Harapan Mahasiswa Perantauan Bima di tengah Wabah Covid-19

412 views

Oleh: Muhammad Farid

Mahasiswa Jurusan Statistika di Universitas islam Indonesia.

Sudah menjadi suatu keharusan bagi pemerintah daerah untuk memantau keadaan masyarakatnya dalam kondisi apapun, lebih khususnya pada fenomena yang terjadi beberapa bulan terakhir ini ketika pandemi covid-19 hadir dan mengancam keberlangsungan seluruh aktifitas masyarakat, termasuk terancamnya kebutuhan berupa logistik hingga pada kesehatan.

Sudah barang tentu hal demikian terjadi, sebab hadirnya wabah yang sama-sama tidak kita inginkan ini berdampak begitu signifikan kepada perputaran ekonomi yang akhirnya berpengaruh pada siklus hidup kita sebagai masyarakat, baik yang masih berada dalam lingkaran daerah masing-masing maupun yang sedang berdomisili di luar daerah. Sebut saja putra dan putri daerah yang sedang berada di luar kota untuk melanjutkan studi  yang tidak sempat menerima haknya sebagai penerima maanfaat Bantuan Langasung Tunai (BLT) dari pemerintah daerah karna terkurung oleh himbauan pemerintah pusat seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar, lockdown, social distancing dan physical distancing.

Dalam melihat fenomena yang terjadi, Mahasiswa dan Mahasiswi dari berbagai daerah yang sedang terkurung di luar kota, Seperti Halmahera Selatan (Maluku Utara), Alor kalabahi (NTT) dan lain sebagainya tidak tinggal diam. Secara kolektif mereka melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah masing-masing dalam menyampaikan aspirasi untuk mendapatkan berupa sembako hingga Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk menunjang hidup di tengah-tengah pandemi Covid-19. Tidak menunggu lama dan bertele-tele, PEMDA yang bersangkutan langsung menyerap aspirasi dari putra dan putri daerah sebagai pemohon dan dengan cepat menyalurkan bantuan, sebab itu tugas dan kewajibannya Pemimpin.

Lalu bagaimana nasib kami Mahasiswa  berasal dari Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat yang sekarang masih terkurung di Pulau Jawa?. Sampai detik ini penyaluran bantuan logistik masih menjadi mimpi. Besar hapan kami, dalam hal ini kami menyampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Bima agar peka dengan keaadan sosial yang terjadi di sekitarnya terkait dengan wabah corona virus yakni melindungi masyarakatnya termasuk kami mahasiswa yang saat ini berada diperantauan, lantaran menimba ilmu untuk kemajuan daerah.

Sebab menjadi pemimpin ataupun penguasa itu tidak hanya sekedar memimpin dan memerintah orang lain, menjadi pemimpin ataupun penguasa harus mampu merasakan dan menerjemahkan suatu keadaan di sekitarnya. Orang yang belum mampu merasakan, menerjemahkan dan mengendalikan suatu keadaan disekitarnya bukanlah seorang pemimpin ataupun penguasa meskipun ia memiliki gelar dan jabatan. Jabatan hanyalah sebuah gelar sementara kekuasaan ataupun kepemimpinan itu melampaui segalanya. Untuk itu menjadi pemimpin ataupun penguasa ia harus mampu memayungi orang-orang yang dipimpinnya termasuk juga dirinya sendiri.

Melalui tulisan ini, kami berharap kepada pemerintah Kabupaten Bima agar mengambil sikap dan tindakan untuk membantu kami mahasiswa yang ada diperantauan.

covid 19 NTB

Related Post

Leave a reply