TRANSFORMASI MATA UANG DI BAWAH KONSPIRASI ELIT GLOBAL

1517 views

Oleh : Yadin Setiawan

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Alma Ata Yogjakarta

Foto: Yadin Setiawan

Secara garis besar, ada dua fase perkembangan penggunaan uang sebagai landasan sistem moneter global, yaitu mata uang Dinar dan Dirham( Emas dan perak)  dan mata uang kertas yang sedang berlaku saat ini. Jauh sebelum islam datang hingga berakhirnya Daulah utsmani pada tahun 1924 Dinar dan Dirham sudah menjadi mata uang dunia setelah melewati masa tukur menukar barang dengan barang pada saat itu yang biasa di sebut sebagai Barter . Lalu mata uang emas dan perak ini terus di cetak dan di edarkan oleh para sultan hingga beredar sampai belahan dunia. Sejak abad ke-14 Dinar dan Dirham pernah mendominasi sebagian pasar Nusantara, Banten, Gowa, Malaka, hingga kepulauan Maluku. Sejarah mencatat bahwa selama mata uang emas dan perak ini berlaku, terbukti mampu menstabilkan perekonomian, tidak pernah terjadi krisis , inflasi dan devlasi. sebab Kata krisis hanya dikenal saat uang kertas berlaku menjadi mata uang dunia.

            Asau usul lahirnya uang kertas ini seiring dengan berkembangnya jaman dan pengetahuan manusia. Ketika uang Emas dan perak masih digunakan sebagai uang resmi global, munculah beberapa pihak yang melihat peluang untuk meraup keuntungan dari kepemilikan emas dan perak. Pihak-pihak itu adalah Bank sentral dan goldsmith mengubah cara pandang masyarakat bahwa Dinar dan dirham  mengandung resiko jika dibawa dan bobotnya yang berat. Pihak ini membuka jasa titipan dan diberikan kepada masyarakat pada saat itu selembar kuitansi atau surat utang (IOU) sebagai bukti dengan tulisan nominal yang sesuai dengan jumlah Dinar dan Dirham yang dititipakan . Hal ini terus berlanjut hingga pasar menerima lemabaran kuitansi sebagai alat tukar karna dipercaya bahwa setiap lemabaran kuitansi adalah manifestasi dari Uang kion Emas yang dititpkan. yang awalnya lembaran kuitansi ini bisa ditebus oleh masyarakat saat itu untuk memperoleh kembali Koin Emas nya. International Monetary Fund( IMF) mengeluarkan pernyataan bahwa kuitansi sah menjadi Alat tukar (Uang kertas) dengan catatan setiap lembar uang kertas yang di terbitkan harus sesuai dengan jumlah nilai cadangan emas sebagai penopang ( Bretton wood). Kekacauan pun mulai terjadi pada tahun 1933 saat Amerika mengalami krisis dan depresi ekonomi yang sangat hebat, masyaraktnya dilarang untuk memiliki koin emas kecuali membeli di Bank Central dengan Harga yang cukup tinggi. Saat itu ketika Bank Central menarik semuan koin Emas dari masyarakat lalu ditukarkan dengan uang kertas yang semula sebagai kuitansi dengan harga 20 dolar AS. Tahun 1934 saat Uang kertas dolar baru diterbitkan, rakyat Amerika yang ingin kembali memiliki Emas harus membelinya kembali dengan Harga 35 dollar AS. Kekacauan terus berlanjut  Pada tahun 1971 Bank centarl melanggar peraturan (Bretton wood) dengan mencetak uang kertas sesuai kehendaknya tanpa ada bekingan emas lagi. Sepenuhnya uang kertas menjadi uang kepercayaan, masyarakat dipaksa untuk percaya bahwa itu adalah uang, padahal hanya selembar kertas kuitansi yang tidak memiliki nilai intrisik

            dalam sistem Bretton wood yang berlaku 1946 hingga 1971  setiap nominal uang yang diterbitkan harus di topang dengan jumlah nilai emas yang sama.  Sebagai analogi, ketika bank sentral suatu negara ingin menerbitkan uang, katakanalah sejumlah Rp.2 Miliar ,bank central harus memiliki cadangan emas yang senilai Rp.2 Miliar. Sebab dari sejarah evolusi mata uang, emas dan perak lah yang menjadi mata uang yang hakiki. Uang kertas hanya sebatas kertas kuitanasi atau sebagai manifestasi dari nilai emas yang di miliki bank sentral suatu negara. Sejak 1971 hingga sekarang uang kertas yang diterbit dan diedarkan oleh bank sentral di seluruh dunia khusunya indonesia 70% nya adalah uang Hampa, karna hanya 30% yang di backup oleh emas.

            Yang perlu di ketahui bahwa bank-bank sentral yang mempunyai hak monopoli menerbitkan mata uang di berbagai negara segaligus sebagai dalang dari berlakunya uang kertas hingga saat ini, sepenuhnya adalah milik swasta, namun para bankir ini mampu menglabui masyarakat dengan cara memberi nama bank yang berbau nasionalis. Misalnya Bank of England bukan milik inggris, melainkan milik para bankir swasta yang sejak 1825 yaitu keluarga Rothschild.  Hong kong and sanghai Bank bukan milik warga Hong Kong, tapi di bawah kontrol Ernest Cassel. Central Bank of turkey juga bukan milik turkey, lagi-lagi ini di bawah kontrol para keluarga elit global, yaitu pereire Brother, Credit Mobilier dari prancis. Lalu bagaimana dengan Bank sentral indonesia (Bi) yang punya hak monopoli menerbitkan rupiah sampai detik ini ? Apakah sepenuhnya di bawah kontrol pemerintah indonesia? 

            1946 secara resmi di bentuk sebuah bank sentral yang bernama BNI 46 atau Bank negara Indonesia 1946 sedangkan uang yang resmi pada saast itu adalah oeang republik indonesia(ORI), 1949 tokoh- tokoh indonesia di ajak berunding konfrensi meja bundar(KMB) yang salah satu hasilnya adalah BNI 46 di berhentikan menjadi Bank sentral indonesia, lalu di ganti dengan De javasche Bank milik swasta hindia Belanda pada saat itu, kemudian untuk menglabui masyaratkat indonesia seolah-olah Bank ini milik indonesia, di ubahlah  namanya yang berbau nasionalis,  menjadi Bank Indonesia( BI). lihat saja di uang kertas mu, terbapat gambar para pahlawan nasional, itu adalah penglabuan, seolah Bank indonesia milik indonesia. Di bawah kuasa Elit-elit global yang menguasai bank sentral inilah yang membawa krisis global berawal dari perampasan emas dan perak dari tangan rakyat dan di ganti dengan lembaran kuitansi yang sekarang dijadikannya sebagai uang kertas. Presiden atau perdana mentri, serta kelas politisi lainnya yang datang silir berganti, tak lebih hanya sebagai wayang belaka,  melayani kakuatan yang tetap sama yaitu oligarki para bankir global yang di sebtukan di atas.

Lalu apa dampak uang kertas terhadap perekonomian indonesia?

            Saat uang republik indonesia berlaku di bawah terbitan BNI 46 pada saat itu 10 rupiah setara dengan 5 gram emas (sistem standar emas) setiap nominal uang yang di terbitkan harus ditopang dengan emas. Katakanlah BNI 46 ingin menerbitkan Rp30 harus di backup dengan 15 gram emas. Sekali lagi ditekankan bahwa uang kertas ini hanyalah manisfetasi dari nilai emas. Tanpa backup emas rupiah tidak bisa di terbitkan. Hal ini telah di atur dalam UUD no 19 tahun 1946. Namu setelah BNI 46 di berhentikan dan ganti dengan De javasche Bank yang sekarng di Sebut Bank Indonesia. Dalam perkembangannya uang kertas rupiah lebih banyak di cetak dan di edarkan tanpa adanya Backup Emas lagi. Tentu saja hal ini menantang UUD no 19 di atas, dalam makro ekonomi ketika peredaran uang lebih mendominasi akan terjadi inflasi, harga-harga akan melambung tinggi. Semakin banyak uang yang di cetak dan di edarkan tanpa backup emas, maka nilai rupiah akan semakin anjlok, kurs mata uang rupiah terhadap mata uang Asing pun ikut mengalami degradasi. Lihatlah  harga emas tahun 1946 yang seharga Rp10 per 5 gram emas. Tahun ini 2019, 1 gram emas di hargai dengan uang kertas senilai Rp.620.000. begitupun dengan barang-barang lain, dari tahun ke tahun harganya kian melambung tinggi. Begitulah cara para elit global (bankir) menjajah dunia khusunya indonesia saat ini, cukup dengan instrumen uang kertas. Menerbitkan dan mengedarkan rupiah sesuai kehendaknya tanpa Backup emas. Di bawah hegemoni para elit global, Akhirnya indonesia semakin banyak uang yang beredar maka dia akan semakin miskin.

            Uang kertas yang beredar saat ini sepenuhnya uang hampa, tak labih dari  uang pembodohan, kita di paksa percaya hanya dengan melihat nominal anka yang tercantum. Sudah saatnya dunia khususnya indonesia lepas dari cengkraman para banki-bankir swasta lebih tepatnya di sebut sebagai kolonialisme dan imprealisme modern. dan kembali menggunakan mata uang yang sesungguhnya, mata uang yang benar-benar mempunyai nilai intrisik yaitu dinar dan dirham (Emas dan perak). Emas dan perak logam mulia yang Universal dari mana pun asalnya kedua benda ini memiliki kualitas yang sama, tidak ada fakta yang mengatakan bahwa emas Amerika lebih berkualitas dibanding Emas indonesia, semuanya sama memilik nilai tukar yang Universal. Bahkan Imam Ghazali pernah mengatakan bahwa emas dan perak adalah hakim yang paling adil. Emas dan perak tidak dapat di manipulasi layaknya mata uang rupiah dan Dollar AS, untuk mendapatkan 1 dollar dihargai dengan Rp.14.500. nilainya pun stabil tak pernah berubah, ketika hari ini 1 ekor ayam di hargai dengan 1 dinar Emas, maka satu dua tahun dan seterus nya harga nya akan tetap sama. Beda dengan uang kertas yang berlaku pada hari ini, dari tahun ke tahun nilainya terus merosot harga barang hari ini dengan tahun depan tentu berbeda. Namun  Itu bukan persoalan barang, tapi persoaln nilai mata uang yang  semakin tak bernilai.             Rasulullah salallahualaihi wassalam pernah berkata,” Akan datang suatu masa dimana tidak ada apapun yang bermanfaat (karena kehilangan nilai) kecuali Dinar dan Dirham.”(HR. Ahmad).

Dompu elit konspirasi NTB Uang

Related Post

Leave a reply