Mengenal Musik Tradisional Bima-Dompu: Kalero

720 views
Foto: Saeni dkk mewawancara pelaku musik kalero

Oleh: Yeni Saeni , Ainun, Ririn Ulfa dan Mirnawati

Mahasiswi STKIP Yapis Dompu

Musik Kalero merupakan sebuah musik yang berkembang di suku Donggo pada abad ke-19. Kemunculan musik Kalero diawali dengan proses penyebaran agama islam di pulau Sumbawa yang di mulai dengan para pedagang dari luar daerah maupun diluar nusantara ramai berdatangan kepulau Sumbawa untuk melakukan suatu transaksi perdagangan dengan masyarakat setempat, selain itu musik Kalero ini menjadi srategi menyebarkan agama islam. Sebagian masyarakat kurang paham tentang arti dan konsep dari musik Kalero ini dan menganggap musik ini adalah musik yang berbaur syirik, tetapi setelah dijelaskan akhirnya masyarakat paham dan mendukung keberadaan musik kalero ini. Masa jeda waktu yang berlansung lama selama hampir 40 tahun tersebut menyebabkan para leluhur berupaya untuk tetap menjaga dan melestraikan musik Kalero ini yang terabaikan dari perjuangan yang telah mereka lakukan selama itu untuk tetap melestarikan musik Kalero sebagai wadah silahrurahmi antar masyarakat. Tarian kalero ini merupakan perpaduan antara toja dan kalero, tarian ini merupakan tarian kerasukan yang tidak sembarang dilaksanakan kecuali pada acara-acara tertentu, Untuk membangkitkan kembali unsur-unsur dan nilai-nilai yang terkandug dalam musik Kalero yang telah lama terpendam, untuk mendapatkan perhatian dari generasi penerusnya para leluhur hadir kembali melalui proses transformasi waktu dalam perwujudan sosok orang-orang yang memainkan musik kalero terungkap apa sebenarnya yang ingin disampikan oleh para leluhur kepada para penerusnya atau kepada anak cucunya.

Perbedaan musik Kalero dengan musik lainnya yaitu adaya kepercayaan masyarakat pada makamba-makimbi atau roh-roh neneng moyang serta benda-benda yang mempunyai kekuatan gaib yang berupa alat-alat musik serta nyanyian atau syair.

Menurut M. Hasan A. Wahib (63) selaku lembaga adat di Karamabura menyatakan bahwa musik Kalero merupakan suatu hasil kebudayaan yang diciptakan masyarakat Donggo baik hasil cipta, rasa, dan karya masyarakat Donggo serta ide-ide, gagasan, nilai-nilai dan kepercayaan masyarakat. Musik Kalero dimainkan dengan alat musik berupa gendang, suling, gambus dan lainnya dan Pemain dalam musik kalero minimal 12 orang yang terdiri dari 4 orang penari perempuan, 4 orang penggiring musik dan 4 orang penyanyi. Musik kalero sendiri  masih dipertahankan di desa Mbawa Donggo. Hasil wawancara dengan salah satu pemain musik kalero bapak Muhamad Hasan (45) Sekarang ini musik tradisional Kalero mengalami kemunduran dalam popularitasnya dimata masyarakat. Hal ini terjadi karena kurangnya inisiatif dari pemuda dan masyarakat dalam melestarikan budaya daerah dan besarnya harapannya kepada pihak pemerintah untuk ikut andil dalam melestarikan budaya yang dimaksud, seperti pengenalan musik Kalero pada festival atau pementasan daerah sebagai langkah awal dalam mengenalkan kembali musik Kalero pada masyarakat umum.

Bima Dompu kalero NTB

Related Post

Leave a reply