Joki Cilik dan Eksploitasi Anak

306 views

Oleh: Wawan Mbozo

foto: joki cilik, diambil dari FB penulis.

“Turut berdukacita sedalam-dalamnya atas meninggalnya Ananda Sula Sabila semoga tenang di SisiNya dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan”

“Dahulu Pernah meninggal seorang pembalap internasional berstandar penanganan super tinggi bernama Simoncelli dan dia adalah seorang dewasa bukan Anak-anak, tapi takdir berkata lain dan itulah Harga dari sebuah dedikasi atas prestasi gemilang di bidangnya”

Pasca kecelakaan yang dialami Oleh Ananda Sula Sabila saat memacu kuda pacuan di lintasan arena  pacuan kuda Sambinae beberapa hari yang lalu hingga berujung pada kematiannya setelah sebelumnya telah diupayakan penanganan medis atas insiden tersebut, namun takdir berkata lain dan tak disangka itu adalah momen pacuan terakhirnya  sebagai seorang joki handal dalam dunia olahraga pacuan kuda tradisional. Almarhum Sula Sabila dikenal sebagai seorang joki cilik yang berkualitas selama ini dan kita semua merasa sangat kehilangan sosok anak, adik dan seorang joki tangguh yang selama ini telah memberi dedikasi atas sebuah tradisi lokal yang merupakan kearifan lokal KHUSUSNYA di wilayah Pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat.

Atas insiden kecelakaan yang menimpa Ananda Sula Sabila ini, maka menjadi ramai dibicarakan oleh masyarakat setempat, baik di media massa hingga di media sosial banyak pihak memberikan tanggapan atas Insiden ini. Sebagian masyarakat dan tokoh masyarakat menyatakan sikap dan pernyataan bahwa Kegiatan Pacuan Kuda Tradisional dipulau Sumbawa saat ini adalah merupakan bentuk eksploitasi terhadap Anak-anak dikarenakan  menggunakan Joki Cilik sebagai joki atau pemacu kuda. Kita memahami dasar pemikiran dan alasan pihak tersebut dikarenakan melihat dari sudut pandang tertentu yang mereka yakini sebagai sebuah kebenaran, akan tetapi perlu juga kita mengkaji Pernyataan tentang adanya Eksploitasi Anak pada kegiatan pacuan kuda tradisional dari sudut pandang lainnya yang barangkali luput dari pengkajian dan analisa pihak-pihak tersebut sehingga sangat perlu kita duduk bersama membahas persoalan ini dengan metode Pendekatan  Sosial Cultural namun tidak menghakimi pihak atau kelompok tertentu sebagai pelaku tindak kejahatan kemanusiaan dengan Tuduhan melakukan Eksploitasi terhadap Anak-anak khususnya dalam hal Pacuan Kuda Tradisional ini.

Jika berbicara eksploitasi tentunya kita kembali merujuk pada definisi menurut ahli bahasa yakni sebuah kegiatan memanfaatkan Anak-anak secara sewenang-wenang yang dilakukan oleh pihak tertentu dengan memaksa anak tertentu untuk melakukan sesuatu tanpa memperdulikan pertumbuhan mental dan Fisiknya. Dari pengertian ini bisa kita menganalisis bahwa walaupun obyek kegiatan adalah anak-anak namun jika tidak terpenuhi Unsur atau konteksnya Pemaksaan terhadap Anak-anak untuk melakukan  kegiatan tersebut maka tidak memenuhi unsur eksploitasi terhadap anak seperti yang dituduhkan. Kita bisa melakukan pengecekan di lapangan guna mengetahui apakah Anak-anak yang selama ini menjadi Joki Cilik melakukan kegiatan ini atas dasar Pemaksaan dari Pihak-pihak tertentu sehingga melakukannya dibawah Tekanan, paksaan, ancaman atau intimidasi dari pihak tertentu seperti yang kita ketahui bersama dalam kasus Eksploitasi Anak-anak ynag dipaksa menjadi Pengemis atau Pengamen oleh beberapa Sindikat Kejahatan terhadap Anak-anak dibeberapa kota besar di Indonesia selama ini. Jika ternyata tidak demikian maka saya merasa kita keliru menyatakan adanya Eksploitasi terhadap Anak-anak dalam kegiatan Tradisi Pacuan Kuda Tradisional ini.

“Adakah raut pemaksaan dalam wajah mereka, saya pribadi melihat mereka dalam kondisi Bahagia, riang dan Merdeka karena kita Pahami Anak-anak Bima mengalir darah pejuang hebat yang tak bisa dipisahkan dengan Kuda-kuda hebatnya seperti Manggila dan kejayaan pasukan anangguru (kerajaan Bima) dimasa lalu”

Pada akhirnya pada kita jualah kembalinya semua keputusan atas perbedaan pendapat dan sikap atas  kegiatan Tradisi Pacuan Kuda Tradisional yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan Masyarakat NTB umumnya. Memang harus kita mengakui jika ada hal-hal yang perlu kita evaluasi dan perbaiki dalam melestarikan tradisi ini. Selain itu patut juga kita mengakui adanya penumpang gelap yang keluar dari Nilai Kearifan  lokal Olahraga  yang syarat akan Budaya dan tradisi kita yang berada dipulau Sumbawa khususnya yakni maraknya kegiatan Perjudian yang sebenarnya adalah bukan menjadi bagian atau cita-cita serta tujuan dari dilestarikan nya Tradisi Pacuan kuda Tradisional selama ini oleh para pendahulu kita sejak dahulu, namun perlu kesadaran  bersama untuk memurnikan kegiatan Tradisional ini agar tidak dikotori oleh kepentingan-kepentingan diluar dari marwah aslinya seperti perjudian oleh beberapa oknum saja sehingga menciderai Nilai dan asas aslinya. Juga yang dirasa penting adalah membuatkan Perda tentang Perlindungan dan Jaminan Kesehatan dari Pemerintah Setempat atas segala hal yang terkait dengan kesehatan dan Jaminan Keselamatan atlet Joki pacuan Kuda dan Memberi Reward-reward dibidang Olahraga atas Prestasi mereka baik secara Formal dan Informal oleh Instansi terkait sehingga keberadaan mereka memiliki Legalitas dan Pengakuan sebagai seorang Atlet di bidang olahraga Pacuan Kuda Tradisional. Regulasi dan aturan-aturan yang dianggap perlu dalam olahraga ini perlu dikaji dan ditinjau kembali sehingga pada Akhirnya kita akan terlepas dari keadaan saling menyalahkan, saling menuduh dan saling melempar Tanggungjawab dikala terjadi sebuah Insiden yang pada dasarnya tidaklah kita inginkan  semua itu terjadi karena pada dasarnya Tradisi ini adalah Warisan kita yang tercatat oleh Tinta Emas Sejarah jika kita semua Menjaganya, Memeliharanya dan Merawatnya dengan semangat Kebersamaan dan kecintaan  pada  Kearifan Adat istiadat dan Budaya kita yang Maha Tinggi ini. Tradisi adalah Pemersatu dan Budaya adalah Corak Identitas Kita maka dari itu mari kita kembali pada Esensi dari segala hal terkait Budaya dan Tradisi adalah Nilai Kebersamaan kita semua sebagai sebuah Bangsa.

eksploitasi anak joki cilik kuda

Related Post

Leave a reply