Tradisi Pacuan kuda, Joki Cilik dan Bisnis Perfilman

320 views
Foto: Joki cilik, diambil dari FB penulis.

Oleh : Wawan Mbojo

Hari ini tatapan Dunia semuanya mengarah kepada kita, Tanah Bima yang indah, tanah Bima yang kaya akan tradisi, budaya serta adat istiadat yang tertanam begitu kuat dalam kehidupan kita hingga hari ini. Termasuk di dalamnya adalah budaya berkuda yang merupakan kebiasaan nenek moyang bahkan sejak zaman kerajaan, lalu Kesultanan yang digunakan oleh pasukan kerajaan seperti Bumi Jara, Anangguru, Jara Sarau dan sebagainya, itu menandakan bahwa kuda telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan  Dou Mbojo (orang Bima). Selain  itu juga kuda dimanfaatkan  sebagai moda transportasi di dekade selanjutnya yang biasa kita sebut Jara Benhur (kereta kuda).

Untuk mengingat Ketinggian dan ketangkasan berkuda para pendahulu maka dibuatlah perlombaan rakyat yang disebut sebagai Pacoa Jara (Pacuan Kuda) dan oleh sebagaian sumber mengatakan bahwa pacuan kuda pernah diadakan menyambut Hari Ulang tahun Ratu Wilhelmina (Ratu Belanda) karena saat itu Belanda Pernah menjajah Indonesia salah satu daerah yang dijajah adalah daerah Bima. Hal ini yang memunculkan polemik akhir-akhir ini antara para budayawan dan pemerhati sejarah yakni tentang keberadaan joki atau pemacu kuda pada pacuan kuda tradisional yang digelar. Ada yang menyatakan bahwa sejak dahulu pacuan kuda menggunakan joki remaja atau dewasa, namun tidak ada yang mengetahui persis kapan dimulainya penggunaan joki cilik berusia rentan antara 7-10 tahun yang saat ini menjadi sorotan banyak pihak terutama mereka yang bekerja sebagai pemerhati anak saat ini. Selain itu pihak luar pun ikut melakukan penelitian akan prilaku Pacoa Jara (Pacuan Kuda) tradisional dibdaerah Bima, Dompu dan juga Sumbawa karena memang hanya di Pulau Sumbawa inilah kita temukan adanya penggunaan joki cilik pada kegiatan pacuan kuda sehingga menarik perhatian dunia luar karena keunikan ini. Mereka datang silih berganti memperhatikan, meneliti, lalu menganalisis secara cermat dan mendalam baik dampak positif maupun dampak negatif dari kehidupan  pacuan kuda tradisional serta joki cilik nya.

Namun sebuah fakta bahwa dibalik penelitian dan pengamatan mereka yang ingin mengetahui tentang budaya berkuda di Bima juga joki cilik nya, rupanya membawa banyak catatan tersendiri semacam sebuah pesan kepada dunia tentang sebuah wilayah di Pulau Sumbawa yang memiliki tradisi berkuda dengan joki ciliknya. Mereka adalah anak-anak yang berani dan kuat, melaju dengan kecepatan tinggi di atas punggung kuda-kuda besar tanpa rasa takut berpacu dengan menunggang kuda hingga 80 km per jam.

Di pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat, tradisi berkuda melibatkan anak-anak.
Bakat untuk balap kuda diturunkan dari generasi ke generasi,  Anak-anak ingin belajar untuk melepaskan ketakutan  mereka,  bahkan dengan resiko terjatuh, menjadi cacat atau sekarat selama perlombaan.


Pemerintah Daerah dan orangtua menganggap tradisi ini sebagai bagian penting dari budaya mereka, yang harus dilestarikan bahkan dengan semua resiko dan bahaya yang terlibat, tidak ada yang peduli dengan keselamatan joki anak-anak ini, begitu isi tulisan Romi Perbawa dalam catatannya dan bekerja selama 4 tahun sebagai sumber awal karyanya buku esay “The Riders Of Destiny” yang melambungkan namanya dengan memenangkan angkor photography festival, di Siem Reap Kamboja.

Begitulah penulis merasa pacuan kuda tradisional Bima mulai dikenal dunia, tapi sekali lagi penulis katakan bahwa  bagaimana mereka yang mengambil obyek dari karya mereka adalah tentang tradisi kita, kuda dan joki ciliknya namun sebuah pesan tak terduga mereka kabarkan kepada dunia dari sudut kamera dan pemahaman penulis sehingga yang sampai kepada dunia luar adalah sebuah kejahatan tengah terjadi berupa bentuk eksploitasi terhadap anak-anak joki cilik pada kegiatan pacuan Kuda tradisional di pulau Sumbawa. Sangat sedikit mereka menceritakan sebuah makna, sebuah hikmah dan nilai kearifan lokal dalam diri kehidupan masyarakat Bima khususnya dan Pulau Sumbawa umumnya mengenai ketangguhan anak-anak joki cilik dalam kehidupan tradisi pacuan kuda. Mereka tidak menggali akar sejarah kehidupan berkuda masyarakat Bima sehingga bisa melahirkan anak-anak joki cilik yang tangguh sehingga tidak akan kita temukan  didaerah manapun  di negeri ini. Sungguh sebuah pesan yang tidak berimbang dan terlalu menggiring opini publik kearah pemikiran penulis tentunya. Tidak adil buat kami yang memiliki tradisi tersebut hari ini.

Tidak sampai di situ, setelah Romi Perbawa mendapati kesuksesannya memenangkan Angkor Photography Festival, di Siem Reap Kamboja, dengan buku Esay yang bertajuk “Destiny of Riders, 2004“, seorang produser film Michael Niermann mulai menggarap sebuah film yang terinspirasi dari karya fenomenal Romi Perbawa dan mungkin saat ini dalam proses penggarapan.  Begitulah tingginya fenomena pacuan kuda tradisional Bima dengan Joki ciliknya bagaikan daging segar bagi para pelaku karya dengan bidangnya masing-masing. Fotografer akan mengabadikan gambar kehidupan, Produser akan melahirkan karya yang besar kemungkinan Hollywood akan melirik, pekerja sosial anak akan melindungi hak-hak anak, Penjudi akan menikmati kemenangan dan kekalahan, dan banyak lagi yang akan menikmatinya.

Lalu pertanyaan saya siapakah yang paling diuntungkan  dari fenomena kehidupan pacuan kuda tradisional di dana mambari (tanah kramat) ini? Apakah mereka yang memenangkan karya di kontes internasional ikut menyantuni anak-anak ini dengan hasil yang pernah didapatkan, Apakah nanti jika film karya produser Michael Niermann ini memenangkan piala Oscar akan ada kejutan buat anak-anak joki cilik ini, atau mereka ynag berjudi tak perlu kita tanyakan perannya. Jika semua tidak memberi apa-apa buat mereka para joki cilik sementara kehidupan mereka menjadi obyek karya besar kalian yang di bisnis kan, dikomersilkan dan menghasilkan pundi-pundi Dolar, maka kalian telah mengeksploitasi tradisi kami dan mengeksploitasi kehidupan para joki cilik ini.

Begitulah sekelumit tentang Bima dengan segala dinamika dan kekhususan nya.  sebuah kebanggaan menjadi bagian dari Bangsa ini, ORANG-orang nya, tradisi dan budayanya, kehidupan masyarakatnya serta banyak cerita lain tentang Negeri ini. Negeri yang berada di ujung Timur Pulau Sumbawa. Dana Mambari orang menyebutnya.

Dompu eksploitasi anak joki cilik Kapolda NTB

Related Post

Leave a reply