Penataan Hulurisasi dan Hilirisasi, Solusi Meningkatkan Pendapatan Petani

463 views

PUSAKApublik.com. Dompu – Peningkatan pendapatan petani dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan peningkatan luas lahan yang dimiliki atau melalui peningkatan produktivitas persatuan luas lahan.

Jika diinginkan peningkatan kepemilikan luas lahan ini secara cepat dapat dilakukan melalui jalan reformasi tanah. Pendekatan reformasi tanah ini memang kelihatannya sulit ditempuh karena adanya hambatan psikologis dan politis.

Walaupun kesan itu tidak bisa dimungkiri, tetapi ada baiknya mulai dibicarakan dan dihitung untung ruginya jika dibandingkan dengan mengeluarkan kebijakan lainnya.

Beberapa pengalaman negara lain yang pernah melakukannya terbukti dapat mengatasi persoalan kepemilikan lahan tersebut. Misalnya, di jepang reformasi tanah sudah dilakukan dan berhasil memengaruhi pemerataan pendapatan.

Program reformasi tanah di Jepang berhasil karena terdapat dua titik temu, di satu sisi rakyat menuntut dengan kuat dan disisi lain pemerintah mempunyai political will yang tidak kalah nyaring. 

Sedangkan upaya peningkatan produktivitas usahatani telah mengalami kemajuan yang cukup berarti. Salah satu unsur penentu perbaikan produktivitas adalah tersedianya benih/ bibit berkualitas dan sarana produksi lainnya secara memadai.

Namun, jika subsistem agribisnis hulu sebagai penyedia sarana produksi tidak berkembang, peluang petani untuk meningkatkan produktivitasnya menjadi hilang. Subsistem agribisnis hulu yang tidak berkembang ditandai dengan penguasaan pasar yang cenderung monopolistik dan mutu produk yang dihasilkanya rendah.

Kebijakan pembangunan yang mampu memperbaiki efisiensi di sektor agribisnis hulu ini akan secara langsung menguntungkan petani dalam bentuk harga sarana produksi yang lebih rendah dengan kualitas yang tinggi dan ketersediaan yang terjamin.

Tugas terpenting pemerintah untuk menyediakan input produk pertanian yang bermutu dan berharga murah ini sangat tergantung dari dua hal.

Pertama, Sampai seberapa jauh upaya riset dan pengembangan terus dilakukan sehingga ditemukan input pertanian yang lebih berkualitas.

Kedua, mengatasi praktik monopoli, baik pada level produksi maupun distribusi yang seringkali terjadi pada produk input pertanian.

Praktik monopoli ini sangat mengganggu upaya peningkatan produktivitas petani karena harga input cenderung mahal sehingga petani tidak sanggup membelinya.

Dengan pasar input dibikin kompetitif diharapkan harga barang input menjadi murah sehingga petani bisa mengaksesnya.

Faktor lain yang memicu peningkatan pendapatan petani adalah harga. Produktivitas lahan yang tinggi belum menjamin peningkatan pendapatan jika harga yang diterima petani untuk produknya masih rendah.

Harga yang diterima petani sangat ditentukan oleh perkembangan subsistem agribisnis hilirnya.

Produk pertanian yang bersifat cepat rusak (kualitas turun) dan tergantung musim, memerlukan subsistem agribisnis hilir (pengolahan hasil, pemasaran, dan perdagangan) yang berjalan dengan baik dan efisien.

Petani sering mengeluh bahwa harga produk pertaniannya turun drastis di waktu musim panen. Turunya harga secara drastis ini sering tidak sekedar mencerminkan adanya lonjakan penawaran yang tidak disertai dengan naiknya permintaan dengan proporsi yang sebanding tetapi menggambarkan juga subsistem hilir yang tidak terbangun dengan baik.

Sudah terlalu lama pembangunan pertanian hanya berkonsentrasi di bagian budidaya dan melalaikan outlet bagi produk yang dihasilkan petani.

Kebijakan pembangunan yang mampu meningkatkan efisiensi di subsistem hilir secara langsung berdampak positif pada tingkat harga yang dapat diterima petani. sehingga pada akhirnya juga dapat merangsang pertumbuhan subsistem usatahani.

Selama ini, keterbatasan sumber anggaran yang dimiliki pemerintah menjadikan peningkatan harga produk petani melalui harga dasar menjadi sulit diwujudkan.

Perbaikan efisiensi di subsistem agribisnis hilir menjadi solusi bagi permasalahan harga produk yang rendah di tingkat petani.

Akan tetapi yang harus diupayakan pula adalah nilai tawar petani berhadapan dengan industri hilir dan pedagang distributor tersebut.

Dalam banyak kasus, industri hilir dan pedagang distributor telah terbangun dengan baik, tetapi justru karena itu mereka memiliki daya tawar yang sangat tinggi terhadap petani sehingga harga produk pertanian tertekan sangat rendah.

Persoalan nilai tawar petani ini harus benar-benar diperhatikan mengingat praktik yang selama ini terjadi posisi petani selalu kalah berhadapan dengan pelaku ekonomi di tingkat hilir, baik mereka yang bergerak pada industri pengolahan maupun pedagang sebagai distributor.

Setiap produk pertanian yang sudah sampai pada komsumen akhir, bisa dipastikan bagian pendapatan yang diterima oleh petani adalah yang paling kecil bila dibandingkan dengan pedagang maupun industri pengolahan.

Padahal jika ditelusuri, biaya produksi dan biaya transaksi yang dikeluarkan petani adalah yang terbesar daripada pelaku ekonomi lainnya dalam usahatani.

Dengan pemahaman ini, menjadi penting apabila petani bisa mengorganisir unit usahatani mereka sehingga memiliki bobot yang sepadan dengan pelaku ekonomi lainnya.

Oleh karena itu, tugas pemerintah adalah menyiapkan perangkat hukum yang mengatur pola hubungan antara petani dengan pelaku ekonomi lainnya yang terlibat dalam usahatani. *)

*Dodo Kurniawan (Direktur INDEK NTB)

Related Post

Leave a reply