GURU SEBAGAI SIMBOL KEMERDEKAAN

1448 views

Oleh: Andri Ardiansyah

Foto: Andri Ardiansyah

Mahasiswa Doktor (S3) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Indonesia dinobatkan sebagai negera merdeka setelah pembacaan teks proklamasi oleh bapak bangsa kita Bung Karno di depan khalayak ramai dengan atas nama rakyat Indonesia, dimana teks tersebut seolah penentu kehidupan dan kematian rakyat Indonesia. Di sebut sebagai penentu kehidupan dan kematian karena dengan pembacaan teks kemerdekaan itulah rakyat indonesia terbebas dari belenggu-belnggu kolonialisme Belanda atas rakyat Indonesia sehingga kita sebagai anak bangsa bisa merasakan ruhnya kehidupan. Dan jika pada saat itu tidak dibacakan teks kemerdekaan oleh Bung Karno beserta Bung Hatta maka sudah dipastikan bahwa rakyat Indonesia masih hidup dalam kungkungan dominasi imperealisme dan kolonialisme Belanda yang menyebabkan kematian ruh kebebasan terhadap rakyat Indonesia itu sendiri.

Kini rakyat Indonesia benar-benar merasakan kebebasan dalam menjalani kehidupan sebagai manusia yang merdeka atas dominasi penjajah. Sedikit demi sedikit Indonesia memperbaiki kehidupan bangsanya baik itu hukum, politik, tatanan sosial, dan pendidikan. Poin yang terakhir (pendidikan) ini adalah yang menjadi ujung tombak Indonesia nantinya sebagai sebuah harapan besar untuk membangun bangsa Indonesia kedepan. Pasalnya pendidikan kita saat ini masih belum memuaskan dari berbagai seginya baik secara impelementasi, kurikulum, dan sarana-prasarananya, disamping itu juga guru yang menjadi tumpuan harapan kita seolah tidak banyak diperhatikan oleh pemerintah pusat. alih-alih pemerintah memberi kesejahteraan pada guru-guru khususnya honorer dan sukarela malah membebani mereka denga banyak tugas dan tanggung jawab.

Guru sudah banyak berkorban untuk membangun nusa dan bangsa ini tetapi balasan untuk mereka hanya sekedar ucapan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Kata tersebut setiap tahun disaat hari guru di rayakan sering kita dengar, yang sebenarnya kata “Guru Pahlawan Tampa Tanda Jasa” itu sebagai sindiran kepada pemerintah yang kurang memberi perhatian lebih atas jasa-jasa mereka. Penulis melihat ada titik persamaan antara Bung Karno denga Guru, jikalau Bung Karno membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu-belenggu imperalisme dan kolonialisme Belanda sehingga lahirlah Indonesia merdeka maka Guru membebaskan generasi-generasi Indonesia dari belenggu-belenggu kebodohan menuju cahaya ilmu pengetahuan sehingga lahirlah manusia-manusia Indonesia yang cerdas. Guru adalah tolak ukur kemerdekaan sebuah bangsa, kehadiran mereka di tengah-tengah dunia pendidikan anugrah bagi kita semua, kalau kita mau membuka kembali lembaran-lembaran sejarah maka kita akan menemukan disana begitu gigih perjuangan mereka mencerdaskan generasi ini dengan kerja ikhlas.

Bung Karno yang selama ini namanya dicatat di setiap lembaran sejarah bangsa Indonesia tidak luput dari jasa dan keikhlasan para guru yang mengajarkan beliau sehingga menjadi pemimpin yang di perhitungkan oleh dunia kala itu. Guru memnag tidak bisa kita hargakan dengan rupiah atau dolar tetapi lebih dari itu mereka memilki jiwa patriot, dedikasi yang tinggi, dan peduli yang besar untuk bangsa dan negara mereka. Jadi, negara harus hadir ditengah-tengah guru ketika mereka menemukan kesulitan-kesulitan dalam menjalankan tugas mereka sebagai Pahlawan yang mencerdaskan generasi. Setidaknya jika pemerintah tidak mampu memberikan mereka kesejahteraan yang lebih maka jangan memberi mereka beban yang tidak sanggup mereka pikul, jika pemerintah memiliki niat baik untuk membangun bangsa ini maka sudah seharusnya pemerintah menempatkan guru sebagai sesuatu yang penting pula bukan sekedar memberi cap sebagai “Pahlawan Tampa Tanda Jasa” saja.

Kita juga masih ingat ketika Jepang di bom oleh Amerika dan menemui kekalahannya, sejarah kekalahan itu masih melekat dalam benak masyarakat Jepang sebagai suatu fenomena yang mengerikan bagi rakyat Jepang. Tetapi ada sesuatu yang luar biasa yang dilakukan oleh pemerintah Jepang dimana situasi dan kondisi yang masih huru-hara dalam perang hanya satu pertanyaan pemerintah Jepang yaitu dimana guru, apa mereka masih hidup?. Begitulah cara Jepang menempatkan guru sebagai item yang penting dalam sebuah negara, mereka menempatkan guru sebagai pilar kemerdekaan yang akan membangun kembali negara mereka yang dihancurkan oleh Amerika. Setelah perang Amerika-Jepang usai maka Jepang secepat mungkin membangun kembali negara mereka yang sudah hancur lebur oleh bom yang begitu dahsyat. Langkah awal Jepang untuk merekonstruksi kembali negara mereka dengan melibatkan guru untuk mencerdaskan anak-anak bangsa mereka. Jepang tidak butuh waktu laama untuk mengembalikan semua seperti kehidupan semula, mereka hanya butuh waktu 40 tahun untuk Jepang yang kini sebagai salah satu negara maju di dunia.

Karena guru bagi mereka adalah pilar kemenangan dan pembawa berkah maka tidak heran negara mereka kini menjadi negara salah adidaya secara teknologi yang sangat maju menandingi negara-negara maju Eropa. Di sisi lain Jepang menghormati jasa-jasa para gurunya sehingga secara emosional kedekatan negara (pemerintah) dengan guru seolah mereka bagaikan satu tubuh yang saling mengisi satu sama lain. Berbeda halnya ketika kita melihat negara kita Indonesia tercinta ini kadang kala kita sebagai generasi milenial miris melihat kehidupan guru-guru saat ini dimana mereka tidak banyak menerima tetapi sebaliknya yaitu lebih banyak memberi. Mereka ikhlas memberikan segala kemampuan mereka kepada negara pengabdian, waktu, tempat, dan serta hidup mereka demi mencerdaskan anak bangsa. Tetapi lagi-lagi perhatian negara hanya sekedar harapan yang tak kunjung menjadi kenyataan. Maka terjadilah ketidak seimbangan antara guru dan negara dalam wadah pendidikan, ketika guru melakukan kekeliruan kecil dalam mendidik siswa maka akan dikatakan guru tidak becus, guru tidak bisa diharapkan, guru hanya bisa memukul siswa, dan tuduhan-tuduhan lainnya di alamatkan kepada guru. Padahal jasa guru yang sangat besar tidak berbanding dengan kekeliruan kecil yang tidak sengaja dilakukan guru.

Negara hanya banyak menuntut guru berinovasi tetapi lupa memberi kesejahteraan untuk membuat mereka terinspirasi. Bagaimana mungkin guru berinovasi sedangkan tidak di fasilitasi untuk menghasilkan karya-karya yang monumental untuk peserta didik mereka. Sehingga tidak heran output peserta didik kita tidak begitu banyak menguasai skill mereka dikarenakan keterbatasan sarana dan prasarana yang disediakan oleh negara. Tetapi guru berusaha semaksimal mungkin mensiasati kekurangan-kekurangan prasarana dalam mendidik dengan apa yang mereka bisa sekalipun negara tidak hadir ketika mereka mendapatkan kesulitan dalam lapangan. Para guru-guru akan terus memberi dedikasi pada pesereta didik mereka, karena bagi mereka harapan itu bukan pada materi yang disediakan oleh negara tetapi harapan itu ada pada pundak-pundak generasi-generasi penerus yang mereka didik saat ini.

Guru Hari Guru

Related Post

Leave a reply