Pratikno versus Rizal Ramli: Membaca Strategi Perebutan Kekuasaan antara Jokowi dan Prabowo”

603 views

Oleh: Heri Kurniawansyah HS, M.PA.

Dosen Fisipol Universitas SAMAWA

Foto: Heri Kurniawansyah

Think Tank adalah kelompok pemikir strategi  yang menentukan arah dan gestur dari kontestan yang diusungnya itu sendiri. Mereka memiliki tugas sebagai sutradara, manajer, dan sekaligus sebagai penulis skenario dalam kontestasi ini, terutama men-setting para kontestan dengan segala pengetahuan yang dilengkapi dengan pemahaman isu-isu global, khususnya terhadap isu apa yang harus dimainkan dalam permainan ini dengan ragam strategi-strategi dari sang “suhu” itu sendiri.

Hingga pasca pilpres ini, penulis menyimpulkan bahwa kedua kubu memainkan strategi dari dua isu yang berbeda. Kedua isu tersebut didasarkan atas keilmuan dua “guru” dari “think tank” masing-masing Paslon yang dianggap menjadi kiblat dari strategi kedua kubu.

Kubu Jokowi memiliki sosok Pratikno seorang guru besar ilmu politik, yang secara teoritis maupun secara praktis sangat khatam dengan yang namanya ilmu politik, maka “strategi politik” merupakan strategi utama yang dimainkan dari kubu Jokowi.

Mantan dekan Fisipol UGM tersebut memiliki dalil-dalil politik yang menjadi keniscayaan dalam praktek strategi dari kubu Jokowi. Istilah post truth, hegemoni kekuasaan, framing-strategy, dan istilah-istilah lainnya adalah istilah yang sudah sangat khatam oleh ilmuan politik sekelas Pratikno, di mana istilah tersebut merupakan strategi politik yang sudah biasa dilakukan dalam pertarungan politik di negara-negara demokrasi di era revolusi teknologi saat ini.

Strategi politik tersebut sepertinya berhasil mendoktrin pemilih arus bawah terutama sebagian besar swing voter. Pada posisi ini, pemilih arus bawah sangat sulit terpengaruh oleh paradigma isu ekonomi yang dimainkan oleh think tank 02. Meskipun isu ekonomi tersebut sebenarnya adalah sebuah fakta yang sulit dibantah (evidence based).

Posisi ini memiliki korelasi ilmiah dengan hasil penelitian dari beberapa lembaga survey yang pernah menyatakan bahwa pemilih Jokowi sebagian besarnya memiliki tingkat pendidikan menengah ke bawah, karena memang tembakan dari strategi tersebut adalah lebih kepada masyarakat arus bawah yang sebagian besarnya memiliki pengetahuan dan kesadaran demokrasi yang masih sangat minim. Itu artinya bahwa think tank dari 01 paham betul kapan, di mana, dan kepada siapa strategi itu dimainkan. Dalam perebutan kekuasaan melalui pemilu, adalah hal yang tidak penting jika pemilih itu memiliki tingkat pendidikan tinggi atau rendah, karena dalam politik itu suara pemilih adalah suara kemenangan.

Sementara kubu Prabowo memiliki sosok Rizal Ramli seorang guru besar bidang ekonomi, maka “strategi ekonomi” adalah strategi utama yang dimainkan dari kubu Prabowo. Sama seperti Pratikno, Rizal Ramli adalah sosok yang sudah sangat khatam dengan istilah ekonomi, baik secara teoritis maupun praktis.

Istilah ekspor-impor, GNP, GDP, Gini Ratio, daya beli, pembangunan fisik yang belum berkorelasi baik dengan pertumbuhan ekonomi adalah strategi yang terus didemonstrasikan oleh think tank 02. Tidak salah bahwa narasi yang paling sering muncul dari kubu 02 adalah selalu berbicara tentang isu ekonomi secara masif.

Sebagian masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan menengah keatas meng-iyakan isu dan fakta tersebut karena mereka sangat memahami bahwa masalah bangsa saat ini adalah masalah ekonomi yang masih jauh dari ekspektasi publik. Data BPS merilis bahwa pertumbuhan ekonomi kita sepanjang tahun 2018 mentok di angka 5,17 ,%, itu artinya pertumbuhan ekonomi masih jauh di atas target kesejahteraan masyarakat.

Namun yang menjadi permasalahannya adalah bahwa sebagian besar masyarakat kalangan arus bawah tidak memahami bahkan tidak mau tahu dengan istilah ekonomi tersebut, yang mereka tahu bahwa pak Jokowi telah membangun jalan tol dan bendungan, yang dianggap oleh mereka adalah sebuah “kerja nyata”, dan mereka menganggap aksi itu sudah lebih dari cukup. Dalam posisi ini mereka menegasikan fakta ekonomi yang terjadi secara global. Itu artinya bahwa tembakan strategi ekonomi yang dimainkan oleh think tank 02 belum mampu menembus batas-batas logika dan paradigma arus bawah, karena telah tertahan oleh doktrinasi strategi politik yang dimainkan secara masif oleh think tank 01.

Kedua strategi itu merupakan satu kesatuan secara teoritis dan memiliki korelasi yang sangat kuat, oleh karena itu dalam istilah politik-ekonomi kita tidak mengenal istilah “separation” tapi yang ada adalah “fusion”. Politik berbicara tentang kekuasan dan negara, sementara tujuan dari kekuasaan itu sendiri adalah kesejahteraan (ekonomi). Kedua strategi tersebut telah diadu dalam agenda politik (pemilu), maka mungkin saja strategi politik lebih tepat diletakkan dalam agenda politik itu sendiri ketimbang strategi ekonomi. Namun apapun itu, pengumuman dari KPU 22 Mei 2019 adalah penentuan strategi mana yang telah berhasil mencapai klimaknya.

Jokowi Pilpres Prabowo Pratikno Rizal Ramli

Related Post

Leave a reply