SEBUAH GAGASAN TENTANG BELAJAR

339 views

NURAINI

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP YAPIS DOMPU

foto: Nuraini

Saat ini banyak sekali gagasan-gagasan tentang tentang belajar yang dapat dengan mudah ditemukan dimana saja, baik itu dari buku maupun media elektronik. Belajar disebut sebut sebagai sebuah proses “memanusiakan manusia” yang kerap kita dengar, dewasa ini banyak para ilmuan mengemukakan gagasannya tentang belajar. Dalam praktiknya, belajar menimbulkan perubahan, perubahan disini didapat dari proses yang dinamakan belajar, berarti belajar adalah proses mendapatkan ilmu dan ilmu tersebut menimbulkan perubahan baik itu perubahan berupa perilaku atau pemikiran. Penulis menuturkan bahwa belajar diukur berdasarkan perubahan dalam perilaku, dengan kata lain belajar harus selalu diterjemahkan kedalam perilaku atau tindakan yang dapat diamati.

Kemudian apakah belajar menimbulkan perubahan perilaku? Dalam kasus ini perubahan perilaku tidak semerta-merta terjadi karena proses belajar yang singkat, pastinya semua proses perubahan ditandai dengan waktu belajar yang tidak singkat. Dalam hal ini proses belajar yang panjang tidak menentukan perubahan perilaku yang permanen atau bisa saja terjadi sebaliknya serta tidak menutup kemungkinan proses belajar yang singkat dapat menimbulkan perubahan perilaku yang permanen.

Mengapa kita kerap mengacu pada praktik atau pengalaman, secara umum praktik atau pengalaman tidak perlu dipelajari karena terjadi secara refleks. Belajar adalah mencari pengetahuan, Plato percaya bahwa pengetahuan adalah diwariskan dan karenanya merupakan komponen natural dari pikiran manusia, namun Aristoteles menganggap informasi indrawi adalah basis dari semua pengetahuan.

Dari sejarah ringkas dapat dilihat bahwa teori belajar memiliki warisan yang kaya dan beragam, sebagai akibat dari wawasan ini ada banyak sudut pandang tentang belajar. Jika dalam perilaku spesifik-spesies masih harus diteliti lebih jauh, tetapi poin yang dikatakan berkaitan berkaitan dengan proses belajar, maka perubahan tersebut harus relatif permanen dan harus berasal dari pengalaman. Jika suatu organisme melakukan satu poin tindakan kompleks, namun bukan berasal dari pengalaman, maka tindakan tersebut tidak bisa dikatakan sebagai perilaku yang dipelajari.

Kemudian dilihat dari definisi belajar yang dimodivikasi dari Kimble (1961), definisi ini mengingatkan kita bahwa pengalaman dapat menyebabkan peristiwa yang bukan tindak belajar yang dapat memodivikasi perilaku, keletihan adalah salah satu contohnya. Muncul pertanyaan apakah ada perbedaan antara jenis belajar itu sendiri? Banyak teoritisi menyimpulkan bahwa ada setidaknya dua jenis bahwa pada dasarnya dapat dipahami dalam pengkondisian klasik dan instrumental. Pengkondisian klasik merupakan suatu stimulasi netral, seperti suara dan cahaya, disajikan kepada organisme itu tepat sebelum penyajian makanan, stimulus netral ini dinamakan condentional instrument. Pengkondisian instrument dalam kondisi ini, organisme harus bertindak dengan cara tertentu sebelum perilaku diperkuat berketergantungan pada perilaku organisme.

Perlunya mengkaji proses belajar, karena kebanyakan perilaku menusia itu terbentuk melalui proses belajar, belajar akan membantu kita berperilaku seperti yang kita lakukan sekarang, karena belajar akan menambah pengetahuan. Kita dapat menyimpulkan bahwa setelah pengetahuan kita tentang proses belajar semakin bertambah, praktik pendidikan akan semakin efektif. Seperti yang sudah dibahas dipembahasan sebelumnya oleh Plato dan Aristoteles, bahwa pengetahuan adalah diwariskan dan karenanya merupakan komponen natural dari pikiran manusia (Plato), sedangkan menurut Aristoteles sebaliknya, bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman indrawi dan tidak diwariskan. Kemudian awal muncul psikologi modern. Yang dikemukakan oleh beberapa teoritis, Pane Descates (1596-1650) menyimpulkan bahwa pengalaman indrawi kita pasti merupakan refleks dari realitas objektif. Thomas Hobbes (1588-1679) perilaku manusia dikontrol oleh keinginan dan keengganan, jadi nilai baik atau buruk ditentukan secara individual, hingga Herman Ebbighaus (1850-1909), mengemukakan hukum frekuensi menyatakan bahwa semakin sering suatu pengalaman terjadi, semakin mudah pengalaman itu dingat atau dilakukan lagi.

Dari sekian banyak gagasan yang dikemukakan bahkan banyak yang dikembangkan oleh para ilmuan tentang belajar memiliki sudut pandang yang berbeda-beda, sama halnya dengan banyaknya gagasan-gagasan baru yang bermunculan, tidak menutup kemungkinan akan ada banyak gagasan-gagasan yang akan terus dikembangkan.

belajar Dompu gagasan NTB STKIP Yapis Dompu

Related Post

Leave a reply