PROBLEMATIKA PENGEMBANGAN PARIWISATA PAPUA

376 views

Oleh: Yogi Birrul Walid Sugandi

Direktur NGO: Pariwisata Berkelanjutan

Direktur NGO: Pariwisata Berkelanjutan

www.wisataku.id

“Kalau anda mempunyai uang 10 juta untuk liburan, kemana anda akan pergi?” tanya seorang akademisi senior pariwisata kepada komplotan mahasiswa magister pariwisata di ruangan kelas. Sekilas mahasiswa menjawab “ke Singapure, Thailand, Jepang, China, dll.”

Dengan kata lain, jika anda diminta membandingkan antara pergi ke Papua dengan destinasi wisata yang lain, maka pikir pendek, orang lebih memilih pergi berwisata ke luar negeri  daripada harus berkunjung ke Papua dengan harga tiket penerbangan 3 kali lebih mahal dibanding negara-negara tetangga Indonesia yaitu senilai sekitar 6 – 8 juta sekali terbang.

Penyebrangan lewat jalur laut relatif lebih murah yaitu berkisar 800 ribuan, tapi lama perjalanan di atas kapal 1 sampai 2 minggu tergantung kondisi cuaca. “iya kalau dia mampu bertahan dengan kondisi fisik yang prima diatas kapal selama 2 minggu, bisa jadi sudah sakit duluan sebelum memulai aktifitas liburan disana,” sentak salah satu mahasiswa.

Mahalnya harga tiket menuju papua menjadikan pulau itu dilematis untuk dikunjungi. Tak hanya wisatawan domestik di belahan Nusantara, tetapi juga manca Negara. Sebab secara rasional, wisatawan juga cukup hemat dalam menentukan perjalanan wisatanya. Termasuk efesiensi dana dan efektifitas touring.

“Jika daya tarik wisata yang ada di Papua juga tidak jauh berbeda dari tempat-tempat destinasi wisata lainnya yang masih ada di bagian Indonesia, kenapa saya mesti harus ke Papua,” sentil salah satu kawan di Forum Group Discussion (FGD) saat itu.

Lantas dalam bentuk subsidi seperti apa yang harus dicanangkan untuk mempermudah akses tranportasi baik jalur udara maupun laut tersebut, begitupula infrastruktur penunjangnya. Mulai dari aspek aksesibilitas inilah yang kian memicu perhelatan diksusi yang lebih holistik lagi.

Paradigma negatif tentang primitifnya Papua masih tertanam pada sebagian besar wilayah Indonesia. Tak jarang orang-orang khawatir terhadap serangan-serangan anak panah yang tak bertujuan. Masih terbayang rimbanya papua di mana di tengah-tengah hutan terdapat berbagai macam suku yang mungkin saja dipandang liar oleh masyarakat kita.

Stigma negatif terhadap prilaku orang pelosok papua tersebut merambat ke berbagai dimensi lainnya tentang minimnya kualitas dan tingkat pendidikan di sana, tidak biasanya interaksi sosial masyarakat Papua dengan masyarakat pedalaman bagian nusantara pada umumnya.

Mungkin pula dipandang sebelah mata bahwa secara fisik mereka terlihat kejam walaupun Papua akhir-akhir ini cukup banyak berperan dikancah entertainment Nasional. Berbagai macam asumsi-asumsi inilah yang masih menjadi realitas dari beberapa kalangan di tengah masyarakat kita.

Selanjutnya, wabah penyakit malaria di Papua juga menjadi perhatian serius sampai hari ini. Walaupun pemerintah terus berupaya meminimalisir penyakit malaria ini dengan program bela kampung dan angka kasus malaria pada tahun 2018 sudah mulai menurun, tetap saja fenomena ini cukup menakutkan bagi calon wisatawan.

Di beberapa kawasan daerah NTT juga mengalami hal yang serupa yaitu bahayanya malaria. Namun dengan berkembangnya pariwisata, berbagai macam NGO, organisasi internasional, dan industri-industri yang dibangun turut berpartisipasi dalam program prioritas CSR perusahaan pengadaan air bersih dan eliminasi penyakit malaria di kawasan NTT. Jadi penyakit malaria cukup menjadi pertimbangan serius kalau berbicara masalah length of stay wisatawan.

Memang betul alam Papua sangat anggun dan cantik serta beraneka ragam flora dan fauna yang dimiliki. Kemudian budayanya yang masih otentik. Namun terlepas dari hal tersebut, ada faktor yang paling fundamental untuk diperhatikan secara internal oleh semua stakeholder, pihak yang berwewenang, dan berkepentingan dalam pengembangan pariwisata Papua.

Yaitu penguatan kapasitas SDM dan perencanaan pengembangan yang terintegrasi. Hal inilah yang mendongkrak edukasi, sosioaliasi, pemberdayaan, pelibatan, pengemasan produk wisata, sistem kelembagaan pengelola destinasi wisata, branding dan marketing seluruh komponen kepariwisataan.

Kemudian tata kelola dan mapping wilayah destinasi pariwisata, positioning produk unggulan yang ditawaran, segmentasi pasar, partnership dan networking, evaluasi dan monitoring sampai dalam bentuk kajian-kajian keberlanjutan wilayah berjangka panjang masih jauh dalam bentuk implementasi konkritnya secara utuh.

Dari kacamata akademisi bahwa teori destinasi dalam bentuk 4A (Attraction, Accessibility, Amenity, Ancillary), metode teori markting mix, teori CBT, dan implementasi dari sustainable development goals (SDGs) masih tidak banyak digeluti dalam persoalan pariwisata di Papua. Sehingga citra positif dan reproduksi wacana ilmiah bahwa Papua adalah Rajanya Pariwisata Kepulauan di Indonesia tak terdengar sangar oleh kawan kawan traveller.

Menyambung dari program menteri perencanaan pembangunan nasional (PPN), Bambang P.S. Brodjonegoro pernah menyampaikan bahwa program prioritas pembangunan di Papua dan Papua Barat paling pokok adalah peningkatan akses dan kualitas pelayanan pendidikan kontekstual Papua.

Kemudian ada tiga kegiatan prioritas lainnya yaitu pengembangan komoditas unggulan dan pariwisata dari hulu ke hilir, peningkatan infrastruktur dasar, TIK dan konektifitas antar provinsi, kabupaten/kota, distrik dan kampung, serta peningkatan tata kelola dan kelembagaan. Penulis kira ini harus dikawal dan dipastikan berjalan dengan sungguh-sungguh.

Memang tidak mudah mengembangkan destinasi pariwisata Papua. Namun di dalam pesismisme ada optimisme yang terus dititipkan melalui investasi pendidikan dengan cara menyekolahkan putra-putri daerah Papua untuk menjadi SDM Profesional di bidang Pariwisata. Dengan harapan kelak mereka bisa menengahi persoalan-persoalan desah-desuh pengambangan pariwisata di daerah perbatasan Indonesia tersebut.

“Saat ini jumlah mahasiswa berjurusan pariwisata sabanyak 4 orang untuk S2, dan 3 orang untuk S1,” tutur dari mahasiswa asal Papua yaitu Nelman Rumere yang saat ini ditugaskan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Papua untuk lanjut Studi Pariwisata di Pascrasarjana Pariwisata Univeristas Udayana, Bali. Yang tak kalah menariknya juga bahwa salah satu mahasiswa dari papua yaitu Wetipo lulusan S2 Pariwisata dari kampus tersebut menjadi bupati di Kabupaten Jaya Wijaya yang kemudian melahirkan program-program lanjutan pemberian beasiswa lanjut studi bidang pariwisata bagi masyarakat di sana. Semoga masalah Papua yang penuh kompleksitas tersebut masih dicicil melalui metode bottom-up.

Dompu NTB papua Pariwisata

Related Post

Leave a reply