makna bagi mereka. Konvoi di jalanan bukan institusional apalagi konstitusional tetapi anehnya kenapa para sisiwa-siswa kita sangat berani melanggar nilai-nilai tersebut, tidak hanya konvoi dengan berjumlah banyak dengan sepeda motornya masing-masing para siswa-siwi kita juga melakukan coret-menyoret pada pakaian mereka, kini kesadaran moral para siswa-siswi kita sudah mulai degradasi dari masa ke masa. Kalau etika tidak lagi diindahkan, etika tidak lagi dihargai lalu apa yang harus dipatuhi, bukankah segala kebaikan itu berawal dari etika yang santun.

Konvoi di jalanan masih terus dilakukan dari generasi ke generasi padahal pihak sekolah telah mengadakan wisuda sebagai pengganti hal-hal yang tidak bermanfaat tetapi etika para guru yang suci tersebut dibalas oleh para siswa-siswa dengan imoral (yang tak beretika/moral) dengan melakukan konvoi di jalanan dan membuat resah para warga sekitar, pasalnya sepeda motor yang mereka pakai sebagian menggunakan knalpot yang nyaring bunyinya bahkan ada sebagian lagi yang sengaja mengeraskan suara motornya sehingga terdengar sangat terganggu. Tidak sedikit masyarakat yang risih dengan perilaku para siswa-siswa kita saat melakukan konvoi di jalanan sehingga ada sebagian warga yang mengutuk keras perilaku tersebut. Ini semua terjadi karena sudah hilangnya etika dan moral dari diri siswa-siswi kita saat ini sehingga sewenang-wenang mereka melakukan tindakan yang melanggar etika sosial. Saatnya kita sadar untuk terus menanamkan kembali nilai-niali kesadaran beretika kepada siswa-siswi kita karena tidak ada lagi yang kita harapkan untuk memperbaiki generasi kedepan melainkan kita percayakan kepada mereka-mereka yang saat ini masih di bangku sekolah, jika etika dan moral mereka berhasil kita tanamkan dengan sebaik-baiknya maka saya yakin suatu saat generasi 2045 yang akan datang akan menuai hasilnya dengan melihat wajah baru bangsa Indonesia sebagai generasi emas. 

Dompu Etika Hardiknas NTB Pendidikan

Related Post

Leave a reply