Harmonisasi Ekonomi dan Ekologi

382 views

Harmonisasi antar Ekonomi dan Ekologi, Sebuah Alternatif Pilihan Kebijakan Pembangunan Daerah.

Oleh Dodo Kurniawan (Direktur INDEK NTB)

Dr. (Cand) Dodo Kurniawan, SE., ME.
Direktur INDEK NTB dan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Brawijaya

Selama ini Pemerintah Daerah Provinsi NTB wabil khusus Kabupaten Dompu, dalam pelaksanaan pembangunannya lebih menitihberatkan pada strategi pembangunan cepat dan mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi. Akibat dari pilihan strategi pembangunan cepat dan mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi,

Menyebabkan lingkungan khususnya kawasan hutan terabaikan dan beralih fungsi atau dikonversi menjadi lahan-lahan yang ditanami tanaman jangka pendek, katakanlah jagung dan semisalnya.

Setidaknya kawasan hutan kita masih tersisa 20-30 persen saja. Hal ini senada dengan pernyataan Jamaludin, S.Sos. Wakil Ketua DPRD Kab. Dompu

“Hutan kita sudah 70 persen lebih habis dibabat” (Sumber Lakeynews 21/11).

Alih fungsi hutan dalam kawasan ke lahan-lahan jagung telah menyebabkan luas kawasan hutan tutupan berkurang, luas lahan kritis akan meningkat, banjir dan tanah longsor akan lebih sering terjadi.

Selanjutnya debit air sungai akan menurun bahkan kering pada saat musim kemarau, hutan mangrove dan terumbu karang di pantai pesisir akan mengalami kerusakan berat, dan

Kesuburan tanah dan produksi akan menurun dengan cepat serta pencemaran udara dan air akan meningkat.

Padahal dalam jangka panjang, sektor pertanian adalah sektor yang terkena imbas dari pilihan strategi pembangunan cepat dan mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi.

Dimana, Pendapatan keluarga petani hampir tidak berubah,

Hal ini didukung secara empiris dari penelitian yang dilakukan oleh Dodo Kurniawan (Direktur INDEK NTB) mengatakan aktivitas petani jagung belum memberikan keuntungan dan peningkatan kualitas hidup. Hal ini dikarenakan dari sisi kelayakan usahatani jagung rasionya masih dibawah satu. (Sumber Kumpara, 22/08)

produksi menurun karena erosi dan kesulitan sumber irigasi, penduduk yang bekerja pada sektor pertanian menurun menjadi sekitar 40 persen dan

Selanjutnya, pemasaran hasil-hasil pertanian tetap sulit karena Industri tidak berorientasi lengolahan dan puncaknya kontribusi sektor pertanian pada pembentukan PDRB akan berkurang.

Hal ini di indikasikan oleh melorotnya pertumbuhan ekonomi kabupaten Dompu tahun 2018 yang berada di angka 4,52 persen. Angka ini merupakan yang terburuk sejak 10 tahun kepemimpinan HBY. (Sumber BPS Kab. Dompu 08/19).

Dimana pada awal Kepemimpinan HBY angka Pertumbuhan ekonomi Dompu ada di angka 4,54 persen.

Sehingga diperlukan alternatif pilihan strategi Pembangunan yang Harmonis antar Ekonomi dan Ekologi.

Strategi Pembangunan yang Harmonis antar Ekonomi dan Ekologi menitihberatkan pada pembangunan berkelanjutan, partisipasi masyarakat dan kemampuan menggunakan kekuatan sendiri tinggi, pembangunan yang ramah lingkungan dan efisiensi penggunaan sumberdaya dan harmonisasi pertumbuhan dan pemerataan.

Dengan strategi Pembangunan yang Harmonis antar Ekonomi dan Ekologi akan mendorong luas tutupan lahan akan meningkat, luas lahan kritis akan berkurang, banjir dan tanah longsor akan semakin berkurang, debit air sungai akan lebih stabil dan sungai yang kering akan berair kembali,

Selanjutnya, kerusakan hutan mangrove dan terumbu karang di pesisir dapat dikurangi, kesuburan tanah dan produksi tanaman dapat diertahankan dan pencemaran udara dan air dapat diminimalkan.

Rumusan Strategi Pembangunan yang Harmonis antar Ekonomi dan Ekologi

Sasaran; Terciptanya pertumbuhan ekonomi berbasis pertanian yang ditunjang oleh sektor nonpertanian dengan memperhatikan kelestarian lingkungan dan kebutuhan masyarakat kecil.

Indikator; Pendapatan per kapita meningkat, rumah tangga di bawah garis kemiskinan berkurang, dan kawasan hutan dan mangrove meningkat dan terpelihara.

Tujuan; Meningkatkan kualitas hidup masyarakat, mejaga kelestarian lingkungan dan mengembangkan pertanian dan industri secara berkelanjutan.

Indikator: Harapan hidup meningkat, angka putus sekolah pendidikan dasar menurun, sanitasi lingkungan permukiman meningkat, dan perusakan hutan dan terumbu karang menurun.

Strategi Program- Program

1. Pertanian Berkelanjutan
Program;
Pengembangan hutan tanaman, pengembangan pusat produksi komoditas unggulan secara terpadu, pembinaan pola-pola budidaya tanaman, ternak dan ikan berbasisi kearifan lokal, peningkatan peranan BUMD, BUMDes dan Pemasaran Hasil dan penyuluhan dengan pendekatan PRA.

Indikator;
Pendapatan petani meningkat, perladangan berkurang dan penebangan liar berkurang.

2. Pengembangan SDM
Program;
Perbaikan proses belajar mengajar pada tingkat Sd dan SLTP, pengembangan sekolah menengah kejuruan, penyelenggaraan kursus-kursus keterampilan dan pemagangan, pemantapan kelompok tani dan pengembangan kelompok pengerajin.

Indikator;
Persentase penduduk lulus pendidikan dasar meningkat, jumlah tenaga kerja terampil meningkat, kemampuan masyarakat mengorganisasikan diri meningkat, dan tingkat dan kualitas partisipasi meningkat.

3. Pelestarian lingkungan
Program;
Pengembangan jalur hijau, pemantapan strategi penghijauan dan reboisasi, pengembangan hutan tanaman, hutan desa, pengembangan pola-pola pelestarian hutan mangrove dan terumbu karang, pemantapan pengelolaan kawasan lindung, dan pengendalian pencemaran.

Indikator;
Luas reboisasi dan penghijuan meningkat dan kurusakan hutan dan terumbu karang berkurang.

4. Pengembangan Pariwisata
Program;
Pemeliharaan situs purbakala secara terpadu, pengembangan zona penyangga cagar alam sebagai objek ekowisata, pengembangan agrowisata dan ekowisata, pengembangan industri jasa terkait pelayanan sosial-ekonomi, pengembangan pola pemasaran dan promosi pariwisata terpadu.

Indikator;
Persentase penduduk lulus pendidikan dasar meningkat, jumlah tenaga kerja terampil meningkat, kemampuan masyarakat mengorganisasikan diri meningkat, dan tingkat dan kualitas partisipasi meningkat.

5. Industri kecil dan Kerajinan
Program;
Penataan lingkungan industri kecil dan kerajinan, bantuan teknis manajemen, pelatihan dan pemagangan, pemberian kredit usaha, dan dukungan pemasaran dan promosi terpadu.

Indikator;
Jumlah unit produksi industri kerajinan meningkat, jangkauan pasar meningkat, dan pendapatan pengerajin meningkat.

6. Pengembangan Kelembagaan lokal
Program;
Reorganisasi dinas kabupaten, pemantapan kemampuan BAPPEDA Kabupaten, pemantapan peran legislatif dalam pengawasan, pemberdayaan kelembagaan dan aparat desa, dan pemberdayaan kelompok masyarakat

Indikator;
Dinas teknis dikurangi, BAPPEDA lebih mampu melaksanakan fungsinya, proses dan prosedur perencanaan lebih bottop up.

7. Pengembangan Infrastruktur
Program;
Pengembangan sistem irigasi hemat air, pengembangan jaringan jalan desa, peningkatan jaringan listrik, penambahan jaringan telpon dan pengembangan jaringan air bersih.

Indikator;
Meningkatnya sistem irigasi hemat air, Banyaknya jaringan jalan desa minimal perkerasan, jaringan listrik minimal mencapai 30 persen jumlah desa, jaringan telpon minimal mencapai desa-desa pusat pelayanan sosial-ekonomi dan jaringan air bersih minimal mencapai 30 persen jumlah desa

Related Post

Leave a reply