IRONI UANG DAN KOMODITI MENJELANG LEBARAN

548 views

Oleh: Safril D. Tomangoko

Fakultas Agama Islam Universitas Alma Ata Yogyakarta

Uang hadir sebagai solusi dari sistem barter dulu, mekanisme barter dilakukan dengan cara langsung menukarkan satu barang dengan barang yang lain. Dengan demikian dalam sistem barter terdapat beberapa kelemahan di antaranya adalah sulitnya menemukan pihak lain yang kebutulan sekaligus pertama, membutuhkan barang yang dapat kita tawarkan, ke dua memiliki barang yang kita butuhkan, ketiga, barang yang memiliki nilai yang hampir sama atau dapat dibandingkan. Dan keempat bersedia menukarnya. Misalnya seseorang yang mempunyai beras dan membutuhkan ayam tidak selalu menemui orang lain yang kebetulan membutuhkan beras dan mempunyai ayam. Atas dasar kesulitan dan kelemahan tersebut maka dibuatlah uang sebagai alat transaksi.

Seperti emas dan perak, dolar (Amerika) rupiah ( Indonesia) dan sebagainya memiliki fungsi yaitu sebagai alat tukar  bukan sebagai komoditi. dalam hal ini salah satu ulama bermazhab hambali yakni Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa uang tidak mempunyai harga,  tetapi uang dapat  merefleksikan harga  semua barang. Artinya uang hanya dapat memberi kegunaan langsung jika uang tersebut  digunakan untuk membeli barang.

Dalam konteks ke-Indonesiaan dengan mata uang rupiah sebagai alat tukar yang sah, di era kontemporer saat ini terlebih dalam momentum hari besar umat islam diseluruh belahan dunia yakni dalam hal ini adalah  hari raya idul fitri yang artinya kembali pada fitrah  manusia, di Indonesia  telah terjadi peristiwa pertukaran mata uang sejenis yakni rupiah dengan rupiah antara uang kertas cetakan baru dengan uang kertas cetakan lama oleh masyarkat Indonesia  yang terjadi di beberapa wilayah diseluruh Indonesia. Dalam pertukaran mata uang kertas sejenis tersebut terdapat ketidaksamaan baik dilihat dari segi kuantitas maupun kualitasnya dimana pihak yang mempunyai uang kertas cetakan baru mensyaratkan ada bunga atau tambahan 10 % per Rp 100.000 (ini sifatnya kasuistik pada daerah tertentu) kepada pihak penukar yang mempunyai uang kertas cetakan lama padahal keduanya mempunyai uang kertas dengan jumlah nominal yang sama dan jenis yang sama pula yakni Rupiah dengan Rupiah  yang membedakan hanyalah model dan cetakannya yang dipunyai oleh kedua pihak tersebut yakni pihak yang mempunyai uang kertas cetakan baru (ditukar) dengan pihak yang mempunyai uang kertas cetakan lama (penukar), ditambah dengan bunga sebesar 10 % dengan demikian  bunga yang diperoleh pihak yang mempunyai  uang kertas cetakan baru, ditentukan berdasarkan seberapa banyak jumlah uang nominal yang dimiliki oleh setiap orang atau individu yakni  dalam hal ini adalah pihak  penukar yang mempunyai uang kertas cetakan lama yang ditukarkannya.

Misalkan setiap orang atau individu dalam hal ini adalah pihak penukar mempunyai uang kertas cetakan lama sebanyak Rp 3000.000 ditukarkan  maka suda dipastikan pihak yang mempunyai uang kertas cetakan baru  mendapatkan  bunga atau tambahan sebesar Rp 300.000  dalam hal ini jika dikalikan dengan presensatsi jumlah penuakar  diambil yang paling sedikit yaitu sebanyak 10 orang perhari, dan dari masing-masing perorang mempunyai uang sebanyak 3000.000 untuk menukarkan  berarti dalam sehari uang yang ditukarkan sebanyak 30.000.000 ditambah dengan presentasasi  bunga sebesar  10 % jadi dalam sehari suda otomatis pihak yang mempunyai uang kertas cetakan baru yang telah ditukarkan  mendapatkan bunga sebanyak Rp 3000.000 perhari  dikali 30 hari dalam sebulan berarti total   bunga nominal yang diperoleh dalam sebulan sebanyak Rp. 90.000.000.

 Dari peristiwa pertukaran mata uang sejenis tersebut di atas telah terjadi penyalagunaan fungsi uang itu sendiri yakni sebagai alat tukar diubah  menjadi sebagai alat komoditi barang yang bisa diperjual belikan yaitu uang menghasilkan uang, memperjual belikan mata uang itu sama halnya memenjarakan fungsi uang itu sendiri artinya semakin banyak memperjual belikan mata uang maka semakin sedikit uang itu berfungsi sebagai uang yakni sebagai alat tukar komoditi.

Islam melarang uang dijadikan sebagai alat komiditi bukan sebagai alat tukar terkait dengan larangan tersebut  bisa dilihat dalam firman allah swt yakni  al-qur’an surat al-kahfi ayat 91 yang secara jelas mengatakan uang sebagai alat tukar bukan sebagai komoditi selain itu allah melarang penukaran barang atau uang yang sejenis tetapi tidak sama dalam kuantitas maupun kualitasnya sebagaimana disabdakan oleh rasulullah shalallahu alaihi wa shallam dalam hadistnya.

 “Janganlah  kalian menjual emas dengan emas kecuali yang sama beratnya, janganlah kalian        melebihkan sebagian di atas sebagian yang lain, janganlah kalian menjual perak dengan perak kecuali yang sama beratnya dan janganlah kalian melebihkan sebagian di atas sebagian yang lain, dan janganlah kalian menjual yang tidak ada di antara barang-barang itu dengan yang ada (HR.Bukhari-Muslim).

 Hadist tersebut mengandung makna atau pengertian bahwa setiap barang atau uang sejenis yang dipertukarkan dipersyaratkan harus sama kuantitas maupun kualitasnya apabilah barang atau uang  yang dipertukarkan tidak sama baik dari segi kualitas maupun kuantitas atau terdapat kelebihan  yang dipersyaratkan dari salah satu pihak maka kelebihan tersebut dihukumi sebagai ribah dan hukumnya adalah haram, termasuk mempertukarkan mata uang sejenis rupiah dengan rupiah yang mempersyaratkan tambahan atau bunga tetentu baik sedikit maupun banyak dihukumi tetap haram dalam hal ini sesuai dengan kaidah syar’iyyah baik buruknya model dan cetakannya adalah sama nilainya  artinya pertukaran uang yang sejenis misalkan rupiah dengan rupiah meskipun beda model dan cetakannya tidak dipermasalahkan asalkan sama nilainya jika masih tetap saja melakuakannya dengan persyratan bunga atau tambahan tertentu maka pelanggaran hukum tuhan telah terjadi. Jika bunga atau tambahan yang dipersyaratkan tersebut  yang diperoleh setiap orang atau individu atau sekelompok orang baik digunakan untuk konsumsi, membeli makanan untuk dimakan atau digunakan untuk membeli pakaian dan pakaian tersebut digunakan untuk shalat maka allah swt tidak akan menerimah shalatnya sebagaimana rasulullah shalallahu alaihi wa shallam bersabda:  “Barang siapa membeli pakaian seharga sepuluh dirham, sedang didalam uang ia bayarkan terdapat satu dirham saja dari hasil yang diharamkan,(ribah) niscaya allah tidak mau menerimah shalatnya selama ia memakai pakaian tersebut (HR.Al-Mundziri)”. Dalam hadist yang lain rasusulullah shlallahu alaihi wa shallam bersabda “setiap daging yang tumbuh dari makanan yang diharamkan niscaya api neraka lebih utama sebagai tempat kembalinya (HR. Thabrani)”.   Oleh sebab itu selaku umat yang beriman wajib menghindari hal-hal yang dilarang oleh syariat islam sesuai dengan tuntunan al-qur’an maupun as-sunnah agar mencapai keselamatan hidup baik di dunia maupun di akhirat kelak, dengan demikian dapat disimpulkan dari peristiwa pertukaran mata uang yang sejenis tersebut yang pertama mubah hukumnya atau boleh  tukar menukar uang sejenis misalkan rupiah dengan rupiah meskipun beda model dan cetakannya asalkan sama nilainya misalkan sekeping uang Rp 100.000 dapat ditukar dengan 5 keping uang Rp.20.000 asalkan serah menyerah secara kontan dan pada waktu yang sama, yang kedua haram hukumnya atau tidak diperbolehkan tukar menukar mata uang kertas sejenis rupiah dengan rupiah yang dpersyaratkan ada bunga atau tambahan meskipun berbeda model dan cetakannya misalkan pihak yang mempunyai uang kertas cetakan baru mensyaratkan bunga atau tambahan 10 % per Rp 100.000 kepada pihak yang mempunyai uang kertas cetakan lama (penukar), selain itu pulah diperbolehkan menukarkan mata uang yang tidak seje nis misalkan rupiah indonesia dengan dolar amerika asalkan serah menyerah secara kontan dan pada waktu yang sama.

KOMODITI LEBARAN

Related Post

Leave a reply